Grab Berhasil Tumpas Kecurangan di Platform hingga 1 Persen

Oleh Agustin Setyo Wardani pada 13 Mar 2019, 19:15 WIB
Di Balik Kecepatan Penjemputan Grab Si Decacorn di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Pernahkah kamu memesan transportasi online dan menemukan lokasi si driver ternyata berada sangat jauh dari kamu? Jika iya, kemungkinan itu adalah upaya driver nakal menggunakan GPS palsu untuk mendapatkan penumpang.

Nah, hal-hal semacam ini ditumpas oleh pihak Grab dengan sebuah teknologi bernama Grab Defence, yakni sebuah rangkaian teknologi untuk pencegahan dan deteksi tindak kecurangan.

Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata mengatakan, penerapan Grab Defence membuat tingkat fraud di aplikasi Grab bisa dikurangi hingga kurang dari 1 persen.

"(Fraud) Grab ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan lain di industri, kalau kami lihat hasil internal membuktikan bahwa (kecurangan) di Grab di bawah 1 persen, sementara di industri ini (tindak kecurangan) di kompetitor bisa lebih dari 30 persen," tutur Ridzki ditemui usai peluncuran Grab Defence di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Ridzki mengatakan, kecenderungan tindak kecurangan di aplikasi digital memang tinggi disebabkan karena beberapa faktor, mulai dari pelaku hingga kesiapan penyedia platform dalam menghadapi kecurangan.

Oleh karena itu, untuk menindaklanjuti kecurangan di platformnya, Grab memiliki sistem keamanan yang diberi nama Grab Defence.

Sistem ini dapat melakukan deteksi awal secara real-time. Jadi, Grab akan memantau alur pemesanan untuk menangkap tindak kecurangan secara realtime dan memastikan pelanggan tak terkena dampak dari tindakan tersebut.

Selain itu, Grab juga menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Seperti diketahui, penipuan selalu berkembang, oleh sebab itu Grab memanfaatkan algoritma AI dan machine learning.

Kedua teknologi ini dipakai untuk menganalisis data dari berbagai sumber untuk beradaptasi dan menemukan pola kecurangan yang muncul.

Grab juga melakukan validasi manual tiap ada laporan tindak kecurangan. Misalnya, Grab akan memeriksa apakah konsumen menerima panggilan setelah Grab mengambil tindakan.

Khusus untuk kecurangan berupa transaksi palsu, Grab juga mengindentifikasi pengguna. Selain dengan database nomor telepon atau alamat email yang dipakai mendaftarkan akun, Grab juga mengidentifikasi foto selfie atau mendeteksi akun milik pengguna yang mendaftar.

Startup decacorn itu juga mengaku telah menginvestasikan sejumlah dana di bidang sumber daya manusia. Menurut Grab, pihaknya memiliki tim berjumlah 80-100 orang di Indonesia untuk produk, teknik, kebijakan, desain, analitik, dan ilmuwan data yang fokus pada pengembangan solusi pencegahan tindak kecurangan.

Grab
(ki-ka) Head of User Trust Grab Wui Ngiap Foo, Kepala Subdirektorat Penyidikan Kominfo Teguh Arifiadi, dan Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata. (Liputan6.com/ Agustin S. Wardani)
2 of 2

Grab Buka Teknologi Keamanan untuk Partner Bisnis

Sebelumnya, startup decacorn pertama di Asia Tenggara, Grab, membuka teknologi keamanannya yang bernama Grab Defence kepada partner bisnisnya.

Informasi, Grab Defence merupakan teknologi deteksi dan pencegahan kecurangan terbaru untuk mitra Grab.

Dengan Grab Defence, para mitra bisnis Grab dapat memanfaatkan kemampuan data perusahaan yang teruji dalam mengurangi tindak kecurangan, guna memperkuat ekosistem teknologi dan arus transaksi.

Berdasarkan laporan Cybersource SEA Fraud Benchmark 2018, 1,6 persen pendapatan e-commerce di Asia Tenggara hilang akibat tindak kecurangan. Khusus Indonesia, kerugian yang ditimbulkan akibat tindak kecurangan sebesar 3,2 persen.

Head of User Trust Grab, Wui Ngiap Foo, mengatakan, transaksi palsu dan manipulasi yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan di berbagai platform, termasuk ride hailing, memberikan pengaruh besar pada ekonomi digital.

Oleh karenanya, selama beberapa tahun ini Grab berinvestasi besar untuk mengembangkan sistem yang lebih kuat dan didukung machine learning serta kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi dan mencegah kecurangan pada platform Grab.

Hasilnya, menurut penelitian independen Spire Research and Consulting, tingkat penipuan di Grab kurang dari satu persen ketimbang kompetitor.

"Setiap hari, machine learning kami menganalisis jutaan data secara realtime untuk mendeteksi pola kecurangan, baik yang telah ada maupun baru. Tindak kecurangan terus berevolusi, oleh karenanya kami membangun algoritma yang berevolusi dan mempelajari polanya sehingga selangkah lebih maju dari kejahatan pelaku," kata Wui Ngiap Foo di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Menurutnya dengan algoritma yang realtime ini, kecurangan bisa dengan cepat ditindak.

Untuk itulah, Grab membuka teknologi keamanannya ini untuk para partner bisnisnya. "Kami ingin berbagi keahlian yang kami miliki dengan para mitra yang mungkin menghadapi masalah yang sama. Kita harus bahu membahu mengatasi masalah demi sistem teknologi yang lebih kuat di Asia Tenggara," tutur Wui Ngiap Foo.

(Tin/Dam)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

Lanjutkan Membaca ↓