Tak Bergantung Google Maps, Grab Bangun Data Peta Lebih Mumpuni

Oleh Agustinus Mario Damar pada 01 Feb 2019, 15:00 WIB
Diperbarui 02 Feb 2019, 21:13 WIB
Resmi 'Dipoles', Apa yang Baru di Aplikasi Grab?

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu faktor penting dalam layanan ride hailing tak dimungkiri adalah ketersediaan data peta yang akurat. Dengan peta yang akurat, penyedia layanan dapat memberikan informasi waktu tempuh hingga perhitungan biaya yang lebih transparan.

Oleh sebab itu, Grab selaku pelaku penyedia layanan ride hailing menyebut memiliki tim khusus untuk pengembangan peta yang lebih akurat. Hal itu diungkapkan Managing Director Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata.

"Untuk masalah peta, Grab itu sudah berinvestasi sendiri. Google Maps itu memang layer pertama, tapi layer ketiga dan kini layer kedua, kami tidak mau bergantung (pada layanan Google Maps)," tuturnya saat mengunjungi kantor Liputan6.com di Jakarta, Kamis (31/1/2019).

Menurut Ridzki, hal itu dilakukan karena berdasarkan pengalaman di lapangan dengan informasi di peta kerap ditemukan perbedaan informasi. Karenanya, Grab juga memantau arus lalu lintas kendaraan di wilayah tertentu untuk membuat peta yang lebih akurat.

"Contohnya, ternyata ada jalan yang tidak pernah dilalui motor, tapi mobil lewat sini. Atau motor yang khusus motor, ternyata di Google Maps tidak ada. Padahal, sehari-hari ada pergerakan di situ. Berarti ada jalan di situ dan itu kita perbaiki," tuturnya menjelaskan.

Tidak hanya itu, Grab juga secara aktif meminta pendapat dari mitra pengemudi dan penumpang. Sepanjang 2018, menurut Grab, ada sekitar 2 juta vo member yang dapat memberikan informasi, di samping mengandalkan data dari Google Maps.

Upaya lain yang juga dilakukan startup yang berbasis di Singapura ini untuk tiap negara adalah melakukan mapathon. Jadi, Grab mengajak komunitas yang peduli dengan penggunaan (aplikasi) peta untuk menambahkan vo member ke Open Street Maps.

2 of 3

2019, Grab Targetkan Pendapatan Naik 2 Kali Lipat

Grab
Ridzki Kramadibrata, Managing Director Grab Indonesia. Liputan6.com/Jeko I.R.

Grab menutup tahun 2018 dengan mencatatkan pendapatan sekitar US$ 1 miliar. Sama seperti perusahaan lain, Grab juga memiliki target agar pendapatan tersebut naik di tahun depan.

Menurut Co-founder Grab Tan Hooi Ling, pada 2019 Grab menargetkan pendapatan perusahaan naik dua kali lipat dari tahun ini. Dengan kata lain, perusahaan ingin menaikkan pendapatan menjadi US$ 2 miliar.

"Kami sudah mencatatkan pendapatan US$ 1 miliar di 2018 dan akan menggandakannya di tahun depan," tuturnya saat bertemu dengan awak media di Jakarta, Selasa (11/12/2018).

Kendati demikian, Ling tidak merinci lebih lanjut layanan Grab mana yang akan menjadi andalan di tahun depan agar target tersebut dapat terpenuhi. Namun, dia memastikan seluruh layanan Grab hingga sekarang masih terus bertumbuh.

"Kami tidak mengungkap layanan mana yang akan menjadi andalan untuk mencapai target tersebut di masa depan. Akan tetapi, kami menyediakan banyak layanan maupun produk yang seluruhnya masih terus berkembang," ujarnya.

Akan tetapi, terlepas dari layanan mana yang akan jadi andalan, Ling mengakui bahwa tidak mudah bagi sebuah perusahaan untuk dapat meraih pendapatan hingga US$ 1 miliar dalam setahun.

"Perlu diingat, bahwa tidak mudah untuk mencapai US$ 1 miliar, kecuali memiliki platform yang baik dan melayani di banyak area," tuturnya menjelaskan.

Sekadar informasi, Grab saat ini memang menjadi salah satu startup besar yang ada di Asia Tenggara. Laporan Google dan Temasek menyebut status perusahaan sudah meningkat dari unicorn menjadi decacorn.

Untuk diketahui, unicorn merupakan predikat perusahaan rintisan yang memiliki nilai valuasi USS$ 1 miliar, sedangkan decacorn merupakan startup dengan nilai valuasi lebih dari US$ 10 miliar.

3 of 3

Microsoft Suntik Dana Segar ke Grab

Driver Grab Bike Mengaku Bangga Jadi Bagian Kirab Obor Asian Games 2018
Driver Grab Bike Malang

Pada 2018, Grab memang diketahui berhasil mendapatkan pendanaan dari sejumlah perusahaan besar. Terbaru, Grab mendapatkan investasi dari Microsoft. 

Dari laporan, investasi ini juga terdiri dari kesepakatan strategis. Karenanya, Grab tidak sekadar mendapatkan kucuran dana segar, tapi juga kolaborasi layanan.

Salah satu yang disetujui dalam kesepakatan ini adalah penggunaan layanan cloud Microsoft, yakni Azure. Jadi, bersamaan dengan investasi ini, Grab dipastikan akan memakai Azure dalam platform-nya.

Selain menggunakan layanan Azure, Grab juga akan berkerja sama dengan Microsoft untuk menggarap sejumlah proyek software.

Beberapa proyek tersebut adalah layanan penerjemah real-time dan pengenalan wajah untuk membantu penumpang atau mitra pengemudi.

(Dam/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

Lanjutkan Membaca ↓