5 Serangan Siber Paling Merusak di Dunia

Oleh Agustin Setyo Wardani pada 16 Des 2018, 18:02 WIB
Diperbarui 18 Des 2018, 17:13 WIB
Ransomware

Liputan6.com, Jakarta - Di dunia yang serba terhubung dengan internet, serangan siber jadi hal yang tak bisa terelakkan. Serangan siber menjadi hal yang marak terjadi, baik dari jenis dan dampak merusaknya yang beragam.

Salah satu yang terburuk adalah si korban mendapatkan ancaman pembayaran tebusan di layar. Mereka diancam, komputer akan dikunci hingga dilakukan pembayaran atau tebusan.

Ada pula malware yang diam-diam bertindak mencuri data dalam perangkat tanpa ketahuan.

Namun, banyak yang belum tahu bahayanya serangan siber. Padahal serangan ini bisa mengancam berbagai industri dengan kerugian yang fantastis.

Berikut adalah lima serangan siber paling spektakuler yang terjadi di sepanjang sejarah mengutip keterangan resmi dari Kaspersky Lab, Minggu (16/12/2018).

1. WannaCry

Serangan WannaCry membuat ransomware dan malware mulai ditakuti keberadaannya. Selama empat hari, penyebaran WannaCry membuat lebih dari 200 ribu komputer di 150 negara lumpuh.

Korbannya termasuk rumah sakit dan beragam industri. Di sejumlah rumah sakit, WannaCry mengenkripsi keseluruh perangkat, termasuk peralatan medis dan beberapa pabrik terpaksa harus menghentikan produksi.

Kerugian gara-gara ransomware WannaCry sendiri berkisar antara US$ 4-8 miliar.

2 of 5

Paling Merugikan Sepanjang Sejarah

Petya
Ilustrasi Petya. Dok: thehackernews.com

2. NotPetya

Ada yang bilang, serangan siber paling merugikan bukanlah WannaCry, melainkan ExPetr atau yang dikenal juga dengan nama NotPetya.

Prinsip kerjanya sama dengan malware, yakni menggunakan EternalBlue dan EternalRomance yang mengeksploitasi, worm yang bergerak di web kemudian mengekipsi di segala jalurnya.

Meski lebih kecil dalam jumlah yang terinfeksi, NotPetya menjadi epidemi malware yang lebih mahal karena menargetkan sektor bisnis. Kerugiannya diperkirakan mencapai US$ 10 miliar.

Selanjutnya, NotPetya dianggap sebagai serangan siber global paling mahal merugikan dalam sejarah.

3 of 5

WiFi Hotel

Kuba Bisa Akses Internet Lewat Ponsel
Seorang wanita menggunakan ponselnya untuk terhubung ke internet melalui WiFi di Havana, Rabu (5/12).Hampir setengah dari 11,2 juta penduduk Kuba memiliki ponsel, namun tidak semua akan mampu membeli paket internet ponsel. (YAMIL LAGE/AFP)

3. DarkHotel

Bukan rahasia lagi, WiFi publik seperti di bandara ataupun kafe bukanlah jaringan yang aman. Masih banyak yang percaya bahwa WiFi hotel jauh lebih aman ketimbang WiFi di bandara karena diperlukan otorisasi untuk mengaksesnya.

Namun, kesalahpahaman ini sudah merugikan karyawan berbagai perusahaan. Pasalnya saat para karyawan terhubung di jaringan hotel, mereka diminta menginstal pembaruan yang terlihat sah pada perangkat lunak mereka.

Kemudian, perangkat langsung terinfeksi dengan spyware DarkHotel yang secara khusus dilakukan oleh penyerang ke jaringan, beberapa hari sebelum kedatangan pengguna atau tamu hotel.

Selanjutnya, spyware itu mencatat keystroke yang memungkinkan pelaku melakukan serangan siber ke pengguna yang ditargetkan.

4 of 5

Serangan ke Fasilitas Nuklir Iran

Hacker
Kawasan Asia Tenggara mulai menjadi pemain ekonomi skala besar sehingga memicu para hacker untuk melakukan penyerangan siber. (Doc: iStockphoto)

4. Stuxnet

Malware paling terkenal dalam serangan kompleks dan multiaset yang menonaktifkan pengayaan uranium di Iran nyatanya telah memperlambat program nuklir negara tersebut selama beberapa tahun.

Malware tersebut adalah Stuxnet. Malware ini paling pertama dibicarakan terkait penggunaan senjata siber terhadap sistem industri.

Saat itu tak ada yang bisa menandingi Stuxnet yang bisa menyebarkan worm tersembunyi melalui perangkat USB. Tidak hanya itu, malware jenis ini juga menembus komputer yang tak terhubung ke internet atau jaringan lokal.

5 of 5

Mirai Botnet

Cyber Crime Skimming
Indonesia menjadi salah satu negara yang rentan serangan kejahatan siber (Liputan6.com/Balgoraszky Arstide Marbun)

5. Mirai

Keberadaan botnet telah terpantau sejak lama, namun perkembangan Internet of Things memberikan kehidupan baru bagi botnet.

Perangkat yang sebelumnya tak pernah diperhatikan keamananannya dan belum terpasang antivirus pun bisa terinfeksi dalam skala besar.

Perangkat ini juga melacak perangkat lainnya dari jenis yang sama, kemudian menyebarkan penularan.

Botnet ini dibangun di atas sebuah malware bernama Mirai yang terus tumbuh penyebarannya.

Kemudian, pada 21 Oktober 2016, pemilik botnet raksasa menguji kemampuan Mirai dengan memerintahkan jutaan perekam video digital dan router, kamera IP, dan peralatan lainnya membanjiri penyedia layanan DNS Dyn.

Dyn pun tak bisa menahan serangan DDoS yang begitu besar, sehingga layanannya tak bisa berjalan. Akibatnya layanan seperti PayPal, Twitter, Netflix, Spotify, dan layanan online PlayStation terkena dampaknya.

Dyn akhirnya bisa pulih, namun serangan Mirai yang besar sangat masif dampaknya. Serangan Mirai dimulai dengan serangan pada jutaan perangkat pintar kecil seperti web cam hingga mesin cuci dan akhirnya merambah jadi the fall of the internet.

(Tin/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓