Duh, Hobi Ngedumel di Twitter Berisiko Kena Serangan Jantung

Oleh Jeko I. R. pada 31 Agu 2018, 15:00 WIB
Diperbarui 02 Sep 2018, 14:13 WIB
Twitter

Liputan6.com, Pennsylvania - Kini, media sosial Twitter tak cuma digunakan untuk berbagi curahan hati (curhat) atau foto selfie saja.

Media sosial microblogging berlogo burung biru itu, ternyata juga bisa dimanfaatkan untuk mengidentifikasikan tingkat resiko serangan jantung seorang pengguna. 

Pemanfaatan fungsi Twitter yang tidak biasa ini pertama kali dilakukan oleh tim peneliti dari University of Pennsylvania.

Menurut mereka, pengguna Twitter yang kerap mengekspresikan emosi negatif seperti marah, stres, keluhan dan kelelahan melalui cuitan sangat berisiko terkena serangan jantung.

Dan sebaliknya, seorang pengguna yang lebih sering mengungkapkan emosi positif melalui kicauan mereka diklaim memiliki resiko yang sangat rendah terkena serangan jantung.

"Dengan miliaran pengguna aktif setiap harinya tentang pengalaman yang mereka alami, pikiran dan perasaan, dunia media sosial dapat dijadikan tolak ukur baru bagi penelitian psikologis," papar salah satu tim peneliti seperti yang dikutip dari laman Business Insider, Jumat (31/8/2018).

"Data yang berasal dari media sosial ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan kesehatan masyarakat yang sangat berharga di dunia nyata," lanjutnya.

Lebih lanjut dijelaskan, tim peneliti dari University of Pennsylvania mencatat bahwa korelasi antara bahasa dan kematian secara mengejutkan sangatlah erat.

Berbagai bahasa emosional negatif seperti kata-kata yang mewakili 'kebencian' dan kata-kata kasar mampu memicu penyakit pada jantung.

Bahayanya, risiko tinggi serangan jantung tidak saja menimpa orang-orang yang kerap marah-marah di Twitter.

Para pembaca cuitan yang dipenuhi dengan bahasa emosional negatif juga beresiko memiliki potensi yang sama.

Jadi intinya, berhatilah-hatilah dalam berkicau di Twitter dan pilih akun yang tepat untuk kamu ikuti (follow).

 

2 dari 3 halaman

Twitter Berbenah, Pengguna Kini Bisa Berkicau 280 Karakter

Twitter
Ilustrasi Twitter (iStockPhoto)

Twitter akhirnya resmi menambah batasan karakter yang dapat ditulis pengguna di platform-nya. Situs microblogging itu kini memungkinkan pengguna untuk menulis kicauan hingga 280 karakter.

Sebelumnya, fitur ini sudah lebih dulu diuji coba pada September 2017. Ketika itu, Twitter baru menggulirkan kemampuan anyar ini pada beberapa pengguna saja.

Dikutip dari Tech Crunch, Rabu (8/11/2017), fitur ini akan meluncur secara bertahap untuk seluruh pengguna dan mendukung hampir seluruh bahasa, kecuali Jepang, Korea, dan Mandarin.

Alasannya, satu karakter dalam tiga bahasa tersebut dianggap sudah mencakup banyak informasi. Sementara, bahasa lain membutuhkan karakter lebih panjang untuk menyampaikan sesuatu hal. 

Keputusan untuk memperbarui kemampuan ini tak lepas dari kebiasaan para penguna. Menurut Twitter, banyak pengguna yang berkicau dalam bahasa seadanya karena batasan karakter yang ada di layanan tersebut.

"Penelitian kami menunjukkan kurangnya batas karakter membuat orang yang berkicau dalam bahasa seadanya," ujar Product Manager Twitter, Aliza Rosen beberapa waktu lalu.

Untuk itu, penambahan ini diharapkan dapat memudahkan pengguna untuk berkicau. CEO Twitter, Jack Dorsey juga menyuarakan rasa gembiranya terhadap penambahan batas kicauan di Twitter.

Menurutnya, perubahan kecil ini adalah langkah besar dan mengapresiasi timnya dalam menyelesaikan masalah di Twitter.

 

3 dari 3 halaman

Menyulut Kontroversi

Twitter
Ilustrasi Twitter (iStockPhoto)

Kendati demikian, keputusan ini ternyata menuai kontroversi dari sejumlah pengguna. Mereka beralasan, pembatasan karakter merupakan merupakan ciri khas Twitter sehingga pengguna perlu memutar otak untuk membuat kicauan yang baik.

Tak hanya itu, banyak juga yang berpendapat penambahan jumlah kicauan menjadi 280 karakter membuat Twitter kian sulit dibaca. Sebab, tweet yang diunggah akan tampil lebih panjang dari biasanya.

Di sisi lain, ada pula yang meminta Twitter lebih fokus pada fitur yang diminta oleh pengguna. Salah satunya adalah mengatasi kicauan yang bernada pelecahan, intimidasi, atau perundungan.

Banyak pula yang menyebut karakter yang lebih panjang tak benar-benar menjadikan seseorang mengekspresikan dirinya dengan lebih baik. Mereka sebenarnya berbicara tentang hal yang sama, tapi memakai kata lebih banyak.

Seorang warganet bahkan sempat membuat guyonan dari kicauan CEO Twitter Jack Dorsey dengan 280 karakter. Jadi, ia menyunting kicauan tersebut hingga menjadi 140 karakter--seperti batasan Twitter sebelumnya--tanpa kehilangan arti tweet itu sendiri.

(Jek/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓