Google Bongkar Masalah Fortnite di Android, Bos Epic Games Naik Pitam

Oleh Agustinus Mario Damar pada 29 Agu 2018, 10:00 WIB
Diperbarui 31 Agu 2018, 09:13 WIB
Fortnite

Liputan6.com, Jakarta - Keputusan Google untuk mengumumkan keberadaan celah keamanan di Fornite versi Android mengundang reaksi dari Epic Games selaku pengembang. CEO Epic Games Tim Sweeney menyebut langkah raksasa internet itu tidak bertanggung jawab.

Kekesalan Sweeney itu dituangkan dalam sebuah kicauan di Twitter beberapa waktu lalu. Dikutip dari Phone Arena, Rabu (29/8/2018), keputusan Google ini tidak lebih sebagai bentuk perusakan citra.

"Kami sudah meminta Google untuk menunda pengumumuman (soal celah keamanan) hingga pembaruan dirilis ke banyak perangkat. Mereka menolaknya, dan menciptakan risiko yang tidak perlu bagi pengguna Android terancam sekaligus menciptakan citra buruk," tulis Sweeney.

Google sendiri menolak berkomentar mengenai tanggapan bos Epic Games tersebut. Terlepas dari kekesalan Sweeney, Google memang dianggap terlalu terburu-buru mengungkap celah keamanan di Fortnite .

Awalnya, pada 15 Agustus Google memberitahukan ke pengembang ada celah keamanan di Fortnite. Dua hari setelahnya, Epic berjanji akan mengatasi hal tersebut dan meminta waktu 90 hari sebelum temuan itu diungkap.

Epic berasalah pihaknya ingin memastikan pembaruan tersebut sudah diperoleh seluruh pengguna. Namun, Google ternyata menolak permintaan itu. 

Terlepas dari perselisihan, Epic Games menyebutkan saat ini pengembang gim sudah menambal celah keamanan di Fortnite hanya dalam waktu kurang dari sehari.

Sebelumnya, Google juga sempat menyebutkan, celah keamanan sebenarnya dapat dideteksi dan dihindari apabila gim tersebut dirilis via Play Store.

2 dari 3 halaman

Fortnite Berlaga di Android Tanpa Jalur Play Store

Fortnite
Pengguna Nintendo Switch sudah bisa download Fortnite. Liputan6.com/ Yuslianson

Meski masih dalam versi beta, Fortnite sendiri kini sudah resmi melenggang di Android. Namun, Epic Games memutuskan untuk memasarkan gim itu tidak melalui Play Store dan memilih caranya sendiri. 

Nantinya, pengguna tinggal mengunduh program installer Fortnite untuk memasang gim di perangkat yang kompatibel.

Keputusan ini, menurut CEO Epic Games Tim Sweeney, tidak lepas dari upaya perusahaannya untuk berhubungan langsung dengan pemain.

Sekadar informasi, Fortnite untuk PC juga rilis lewat Epic Games Launcher, alih-alih memanfaatkan platform Steam yang lebih populer.

Sementara untuk iOS, langkah semacam ini terbilang sulit, mengingat Apple tidak mengizinkan pengguna mengunduh aplikasi yang tidak diverifikasi dan didistribusikan lewat toko aplikasi resmi.

"Epic menginginkan hubungan langsung dengan pengguna di seluruh platform yang memungkinkan. Hal ini dimungkinkan dengan adanya internet," tutur Sweeney.

Alasan lain yang membuat Epic tidak merilis Fortnite di Play Store adalah alasan finansial. Epic tidak ingin membayar biaya toko aplikasi sebesar 30 persen ke Google.

"Untuk platform seluler, 30 persen tidak proporsional dengan biaya layanan yang dilakukan toko, seperti pemrosesan pembayaran, bandwidth unduhan, dan layanan pelanggan," ujar Sweeney.

3 dari 3 halaman

Keamanan Bukan Masalah

Fortnite
Rilis Awal 2018, Fortnite Versi iOS Sudah Meraup Untung Rp 1,4 Triliun. (Doc: Ubergizmo)

Cara ini memang disebut-sebut melangkahi Google selaku pengembang Android. Alasannya, perusahaan itu kini tengah mengkampanyekan untuk mengunduh aplikasi dan gim terpercaya yang berasal dari Play Store.

Google sendiri bukannya tanpa alasa melakukan hal tersebut, mengingat gim dan aplikasi di luar Play Store kerap disusupi oleh malware yang membuat ekosistem Android menjadi berbahaya.

Menyoal hal tersebut, Sweeney menuturkan, keamanan bukan masalah besar dalam hal ini. Ia menuturkan, gamer telah terbukti mampu memilih mengadopsi software yang aman.

"Gamer terbukti mampu mengadopsi software yang aman, terlebih cara semacam ini sudah berkembang di platform PC melalui beragam sumber terbuka," ucapnya. Karenanya, dia yakin Fortnitedi Android tetap sukses.

Lebih lanjut dia menuturkan, sistem operasi mobile sebenarnya memungkinkan pengguna untuk memilih akses yang diizinkan sebuah aplikasi. Dengan cara itu, pengguna dapat menentukan sendiri izin yang diberikannya.

(Dam/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓