Usai Skandal Berbagi Data, Facebook Setop Kerja Sama dengan Huawei

Oleh Agustinus Mario Damar pada 07 Jun 2018, 18:48 WIB
Diperbarui 07 Jun 2018, 18:48 WIB
Ilustrasi Facebook
Perbesar
Ilustrasi Facebook (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta - Menyusul pengakuan Facebook yang telah bekerja sama dengan vendor smartphone Tiongkok, Huawei. Raksasa media sosial itu akhirnya mengumumkan akan mengakhiri hubungan kerja sama dengan Huawei pada akhir pekan ini.

Sekadar informasi, awal pekan ini, Facebook mengaku bahwa sejumlah perusahaan Tiongkok, seperti Huawei, Lenovo, Oppo, dan TCL mendapat akses ke data penggunanya. Ada 60 perusahaan--termasuk Apple--yang disebut mendapat akses ke data pengguna Facebook.

Dikutip dari ABC News, Kamis (7/6/2018), Huawei sendiri telah membantah telah mengumpulkan dan menyimpan data pengguna raksasa media sosial itu. Juru bicara Huawei Joe Kelly menyebut pertemuan yang dilakukan dengan Facebook hanya membahas soal layanan. 

Sekadar diketahui, akses data yang diberikan Facebook pada perusahaan merupakan bagian dari upaya untuk menghadirkan pengalaman penggunaan yang lebih baik. Jadi, semua perusahaan yang bekerja sama sudah menandatangani kontrak terlebih dulu.

Sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat pun langsung meningkatkan perhatian terhadap hal ini. Mereka menganggap, data milik teman pengguna bisa jadi telah diakses tanpa sepengetahuan si pemilik data.

Facebook pun membantah hal ini dan berkilah, akses data diberikan agar memungkinkan pengguna mengakses fitur-fitur Facebook melalui smartphone. Lebih lanjut perusahaan menuturkan kemitraan dengan vendor smartphone ini sebenarnya telah selesai.

Usai pengakuan ini perusahaan telekomunikasi Tiongkok juga mendapatkan sorotan dari pejabat inteligen AS. Para pejabat berpendapat, Facebook telah memberikan kesempatan bagi mata-mata asing untuk mengancam keamanan AS.

Senator Mark Warner, Wakil Kepala Intelligence Committee turut mempertanyakan keputusan Facebook yang berbagi data pengguna ke Huawei. Perusahaan Tiongkok itu kini memang menjadi perhatian sebab dianggap mengancam keamanan negara.

2 dari 3 halaman

Jadi Perhatian Kongres

Mark Zuckerberg
Perbesar
CEO Facebook Mark Zuckerberg (AP Photo/Jacquelyn Martin)

"Berita yang menyebut Facebook menyediakan hak khusus API ke vendor smartphone seperti Huawei dan TCL meningkatkan perhatian kami. Saya ingin mengetahui lebih lanjut cara Facebook memastikan data pengguna tidak jatuh ke server Tiongkok," kata Warner.

Salah satu pejabat Facebook mengatakan, perusahaan sangat berhati-hati memberikan akses data ke perusahaan Tiongkok.

"Facebook bersama perusahaan teknologi lainnya telah bekerja dengan mereka dan perusahaan Tiongkok lainnya untuk mengintegrasikan layanan ke perangkat telepon," kata Vice President Mobile Partnership Facebook Francisco Varela.

"Integrasi API Facebook dengan Huawei, Lenovo, Oppo, dan TCL dikontrol dari awal dan kami menyetujui pengalaman Facebook yang dibangun oleh perusahaan-perusahaan ini," tutur Varela.

Dia juga menekankan kepada Kongres, integrasi informasi Facebook dengan Huawei tersimpan dalam perangkat, bukan di server milik Huawei.

3 dari 3 halaman

Minta Penjelasan dari Mark Zuckerberg

Bos Facebook Mark Zuckerberg Hadapi Sidang Parlemen Eropa
Perbesar
CEO Facebook Mark Zuckerberg memberi keterangan di markas Parlemen Eropa di Brussel, Belgia, Selasa (22/5). Zuckerberg memberi keterangan terkait skandal kebocoran data Facebook. (EBS/AFP)

Senate Commerce Committee atau Komite yang menangani masalah perniagaan meminta agar CEO Facebook Mark Zuckerberg merespons hal ini.

Komite ingin Zuck yang memberikan laporan langsung apakah data pengguna telah dibagikan pada 60 vendor smartphone.

Apalagi, baru beberapa minggu setelah bos jejaring sosial tersebut berjanji akan mengubah praktiknya setelah perusahaan politik mendapatkan akses ke data jutaan pengguna.

Kendati demikian, hal ini dibantah oleh VP Product Partnership Facebook Ime Archibong. Dia menuturkan kasus perjanjian kerja sama terkait data yang melibatkan Facebook dan vendor smartphone tidak sama dengan kasus penyalahgunaan data oleh pihak ketiga, dalam hal ini Cambridge Analytica.

(Dam/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

Lanjutkan Membaca ↓