Picu Pemanasan Global, AS Setop Penelitian Gas Rumah Kaca

Oleh Liputan6.com pada 15 Mei 2018, 09:30 WIB
Diperbarui 17 Mei 2018, 09:13 WIB
Pegunungan Es Antartika

Liputan6.com, California - Pemerintah Amerika Serikat diam-diam telah menghapus program Badan Antariksa Amerika (NASA) untuk melacak karbon dan metana serta efek gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global.

Jurnal Science mengatakan, Sistem Pemantauan Karbon NASA (CMS) adalah program yang melacak timbul dan tenggelamnya sumber karbon dan membuat model resolusi tinggi dari aliran karbon di planet.

"Sekarang, pemerintahan Presiden Donald Trump diam-diam telah membunuh CMS," katanya, dikutip dari Channel News Asia, Selasa (15/5/2018).

Jurnal itu menulis, langkah itu sebagai sebuah serangan terhadap ilmu pengetahuan, terutama ilmu iklim. NASA sejauh ini menolak untuk memberikan alasan mengenai pembatalan program senilai USD 10 juta per tahun itu.

Juru Bicara NASA, Steve Cole mengatakan, tidak disebutkan CMS dalam kesepakatan anggaran yang ditandatangani Maret lalu.

Menurut Cole, Trump mengusulkan pemotongan proyek CMS dan empat misi ilmu bumi tahun lalu. Bantuan dana penelitian itu akan selesai.

Trump telah membatalkan misi ilmu bumi lain, seperti Orbiting Carbon Observatory 3 (OCO-3) dan mengumumkan penarikan AS dari kesepakatan iklim Paris tahun 2015.

Menurut Direktur Tufts University Center for International Environment and Resource Policy di Medford, Massachusetts, Kelly Sims Gallagher, pemotongan CMS membahayakan upaya untuk memverifikasi pengurangan emisi nasional yang disepakati dalam kesepakatan iklim Paris.

"Jika Anda tidak dapat mengukur pengurangan emisi, Anda tidak dapat yakin bahwa negara-negara mematuhi perjanjian," katanya dalam jurnal tersebut.

 

2 of 2

Bumi Bisa Sepanas Venus?

Pegunungan Es Antartika
Pandangan udara kondisi pegunungan es di Semenanjung Antartika (3/11). Berbagai riset mengatakan fenomena ini disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti emisi dari gas rumah kaca. (Mario Tama/Getty Images/AFP)

Sebelumnya, fisikawan kenamaan asal Inggris, Stephen Hawking, kembali memperingatkan kondisi Bumi yang terus memburuk akibat pemanasan global. Ia pun menyebut Bumi dapat berakhir seperti Venus, planet tetangga yang suhunya sangat tinggi.

Dikutip dari Daily Mail, Kamis (25/1/2018), Hawking menyebut jika manusia tak menghentikan efek rumah kaca dari gas emisi, suatu hari Bumi dapat memiliki suhu sangat tinggi hingga 460 derajat Celsius, seperti kondisi iklim Venus saat ini.

Prediksi tersebut ia ungkapkan saat mengisi serial TV berjudul Favourite Places. Siaran dapat disaksikan secara global melalui situs CuriosityStream.

Hawking bukan tanpa alasan menyebut Bumi bisa menjadi Venus kedua. Berdasarkan data NASA, Venus memang memiliki kondisi yang serupa dengan Bumi sekitar 4 miliar tahun lalu.

Saat itu, Venus memiliki air di permukaannya dan memiliki suhu yang bersahabat seperti Bumi. NASA menyebut planet kuning itu mampu menampung kehidupan sekitar 2 miliar tahun.

Namun, efek rumah kaca yang berlangsung di Venus membuat air di permukaan planet menjadi kering dan menjadikannya sangat panas. Di planet ini, angin bahkan bisa bertiup sangat kencang hingga 300 km/jam.

Venus, menurut Hawking, menjadi contoh bahwa dapat terjadi sesuatu di Bumi ketika efek rumah kaca di atmosfer mencapai tingkat ekstrem.

"Lain kali, saat bertemu dengan orang yang tak mempercayai perubahan iklim, ajak mereka untuk mengunjungi Venus. Saya yang akan membayar perjalanannya," tandasnya.

Ini bukan kali pertama Hawking menyebut perubahan iklim dapat mengancam kehidupan Bumi.

Ia bahkan tak segan menyebut Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebagai penyebab kehancuran Bumi karena menolak kesepakatan Paris mengenai perubahan iklim tahun lalu.

Reporter: Farah Fuadona

Sumber: Merdeka.com

(Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by