Infrastruktur Internet di Indonesia Masih Terguncang Perizinan

Oleh Liputan6.com pada 04 Mei 2018, 20:00 WIB
Diperbarui 06 Mei 2018, 19:13 WIB
Ilustrasi internet (iStockphoto via Google Images)

Liputan6.com, Jakarta - Pembangunan infrastruktur internet masih ternyata masih diperhatikan para pegiat teknologi informasi. Hanya saja, kendala klasik masih menjadi hambatan mereka. Salah satu kendalanya adalah soal perizinan untuk menggelar fiber optic.

Hal itu disampaikan oleh Irwin Day selaku Sekjen Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII).

Menurutnya, merujuk pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 96 tahun 2014 tentang Rencana Pita Lebar Indonesia 2014-2019 ada sejumlah target yang dicanangkan, termasuk penggelaran infrastruktur.

Namun, jika kondisi di lapangan seperti perizinan belum dimudahkan, target tersebut akan sulit terpenuhi.

"Banyak kendala macam-macam, misalnya penggalian butuh izin yang di setiap kota berbeda kebijakannya. Itu lumayan menghambat. Seharusnya urusan yang seperti ini pemerintah pusat turun tangan standarnya izinnya. Jangan di atas dapat izin, tapi di bawah dilepas," kata Irwin ketika ditemui saat acara diskusi yang digelar Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) di Jakarta, Kamis (3/5/2018).

"Gimana mau dibangun cepat. Intinya gini, enggak ada internet kalau infrastrukturnya belum siap. Jadi kalau yang pertama kita ingin bicara internet itu adalah bangun infrastruktur dulu," tambahnya.

Kendati begitu, ia mengapresiasi adanya pembangunan Palapa Ring. Hanya saja, konsep Palapa Ring itu adalah cincin fiber optic di mana itu adalah sebagai backbone.

Secara teknis, Palapa Ring hanya di ujung, sementara butuh penghubung untuk mendistribusikan internet ke rumah-rumah. Hal inilah yang dikerjakan oleh swasta.

"Ini mestinya diregulasilah untuk mempermudahkan teman-teman penyelenggara jaringan. Kalau mau cepat, caranya ya dimudahkan kalau perlu difasilitasi. Misalnya izin sudah disiapkan," jelas Irwin.

Irwin mengakui jika hal ini telah dikomunikasikan terus menerus ke pemerintah. Namun untuk lebih cepat pembangunan infrastruktur terjadi, hal tersebut harus didorong. Tujuannya agar pembangunan infrastruktur bisa lebih cepat.

"Namanya pemerintah kan banyak konsentrasi. Makanya kita dorong terus," terangnya.

2 of 3

Pengguna Internet Melonjak, Kemkominfo Ngebut Pembangunan Broadband

Bersama Satukan Nusantara dengan Infrastruktur Broadband
Telkom menargetkan 20 juta rumah terkoneksi ke jaringan broadband berbasis fiber optic atau FTTH (Fiber To The Home) pada akhir tahun 2020.

APJII baru saja mengumumkan jumlah pengguna internet pada 2017. Diketahui, pengguna internet di sepanjang 2017 telah mencapai 143,26 juta atau setara dengan 54,68 persen dari total jumlah penduduk di Indonesia. 

Melihat peningkatan yang memuaskan ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) mengaku akan memanfaatkan data hasil survei APJII untuk mengejar target pemerataan jaringan broadband internet. Karenanya, pihak Kemkominfo akan mengebut pembangunan broadband.

"Percepatan pembangunan broadband akan terus dilakukan” tutur Semuel Abrijani Pangerapan, Dirjen Aptika Kemkominfo, dalam keterangan resmi yang diterima Tekno Liputan6.com pada Rabu (21/2/2018).

Pria yang karib disapa Semmy ini mengatakan, jumlah pengguna internet diprediksi akan semakin meningkat. Salah satu faktor penyebabnya adalah ketersediaan internet di Indonesia yang kian merata karena pembangunan Palapa Ring yang segera rampung.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal APJII Henry Kasyfi Soemartono mengatakan, kenaikan yang terjadi akibat pembangunan infrastruktur niscaya semakin mempermudah masyarakat mengakses layanan internet.

Henri berharap, data hasil survei jumlah pengguna internet dari APJII, dapat digunakan untuk gambaran para pihak yang membutuhkan.

3 of 3

Pengguna Internet di Indonesia

Internet
Ilustrasi pengguna internet. ozoneparis.net

Untuk jumlah pengguna internet berdasarkan usia, didominasi oleh kisaran usia 19 hingga 34 tahun. Survei mencatat ada sekitar 49,52 persen responden, dan disusul oleh usia 35 hingga 54 tahun dengan persentase 29,55 persen.

Persentase ini sedikit berbeda jika dibandingkan survei pada 2016. Dalam survei tersebut, pengguna internet di Indonesia lebih didominasi pengguna dalam rentang usia di 35 hingga 44 tahun. Sementara persentase pengguna internet di rentang usia 19 hingga 34 tahun hanya 24,4 persen.

Adapun penetrasi pengguna internet di Indonesia lebih banyak berada di rentang usia 13 hingga 18 tahun, dengan persentase 75,50 persen. Rentang usia 19 hingga 34 tahun berada di posisi kedua dengan persentase 74,23 persen.

"Untuk komposisi pengguna berdasarkan jenis kelamin, laki-laki masih lebih banyak ketimbang perempuan. Jadi, persentase laki-laki adalah 51,43 persen, sedangkan perempuan 48,57 persen," ujar Henry.

Hasil survei ini juga mencatat semakin tinggi tingkat pendidikan terakhir seseorang, penetrasi terhadap internet pun semakin tinggi. Survei mencatat, responden dengan pendidikan S2 atau S3 memiliki penetrasi hingga 88,24 persen.

Reporter: Fauzan Jamaludin

Sumber: Merdeka.com

(Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by