Inilah 4 Ilmuwan Indonesia dengan Penemuan Sains Fenomenal

Oleh Liputan6.com pada 26 Apr 2018, 19:30 WIB
Diperbarui 28 Apr 2018, 19:13 WIB
Indonesia Science Expo 2017

Liputan6.com, Jakarta - Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia tak kalah dengan negara lain. Banyak orang-orang hebat asal Indonesia mampu menciptakan atau menemukan produk yang belum pernah ada di negara-negara dunia.

Dengan demikian, temuan-temuannya tersebut bisa tembus ke pasar internasional. Berikut adalah empat ilmuwan Indonesia yang menciptakan produk spektakuler. 

2 of 5

1. Sedyatmo

[Bintang] Penemu Pondasi Cakar Ayam
Prof. Dr. Ir. Sedyatmo, penemu pondasi Cakar Ayam. | Sumber Foto: birohukum.pu.go.id

Sedyatmo dikenal karena menemukan "Konstruksi Cakar Ayam" pada 1962.

Temuan Sedyatmo awalnya digunakan dalam pembuatan apron Pelabuhan Udara Angkatan Laut Juanda, Surabaya, landasan bandara Polonia, Medan dan landasan Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Fondasi yang dibuatnya mampu mengurangi hingga 75 persen tekanan pada permukaan tanah di bawahnya dibandingkan dengan fondasi biasa.

Hasil temuannya tersebut telah dipatenkan dan dipakai di luar negeri, seperti Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Belgia, Kanada, Amerika Serikat, hingga Belanda.

Nama Sedyatmo kemudian diabadikan sebagai nama jalan bebas hambatan dari Jakarta menuju Bandara Soekarno-Hatta. Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra Kelas I kepada Sedyatmo atas jasa-jasanya.

3 of 5

2. Warsito Purwo Taruno

Klinik Riset Kanker Warsito Tutup, 70 Persen Karyawan di PHK
Per 25 Januari 2016, sekitar 70 persen karyawan klinik riset kanker milik Warsito kena PHK.

Warsito Purwo Taruno merupakan pencipta teknologi Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT). Pada 2004, prototipe ECVT lahir.

Meski masih prototipe, temuannya segera menjadi incaran sejumlah perusahaan minyak terkemuka di Amerika Serikat dan lembaga antariksa NASA. Sebab, teknologi temuan Warsito mengungguli kemampuan CT scan dan MRI.

Teknologi pemindai 4D pertama di dunia itu kemudian dipatenkan Warsito di Amerika Serikat pada lembaga paten internasional PTO/WO.

Dalam pengembangannya, teknologi ECVT sudah diakui bahkan dipakai lembaga antariksa Amerika (NASA), Exxon Mobil, BP Oil, Shell, ConocoPhillips, Dow Chemical, Mitsubishi Kimia, termasuk Departemen Energi AS (Morgantown National Laboratory).

Sementara di Indonesia sendiri, teknologi ini digunakan untuk pemindaian tabung gas bertekanan tinggi, seperti kendaraan berbahan bakar gas Bus Transjakarta.

4 of 5

3. Yogi Ahmad Erlangga

[Bintang] Yogi Ahmad Erlangga, Warga Tasikmalaya yang pecahkan rumus matematika paling rumit sedunia
Yogi Ahmad Erlangga, Warga Tasikmalaya yang pecahkan rumus matematika paling rumit sedunia | Via: kaskus.co.id

Yogi Ahmad Erlangga adalah seorang ilmuwan muda Indonesia peraih gelar doktor dari Universitas Teknologi Delft, Belanda. Gelar ini diraihnya pada usia 31 tahun.

Pada Desember 2001, Yogi mengajukan diri untuk melakukan riset terhadap Persamaan Helmholtz kepada Universitas Teknologi Delft.

Yogi berhasil menemukan solusi atas Persamaan Helmholtz pada Desember 2005. Metode baru yang ditemukannya untuk menyelesaikan Persamaan Helmholtz membuat banyak perusahaan minyak dunia bergembira.

Sebab, dengan metode temuan Yogi, perusahaan minyak dapat lebih cepat dalam menemukan sumber minyak di perut bumi. Rumus ini juga bisa diaplikasikan di industri radar, penerbangan, dan kapal selam.

Selain itu, Persamaan Helmholtz juga diterapkan pada teknologi Blu-Ray, yang membuat keping Blu-Ray bisa memuat data dalam jumlah yang jauh lebih besar. 

5 of 5

4. Khoirul Anwar

[Bintang] HUT RI ke-71: Inspirasi dari 17 Pria Indonesia
Dr. Eng. Khoirul Anwar. (Foto:blogspot.com)

Khoirul Anwar dikenal sebagai pemilik paten teknologi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing).

OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) merupakan teknik modulasi untuk komunikasi wireless broadband yang tahan melawan frekuensi selective fading dan interferensi narrowband dan efisien menghadapi multi-path delay spread.

OFDM juga bisa diterapkan Indonesia, terlebih di kota besar yang punya banyak gedung pencakar langit atau daerah pegunungan.

Sebab, di daerah tersebut biasanya gelombang yang ditransmisikan mengalami pantulan dan delay lebih panjang.

Temuan ini mendapat penghargaan Best Paper untuk kategori Young Scientist pada Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC) 2010-Spring yang digelar 16-19 Mei 2010, di Taiwan.

Temuan tersebut juga telah dipatenkan tahun 2010 dan kemungkinan besar dipakai untuk teknologi masa depan yang harus tetap optimal karena tantangan sinkronisasi (karena banyaknya perangkat yang saling terhubung).

Reporter: Desi Aditia Ningrum

Sumber: Merdeka.com

(Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by