Hadirkan Konten Seksis lewat Iklan, Perusahaan Teknologi Tiongkok Dikecam

Oleh Tommy Kurnia pada 25 Apr 2018, 13:30 WIB
Diperbarui 27 Apr 2018, 13:13 WIB
Iklan Alibaba Dianggap Seksis

Liputan6.com, Jakarta - Bila dulu dunia otomotif sering dipandang menghadirkan seksisme lewat iklan-iklan mereka, justru sekarang perusahaan teknologi malah mengikuti langkah tersebut.

Dilansir Bloomberg, Rabu (25/4/2018), Human Rights Watch (HRW) dalam laporannya menyebut perusahaan teknologi Tiongkok seperti Alibaba, Baidu, dan Tencent ternyata secara rutin menghadirkan iklan yang mengobjektifikasi perempuan, padahal hal tersebut tidak dibolehkan secara hukum.

"Pihak berwajib di Tiongkok jarang menegakkan larangan hukum terhadap diskriminasi dalam ketenagakerjaan dan di periklanan," tulis HRW dalam laporannya.

Ada sejumlah jenis iklan yang seksis, pertama adalah konten seksis pada iklan mencari pekerjaan.

Contohnya, di iklan Alibaba muncul wanita-wanita cantik yang mengaku menyukai pria di bidang teknologi untuk menggaet pegawai baru.

"Inilah para dewi di hati karyawan Alibaba. Mereka ingin bekerja bersamamu. Apa kamu juga mau?" tulis sebuah iklan yang menampilkan foto wanita-wanita bergaya sensual.

Jenis iklan lainnya yang dituding seksis adalah yang mengutamakan laki-laki, seperti yang dilakukan Baidu.

Ada juga Tencent yang menampilkan iklan berisi adanya wanita cantik yang bekerja di perusahaan mereka, sehingga karyawannya merasa gembira.

Tidak hanya di perusahaan teknologi, HRW mencatat fenomena iklan kerja seksis serupa terjadi di sektor pemerintahan, serta muncul di iklan-iklan bergaji tinggi dan posisi prestisius, sehingga kesan meremehkan kapasitas pekerja perempuan menjadi semakin kuat.

2 dari 3 halaman

Klarifikasi dan Minta Maaf

Ilustrasi Alibaba
Ilustrasi: Alibaba (Sumber: Ubergizmo)

Pasca tersebarnya laporan HRW, para perusahaan teknologi pun langsung memberikan klarifikasi dan permintaan maaf. Tencent menjelaskan perusahaan mereka menyesal telah menampilkan iklan yang seksis.

"Kami menyesal hal serupa pernah terjadi dan kami mengambil tindakan cepat untuk memastikan hal tersebut tidak terjadi lagi. Tencent menghormati latar belakang yang beragam dan merekrut staf berdasarkan bakat dan kemampuan," tulis pernyataan Tencent.

Setelahnya, Baidu turut menyesal karena hal itu terjadi. Pihak Baidu menyebut iklan ini tidaklah sesuai dengan nilai-nilai yang perusahaan mereka anut.

Baidu juga menyebut iklan-iklan seksis tersebut sudah dihilangkan sebelum laporan HRW dirilis, serta mengklaim 45 persen pegawainya adalah perempuan.

Alibaba memberikan klarifikasi serupa, dan mengungkap 47 persen pegawai mereka adalah perempuan, dan pemimpin perempuan menduduki sepertiga posisi manajemen di Alibaba.

3 dari 3 halaman

Meremehkan Perempuan

Ini 10 Kandidat yang Masuk Nominasi Person of the Year Versi Majalah Time
Gerakan #MeToo, gerakan tersebut bertujuan melawan pelecehan seksual. Gerakan itu muncul setelah kasus tuduhan terhadap produser Harvey Weinstein dan puluhan orang lain di Hollywood, media, bisnis, dan politik. (AFP Photo/Bertrand Guay)

HRW khawatir iklan-iklan seksis tersebut mencerminkan pandangan tradisional dan diskriminatif tentang perempuan.

Di antara pandangan diskriminatif tersebut adalah bahwa perempuan berada di bawah laki-laki secara fisik intelektual, dan psikologis.

Korban diskriminasi sebetulnya dapat membuat komplain pada Biro Sumber Daya Manusia dan Keamanan Sosial, tapi sayangnya komplain yang dibuat tidak sepenuhnya ditindaklanjuti secara konsisten.

(Tom/Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓