Pelan Tapi Pasti, Indonesia Bakal Terbiasa dengan Asisten Digital Suara

Oleh Jeko I. R. pada 04 Apr 2018, 14:30 WIB
Diperbarui 04 Apr 2018, 14:30 WIB
Amazon
Perbesar
Craig Stires, Head of AI Analytics Big Data APAC AWS. LIputan6.com/Jeko Iqbal Reza

Liputan6.com, Changi - Soal asisten digital, Indonesia bisa dibilang agak terbelakang dibanding negara-negara lain. Namun kenyataannya, negara kita tetap berpacu dengan teknologi yang satu ini.

Meski tidak agresif, upaya anak bangsa patut diapresiasi dengan asisten digital berbasis teks, yang mana kerap disebut chatbot.

Disampaikan Craig Stires selaku Head of AI Analytics Big Data APAC Amazon Web Services (AWS), asisten digital adalah salah satu teknologi yang menarik klien AWS, mengingat semua asisten digital kini sudah dilengkapi dengan kecerdasan buatan (AI, Artificial Intelligence).

Salah satu layanan yang ditawarkan AWS adalah Amazon Lex, yakni platform yang menawarkan interface asisten digital berbasis suara serta teks.

Salah satu bukti 'kawin silang' antara Amazon Lex dengan perangkat keras Amazon adalah asisten virtual Alexa yang hadir lewat speaker pintar Amazon Echo.

Diketahui, speaker tersebut memungkinkan perusahaan menciptakan interface asisten digital ke dalam aplikasi yang mereka ciptakan.

"Asisten pintar ini bisa diintegrasikan dengan call center, atau juga langsung ke Facebook. Inilah yang akan menjadi cara baru bagi konsumen untuk berkomunikasi, di mana asisten digital ini juga dilengkapi dengan intelligent voice response," ujar Craig di gelaran AWS Summit 2018 di Capri Hotel by Fraser, Singapura, Selasa (3/4/2018).

Melihat kecanggihan yang ditawarkan via Amazon Lex, tentu semua aktivitas kelak lebih mudah dan praktis karena meminta tolong asisten digital hanya perlu mengeluarkan instruksi suara, seperti yang kita lakukan sudah-sudah pada Siri, Cortana, atau Google Assistant.

Lantas, kapan Indonesia akan bisa mengadopsi cara ini? Masyarakat kita saja mungkin sebagian besar belum familier dengan asisten digital berbasis suara, apalagi muncul lewat speaker pintar.

Menurut Olivier Klein selaku Head of Emerging Technologies APAC AWS, Indonesia sendiri masih memiliki tren asisten digital berbasis teks alias chatbot yang sangat kuat.

Ia mengungkap tantangan mengapa Indonesia belum terbiasa menggunakan asisten virtual voice based karena perihal konektivitas.

"4G belum merata, tentu masih banyak yang suka menggunakan text based. Kami punya klien perusahaan yang memiliki layanan asisten virtual text based karena mereka tidak memiliki jaringan 4G, tetapi mereka tetap menggunakannya," papar Olivier.

Olivier berpandangan, bagian penting dari asisten digital adalah penggunaannya sendiri. AWS juga memiliki channel terbaik untuk menggunakan Amazon Lex bagi para penggunanya, sekalipun dalam cara text based. Pada kenyataannya, ungkap Olivier, Amazon Lex juga terintegrasi dengan Twilio yang menjadi text based.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Kecanggihan Amazon Lex

Amazon
Perbesar
Olivier Klein, Head of Emerging Technologies APAC AWS. Liputan6.com/Jeko Iqbal Reza

Amazon Lex sendiri diklaim memudahkan perusahaan untuk mengembangkan teknologi sendiri, tanpa harus mengembangkan teknologi itu dari awal.

Selain itu, layanan ini juga ditopang sejumlah teknologi Amazon dengan memanfaatkan informasi yang didapat dari konsumen, seperti keluhan yang disampaikan bisa dijadikan insight dasar pengambilan keputusan.

Ambil contoh, dengan batnuan Amazon Transcribe, perusahaan bisa melakukan transkrip isi pembicaraan dari panggilan konsumen ke call center. Namun perlu dicatat, data transkrip masih 'kasar' karena tidak berkonteks.

Karenanya, data harus digodok lebih lanjut dengan layanan Natural Language Processing (NLP) via Amazon Comprehend NLP. Dengan demikian, perusahaan bisa langsung mengetahui bagian penting dari isi percakapan, mulai dari maksud pelanggan, jenis percakapan, hingga lokasi pembicaraan.

Asyiknya, perusahaan tak harus melulu menggunakan layanan dari Amazon. Mereka dibabaskan memilih untuk menggunakan layanan yang diperlukan.

"Kalau di AWS, kami menganggap semua sebagai API yang bsia digunakan terpisah, atau bahkan digabungkan dengan API lain," pungkas Olivier.


Layanan Terbaru AWS

AWS
Perbesar
Suasana ajang AWS re:Invent 2017 di Las Vegas, Amerika Serikat (AS). Liputan6.com/ Andina Librianty

AWS belum lama ini meluncurkan beberapa layanan berbasis Machine Learning. Di antaranya seperti SageMaker, Amazon Transcriber, Amazon Translate, Amazon Comprehend dan Amazon Rekognition Video.

SageMaker adalah salah satu layanan Machine Learning teranyar AWS yang baru saja diperkenalkan di ajang re:Invent yang dihelat di Las Vegas, Amerika Serikat, pada akhir 2017 lalu.

SageMaker sendiri merupakan layanan yang bisa digunakan oleh ilmuwan data dan pengembang agar bisa lebih cepat membuat, melatih dan mengembangkan model machine learning mereka sendiri. Layanan ini memiliki tiga modul, yaitu Build, Train dan Deploy.

Adapun Amazon Transcribe untuk mengubah pembicaraan ke dalam bentuk teks dan Amazon Translate untuk menerjemahkan teks antar bahasa.

Amazon Comprehend untuk memahami teks bahasa natural dari dokumen, unggahan media sosial, artikel atau data textual lain yang disimpan di dalam sistem AWS, sedangkan Amazon Rekognition Video bisa melacak orang-orang, mendeteksi aktivitas, mengenali obyek, wajah, selebriti dan konten tidak pantas di dalam jutaan video yang ada di dalam Amazon S3.

(Jek/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya