Cambridge Analytica Masih Kantongi Data Pengguna Facebook

Oleh Agustinus Mario Damar pada 29 Mar 2018, 21:00 WIB
Diperbarui 29 Mar 2018, 21:00 WIB
Cambridge Analytica Alexander Nix
Perbesar
CEO Cambridge Analytica Alexander Nix berbicara di Summit Concordia 2016 Hari 1 di Grand Hyatt New York, 19 September 2016. (Bryan Bedder/Getty Images for Concordia Summit/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Skandal penyalahgunaan data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica tampaknya masih belum usai. Sebab, temuan terbaru dari Channel 4 News menyebut data di badan analisis ini belum sepenuhnya dihapus.

Padahal, Cambridge Analytica mengaku sudah menghapus data yang dimilikinya. Bahkan, badan analisis tersebut sudah siap menjalani audit dari pihak ketiga terkait data-data tersebut.

Namun, seperti dikutip dari Business Insider, Kamis (29/3/2018), Channel 4 News mengungkap pihaknya menemukan ada 136 ribu data pengguna yang berasal dari Colorado, Amerika Serikat di Cambridge Analytica.

Menurut sumber yang berasal dari orang dalam Cambridge Analytica, data itu berasal dari Facebook yang masih disimpan. Data itu berisi profil pengguna Facebook termasuk sisi psikologisnya.

Temuan ini jelas membuat publik kian meragukan pernyataan Cambridge Analytica yang menyebut akan menghapus data-data tersebut. Menyusul kabar ini, baik Facebook dan Cambridge Analytica masih belum memberikan pernyataan.

Salah seorang warga Colorado yang dihubungi Channel 4 News mengatakan dirinya sangat kecewa dengan temuan ini.

Ia merasa hal ini merupakan manipulasi oleh orang-orang yang tak benar-benar peduli, tapi lebih memikirkan bisnisnya sendiri.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Layanan Baru Facebook

Mark Zuckerberg
Perbesar
CEO Facebook Mark Zuckerberg (AP Photo/Eric Risberg, File)(AP Photo/Manu Fernadez)

Sebelumnya, Facebook berencana menghadirkan lebih banyak berita lokal di News Feed. Hal ini membuat pengguna dapat lebih banyak mengetahui informasi dari sumber berita lokal tentang lingkungan tempat tinggal dan kota-kota lain yang mungkin disukai.

Prioritas terhadap berita lokal ini telah dilakukan oleh Facebook pada awal 2018 di Amerika Serikat (AS). Facebook pun memperluas fitur baru tersebut ke negara-negara lain, termasuk di Indonesia.

"Berita lokal membantu orang terhubung dengan komunitas terkait dengan isu di lingkungan mereka, sehingga orang bisa melihat berita mengenai topik yang berdampak langsung pada komunitasnya dan juga informasi mengenai apa yang terjadi di lingkungan mereka," jelas Facebook dalam pernyataan resminya, Rabu (28/3/2018).

Melalui pembaruan ini, Facebook mengklaim dapat membantu penerbit lokal yang meliput berita di beberapa kota sekaligus, agar bisa menjangkau pembaca di setiap wilayah tersebut.

Sumber berita akan dianggap sebagai penerbit lokal jika orang di sejumlah kota lebih mungkin membaca artikel dari domain mereka, dibandingkan orang di luar kota tersebut.

"Kami juga memperluas pemahaman tentang apa yang dianggap lokal oleh banyak orang, dengan menyertakan kota lain yang mereka sukai dan menghubungkannya dengan penerbit lokal dari kota-kota tersebut," ungkap Head of News Product Facebook, Alex Hardiman.

Hardiman pun menegaskan Facebook akan terus berupaya memprioritaskan kualitas berita di News Feed, termasuk dari sumber yang dipercaya secara luas, informatif dan relevan bagi komunitas lokal.

"Besar harapan kami bahwa upaya kami ini bisa terus ditingkatkan dan semakin meluas tahun ini," katanya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bos Facebook Minta Maaf Secara Terbuka di Surat Kabar

Mark Zuckerberg
Perbesar
CEO Facebook Mark Zuckerberg (AP Photo/Paul Sakuma)

Terlepas dari layanan terbarunya, Facebook tengah menjadi sorotan terkait skandal penyalahgunaan data puluhan juta pengguna. Sebuah perusahaan bernama Cambridge Analytica dilaporkan memanfaatkan data-data tersebut untuk kepentingan komersial.

Facebook pun telah mengakui masalah tersebut dan menyampaikan permintaan maaf. CEO Facebook, Mark Zuckerberg, pun telah menyampaikan permintaan maafnya.

Zuckerberg juga memuat permintaan maaf dalam satu halaman penuh di beberapa surat kabar papan atas di Amerika Serikat (AS) dan Inggris pada Minggu (25/3/2018) dan Senin (26/3/2018).

Iklan permintaan maaf yang ditandatangi oleh Zuckerberg itu berbunyi: "Anda mungkin pernah mendengar tentang aplikasi kuis yang dibuat oleh peneliti universitas yang membocorkan data jutaan orang di Facebook pada tahun 2014.  Saya meminta maaf karena kami tidak melakukan lebih banyak hal saat itu."

Kata "peneliti universitas" merujuk pada akademisi University of Cambridge, Aleksandr Kogan, yang menurut Facebook, telah melanggar kebijakan privasi dengan memberikan data pengguna ke Cambridge Analytica, tanpa izin. Cambridge Analytica tidak memiliki hubungan dengan University of Cambridge.

(Dam/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya