Rambah Ranah Fintech, Grab Kini Tawarkan Pinjaman Mikro

Oleh Liputan6.com pada 23 Mar 2018, 20:00 WIB
Diperbarui 25 Mar 2018, 19:13 WIB
Ilustrasi Grab

Liputan6.com, Jakarta - Grab kini tak cuma berkutat pada layanan transportasi ride-sharing, perusahaan teknologi asal Negeri Jiran itu ternyata juga tengah menjajal peruntungan di dunia teknologi finansial (Fintech, Financial Technology).

Rival Go-Jek dan Uber ini, juga baru saja mengumumkan layanan Fintech-nya bernama Grab Financial Services di Asia.

Dilansir Tech Crunch, Jumat (23/3/2018), layanan tersebut berupa pinjaman mikro serta asuransi kepada para driver Grab dan pebisnis yang menggunakan layanan GrabPay.

Berbagai layanan ini mengikuti layanan Fintech yang telah dirilis sebelumnya oleh Grab, yakni fitur mobile payment dari GrabPay.

Untuk layanan baru ini, Grab menggandeng perusahaan finansial asal Jepang, Credit Saison. Perusahaan ini adalah perusahaan pemberi pinjaman terbesar di Jepang dengan 70 juta kartu kredit yang tersirkulasi di negeri Sakura.

Selain itu, perusahaan asuransi asal AS Chubb juga salah satu yang digandeng oleh Grab.

Grab mungkin merupakan pemain baru soal mobile payment dan juga fintech. Namun, melihat Grab sebagai perusahaan dengan nilai valuasi lebih dari US$ 6 miliar dengan investor seperti SoftBank, Lippo Group, serta Didi Chuxing, menarik untuk dilihat bagaimana Grab akan menggunakan sektor privat serta hubungan dengan pemerintah lokal untuk membangan layanan finansial di Asia Tenggara.

2 of 3

Cetak 1 Miliar Perjalanan

Resmi 'Dipoles', Apa yang Baru di Aplikasi Grab?
Ilustrasi Driver Grab dengan Helm Baru (Liputan6.com/Jeko Iqbal Reza)

Per Oktober 2017, Grab telah mencapai satu miliar perjalanan, di mana ada 66 perjalanan yang berlangsung secara bersamaan dalam satu detik di tujuh negara wilayah operasional Grab di Asia Tenggara, di antaranya meliputi Singapura, Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Myanmar.

Dengan demikian, pertumbuhan perjalanan Grab telah meningkat drastis pada 2017. Pertumbuhan menunjukkan besarnya potensi transportasi on-demand yang belum tersentuh di kawasan Asia Tenggara, dan bagaimana ragam layanan, pendekatan hyper local, serta teknologi kelas dunia milik Grab mampu memenuhi banyaknya permintaan.

"Pencapaian ini merupakan bukti nyata kekuatan bisnis Grab dan tim manajemen kami, dimana kami mampu melipatgandakan skala bisnis kami secara drastis dalam waktu singkat. Kami juga terus meningkatkannya dengan melakukan beragam inovasi bisnis, memecahkan permasalahan lokal dan mengubah kehidupan melalui teknologi," ujar CEO sekaligus pendiri Grab Anthony Tan dalam keterangan resmi Grab yang diterima Tekno Liputan6.com pada Senin (6/11/2017).

“Pada saat bersamaan, kami juga akan mengambil langkah besar dalam industri pembayaran mobile, sehingga memungkinkan GrabPay dapat berkembang melebihi transportasi serta memungkinkan inklusi keuangan dan digital untuk dinikmati seluruh masyarakat Asia Tenggara. Kami menanti untuk mencapai satu miliar transaksi GrabPay," lanjutnya.

3 of 3

Pesatnya Pusat R&D

Co-founder Grab
Hooi Ling Tan dan partnernya ingin menyediakan transportasi yang menjamin keamanan penggunanya.

Diketahui, pencapaian besar tersebut juga didukung peningkatan besar pusat riset dan pengembangan (R&D, Research and Development) Grab untuk memenuhi permintaan pengemudi dan penumpang yang terus meningkat.

Grab bahkan telah menggandakan pusat R&D miliknya dari tiga menjadi enam, ke beberapa wilayah di Bengaluru, India, Ho Chi Minh City, Vietnam, dan Jakarta.

Untuk informasi, perusahaan asal Negeri Jiran tersebut menyediakan layanan mobil, motor, taksi, dan carpooling di tujuh negara dan 142 kota di Asia Tenggara, dengan satu dari tiga penumpang yang menggunakan lebih dari satu layanan Grab.

Untuk sekarang ini, Grab telah menguasai 95 persen pangsa pasar dalam third-party taxi-hailing dan 72 persen dalam private vehicle hailing.

Grab juga telah menjadi armada transportasi darat terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 2 juta pengemudi dalam platform-nya, yang memperoleh penghasilan 55 persen lebih tinggi dari rata-rata pendapatan nasional per jam.

Reporter: Indra Cahya

Sumber: Merdeka.com

(Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓