Jakarta dan Bandung Sudah Duluan Alami Hari Tanpa Bayangan, Kapan?

Oleh Tommy Kurnia pada 21 Mar 2018, 06:30 WIB
Ilustrasi Cuaca Jakarta Cerah Berawan

Liputan6.com, Jakarta - Besok warga Pontianak akan bisa menyaksikan fenomena hari tanpa bayangan pada tengah hari. Pontianak memang terkenal dengan julukan Kota Khatulistiwa.

Selain Pontianak, daerah lain seperti Bonjol dan Gebe juga dapat ikut menikmati.

Namun, orang Jakarta dan sekitarnya tidak bisa menikmati fenomena hari tanpa bayangan, pasalnya justru fenomena itu sudah terjadi sekitar dua minggu lalu.

"Untuk di kota-kota seperti Bandung dan Jakarta, terjadinya bukan besok, melainkan tanggal 3 Maret (untuk Bandung), dan tiga hari setelahnya untuk Jakarta," kata peneliti Pusat Sains Antariksa, Rhorom Priyatikanto kepada Tekno Liputan6.com, Selasa (20/3/2018).

Tapi jangan kecewa dulu, karena peristiwa unik ini akan kembali terjadi di bulan Oktober mendatang.

Untuk Bandung, hari tanpa bayangan akan kembali terjadi pada 8 Oktober mendatang, dan untuk Jakarta akan kembali terjadi pada 11 Oktober.

Fenomena hari tanpa bayangan memang terjadi setahun dua kali, jadi ada baiknya kamu aware tentang tanggal hari tanpa bayangan di daerahmu supaya bisa turut menyaksikan.

 

 

 

2 of 3

Jangan Salah Kaprah tentang Hari Tanpa Bayangan

Hari nir bayangan dan waktu kulminasi di beberapa kota besar di Indonesia.
Hari nir bayangan dan waktu kulminasi di beberapa kota besar di Indonesia. (LAPAN)

Mendengar istilah hari tanpa bayangan memang kerena, tapi itu tidak berarti semua bayangan akan hilang seharian.

Rhorom pun menjelaskan bahwasannya hari tanpa bayangan bukan berarti bayangan akan seluruhnya lenyap, melainkan hanya benda yang tegap lurus saja, tetapi bila kita mengayunkan tangan, maka bayangan tetap terlihat.

Fenomena tersebut juga berlangsung cukup singkat, yakni beberapa menit saja, dan dimulai pada tengah hari pada azan zuhur. Jadi, orang yang ingin memotret harus sigap.

3 of 3

Matahari Lebih Terik

sigar bencah
Matahari terbit dari balik rerimbunan daun tumbuhan keras di Sigar Bencah. (foto: Liputan6.com / edhie prayitno ige)

Menurut keterangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), pada 21 Maret Matahari berada tepat di atas garis ekuator (khatulistiwa). Dampaknya akan memberikan suhu yang lebih panas di siang hari.

"Nanti Matahari pasti akan melintas di atas kepala. Dampaknya akan memberikan Solstice (titik balik Matahari). Matahari pasti akan lebih terik pada periode tersebut," ungkap peneliti Pusat Sains Antariksa, Rhorom Priyatikanto kepada Liputan6.com.

Solstice adalah titik balik Matahari ketika Matahari berada di titik paling utara atau paling selatan. Solstice, dengan demikian, juga bisa dibilang sebagai penanda puncak musim dingin atau panas.

(Tom/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓