Bos Uber Bantah Akan Jual Bisnis di Asia Tenggara ke Grab

Oleh Iskandar pada 23 Feb 2018, 10:33 WIB
CEO Uber Dara Khosrowshahi

Liputan6.com, Jakarta - CEO Uber Dara Khosrowshahi dengan tegas membantah rumor yang menyatakan perusahaan akan keluar dari pasar Asia Tenggara dan India. Uber juga dilaporkan berencana menjual bisnisnya di Asia Tenggara kepada Grab.

Saat berkunjung ke India--lawatan pertamanya ke Asia sebagai bos Uber--Khosrowshahi mengatakan kepada audiensi bahwa perusahaan berencana untuk terus berinvestasi di Asia Tenggara, di mana Uber telah tergelincir di belakang Grab dan Go-Jek yang berbasis di Indonesia.

"Kami sudah ekspektasi akan kehilangan uang di Asia Tenggara dan berharap untuk berinvestasi secara agresif dalam hal pemasaran, subsidi, dan lain-lain," kata Khosrowshahi sebagaimana dikutip dari Reuters, Jumat (23/2/2018).

Khosrowshahi bahkan optimistis Uber akan bisa maju dan bersaing dengan kompetitor di Asia Tenggara. Pihaknya bahkan akan terus berinvestasi di pasar tersebut.

"Dari sudut pandang kompetitif, kami akan bisa memperbaiki diri. Saat ini rencana untuk Asia Tenggara adalah maju, melihat ke depan, dan berinvestasi," ia menjelaskan.

Sebagai informasi, rumor tak sedap itu berasal dari dua orang sumber yang mengklaim mengetahui rencana Uber tersebut. Namun, sejauh ini belum ada kesepakatan yang dicapai.

2 of 4

Grab di Asia Tenggara

Ilustrasi Grab
Ilustrasi Grab

Grab sendiri memiliki bisnis yang cukup kuat di Asia Tenggara. Layanannya termasuk penyewaan mobil pribadi, motor, taksi, dan carpooling di lebih dari 100 kota di Asia Tenggara.

Grab pada pertengahan tahun lalu mengatakan telah menguasai 95 persen pangsa pasar di Asia Tenggara untuk layanan pihak ketiga penyewaan taksi,dan 71 persen untuk kendaraan pribadi.

Di sisi lain, sepak terjang Uber justru tidak begitu mulus di wilayah Asia. Perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu kesulitan mengalahkan para pemain lokal.

Dikutip dari Fortune, Uber sudah menyerah di Tiongkok dengan mengalihkan operasionalnya untuk kepemilikan saham di kompetitornya, Didi Chuxing, pada 2016.

Di India, layanan taksi Ola malah berhasil mengambil 3 persen pasar dari Uber pada semester II 2017. Kini, Ola memimpin India dengan lebih dari 15 persen pangsa pasar.

3 of 4

Peran Besar SoftBank

Pengemudi Uber sedang melihat aplikasi bagi mitra Uber yang memperlihatkan gambaran permintaan di sebuah lokasi. (Ilyas/Liputan6.com)
Pengemudi Uber sedang melihat aplikasi bagi mitra Uber yang memperlihatkan gambaran permintaan di sebuah lokasi. (Ilyas/Liputan6.com)

Mengutip laporan dari Fortune, Didi, Ola dan Grab memiliki satu kesamaan, yaitu mendapatkan suntikan dana besar dari konglomerat multinasional asal Jepang, SoftBank.

SoftBank pada bulan lalu juga berinvestasi di Uber sebesar US$ 1,25 miliar dan menjadi pemegang saham terbesar.

Berdasarkan hubungan Softbank dan empat perusahaan tersebut, SoftBank disebut sebagai "raja sesungguhnya dari layanan ride-sharing".

Kesepakatan Asia Tenggara antara Uber dan Grab ini dapat mendorong SoftBank untuk merampingkan lingkungan kompetisi layanan ride-sharing.

Rajeev Misra yang bergabung di dewan direksi Uber sebagai bagian dari investasi SoftBank, berpendapat perusahaan yang didirikan ‚ÄéTravis Kalanick tersebut harus fokus, terutama di wialayah AS dan Eropa. Uber juga masih memiliki posisi kuat di Amerika Latin dan Timur Tengah.

Kesepakatan di Asia Tenggara dinilai dapat membantu Uber menyeimbangkan bisnisnya ke arah yang benar.

Uber yang dulu pernah berambisi menguasai dunia, langkahnya terganjal berbagai hal termasuk hambatan dari regulasi dan kompetisi kuat di banyak pasar, serta berbagai isu internal.

4 of 4

Kuatnya Pesaing Lokal

UberDelivery
Layanan pengiriman barang milik Uber, UberDelivery mulai beroperasi di Indonesia (Sumber: Uber)

Persaingan dari para pemain lokal merupakan salah satu faktor penghambat langkah Uber di sejumlah negara.

Hal ini pun diakui oleh CEO Uber, Dara Khosrowshahi, saat menghadiri Goldman Sachs Technology and Internet Conference di San Francisco pada pekan lalu. Menurutnya, bersaing dengan para pemain lokal sangat sulit.

Jika Uber bersaing dengan para pemain lokal dengan kemampuan yang sama, seperti dari sisi jumlah pengemudi, maka Uber memiliki peluang untuk menang.

Uber, kata Khosrowshahi, juga memiliki merek, teknologi, jaringan dan berbagai hal lainnya yang lebih baik dibandingkan para pemain lain.

Namun, berbagai hal yang menjadi keunggulan Uber tersebut tidak menjadi faktor utama untuk unggul di pasar-pasar tertentu.

"Jika satu-satunya keunggulan kompetitif atau alasan kalian bisa ada di pasar karena bisa menghabiskan uang, maka itu bukan proposisi yang masuk akal," ungkapnya.

(Din/Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait