Line Terjun ke Bisnis Mata Uang Digital

Oleh Jeko I. R. pada 01 Feb 2018, 13:30 WIB
Diperbarui 01 Feb 2018, 13:30 WIB
20160602-Butuh Dana, LINE Daftarkan diri ke Bursa Efek Tokyo
Perbesar
Logo Line di kantor pusat LINE di Jepang, 2 Juni 2016. LINE dikembangkan oleh perusahaan Jepang bernama NHN Corporation. LINE pertama kali dirilis pada Juni 2011 dan mulanya hanya dapat digunakan pada sistem iOS dan Android. (REUTERS/Toru Hanai)

Liputan6.com, Tokyo - Berawal dari pesan instan, Line kini terus berekspansi ke ranah bisnis yang lebih luas. Setelah menjajal bisnis perangkat pintar dan streaming musik, layanan pesan instan asal Negeri Ginseng tersebut kini merambah bisnis mata uang digital (cryptocurrency).

Menurut informasi yang dilansir Engadget pada Kamis (1/2/2018), langkah pertama yang dilakukan perusahaan adalah dengan menciptakan perusahaan finansial baru yang menyediakan transaksi mata uang digital.

Tak cuma itu, perusahaan ini juga akan bergerak pada layanan asuransi dan pinjaman.

Tidak diungkap apakah layanan tersebut akan mengutamakan mata uang digital sebagai transaksi utama atau bisa menggunakan opsi lain. Namun, yang pasti, layanan perusahaan finansial ini akan terintegrasi ke dalam aplikasi pesan instan Line.

Wajar saja Line memutuskan untuk memperpanjang kaki bisnisnya ke ranah mata uang digital, mengingat Jepang merupakan pasar yang "seksi" bagi industri mata uang digital. Penggunanya saja mencapai 40 juta.

Dengan demikian, langkah Line untuk meluncurkan layanan transaksi mata uang digital dinilai cukup jeli.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kantongi 171 Juta Pengguna Aktif

20160602-Butuh Dana, LINE Daftarkan diri ke Bursa Efek Tokyo
Perbesar
Logo Line terpampang di kantor pusat LINE di Jepang, 2 Juni 2016. Perusahaan jejaring sosial LINE membutuhkan dana segar sebesar 918.000.000 dolar untuk memperluas bisnis jejaring sosial tersebut di dunia. (REUTERS/Toru Hanai)

Pada Juni 2017, Line tercatat mengantongi lebih dari 171 juta pengguna aktif bulanan pada kuartal pertama 2017. Angka tersebut naik 72 persen dari jumlah pengguna aktif bulanan pada 2016.

"Empat pasar terbesar Line di Jepang, Taiwan, Indonesia, dan Thailand, jumlah pengguna aktif bulanan telah mencapai lebih dari 171 juta. Ada peningkatan 20 juta pengguna sejak tahun lalu," ujar Line Corporation Representative Director & CEO, Takeshi Idezawa, pada Line Conference 2017, Shibuya, Jepang, beberapa waktu lalu.

Menurut data 2016, Idezawa mengungkap bahwa dalam satu hari, lebih dari 27 miliar percakapan dikirim dan diterima melalui Line.

"Artinya, satu orang dapat menghabiskan 40,2 menit untuk menggunakan Line di empat negara pasar terbesar kami hingga Maret 2017," jelasnya.

Oleh karena itu, Line akan memperbanyak fitur dalam aplikasinya. Misalnya, fitur Line Stamps, di mana pengguna bisa membuat stiker dengan foto pribadi.

Adapun, jumlah pengguna Line News melonjak 280 persen menjadi lebih dari 150 juta pengguna aktif dibandingkan Mei tahun lalu. "Jumlah mitra terbesar ada di Jepang, yakni lebih dari 600 media," ungkap Idezawa.

Selama kuartal pertama 2017, Line Platform meraup keuntungan sebesar 55,797 miliar yen. Angka ini meningkat 47 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

(Jek/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓