Pemanasan Global, Stephen Hawking: Bumi Bisa Sepanas Venus

Oleh Agustinus Mario Damar pada 25 Jan 2018, 15:00 WIB
Planet Venus

Liputan6.com, Jakarta - Fisikawan kenamaan asal Inggris, Stephen Hawking, kembali memperingatkan kondisi Bumi yang terus memburuk akibat pemanasan global. Ia pun menyebut Bumi dapat berakhir seperti Venus, planet tetangga yang suhunya sangat tinggi.

Dikutip dari Daily Mail, Kamis (25/1/2018), Hawking menyebut jika manusia tak menghentikan efek rumah kaca dari gas emisi, suatu hari Bumi dapat memiliki suhu sangat tinggi hingga 460 derajat Celsius, seperti kondisi iklim Venus saat ini.

Prediksi tersebut ia ungkapkan saat mengisi serial TV berjudul Favourite Places. Siaran dapat disaksikan secara global melalui situs CuriosityStream.

Hawking bukan tanpa alasan menyebut Bumi bisa menjadi Venus kedua. Berdasarkan data NASA, Venus memang memiliki kondisi yang serupa dengan Bumi sekitar 4 miliar tahun lalu.

Saat itu, Venus memiliki air di permukaannya dan memiliki suhu yang bersahabat seperti Bumi. NASA menyebut planet kuning itu mampu menampung kehidupan sekitar 2 miliar tahun.

Namun, efek rumah kaca yang berlangsung di Venus membuat air di permukaan planet menjadi kering dan menjadikannya sangat panas. Di planet ini, angin bahkan bisa bertiup sangat kencang hingga 300 km/jam.

Venus, menurut Hawking, menjadi contoh bahwa dapat terjadi sesuatu di Bumi ketika efek rumah kaca di atmosfer mencapai tingkat ekstrem.

"Lain kali, saat bertemu dengan orang yang tak mempercayai perubahan iklim, ajak mereka untuk mengunjungi Venus. Saya yang akan membayar perjalanannya," tandasnya.

Ini bukan kali pertama Hawking menyebut perubahan iklim dapat mengancam kehidupan Bumi.

Ia bahkan tak segan menyebut Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebagai penyebab kehancuran Bumi karena menolak kesepakatan Paris mengenai perubahan iklim tahun lalu.

1 of 3

Stephen Hawking Peringatkan Bahaya Kecerdasan Buatan

Selain perubahan iklim, Hawking juga menyebut kecerdasan buatan dapat menjadi teknologi berbahaya bagi manusia. Menurutnya, teknologi ini dapat berbahaya apabila manusia terlalu agresif mengembangkan kecerdasan buatan. 

Bahkan, menurutnya, manusia dapat digantikan oleh produk kecerdasan buatan dalam beberapa tahun ke depan. Hawking mengungkapkan kekhawatirannya bahwa teknologi ini bak pisau bermata dua, sebab bisa menjadi penemuan terbaik tetapi sekaligus bisa menjadi mimpi buruk manusia.

Dalam wawancaranya baru-baru ini, Hawking memprediksi akan ada masa di mana kecerdasan buatan akan mencapai titik bahwa teknologi ini lebih efektif ketimbang manusia. Hal ini bakal membuat manusia menjadi tak berguna lagi.

Hawking mengakui bahwa teknologi memiliki sejumlah manfaat bagi manusia, misalnya menyembuhkan penyakit hingga mengurangi kemiskinan. Namun, tanpa kehati-hatian, teknologi dapat mematikan.

Ia memperingatkan umat manusia untuk mempersiapkan konsekuensi dari kecerdasan buatan. Para ahli dan pemangku kepentingan harus menyadari potensi bahaya dan menyelesaikannya sebelum menjadi tidak terkendali.

2 of 3

Stephen Hawking Ingin Bulan Jadi Pemukiman Manusia

Belum lama ini, Hawking juga menuturkan Bumi akan hancur dalam 100 tahun lagi. Untuk mengantisipasinya, ia menyarankan umat manusia harus pindah ke planet lain, setidaknya jauh dari Bumi di bintang Alpha Centauri.

Terbaru, pria kelahiran 8 Januari 1942 itu menciptakan ide alternatif jika manusia tidak mampu pindah ke planet di Tata Surya lain. Ia menyarankan, manusia sebaiknya pindah ke Bulan.

Hawking pun diketahui sedang memasuki proses negosiasi dengan negara-negara maju untuk mengirimkan astronot dari Badan Antariksa masing-masing negara ke Bulan pada 2020.

Tujuannya, agar para astronot bisa membangun pemukiman di Bulan. Ia memperkirakan butuh waktu setidaknya 30 tahun untuk membangun sebuah pemukiman di Bulan, setelahnya baru manusia bisa hidup di sana.

(Dam/Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

Lanjutkan Membaca ↓