ICUBE Gembleng 90 Perusahaan dari Offline ke Ranah e-Commerce

Oleh Iskandar pada 22 Des 2017, 02:24 WIB
Diperbarui 22 Des 2017, 02:24 WIB
icube

Liputan6.com, Jakarta - Menutup tahun 2017, perusahaan solusi e-Commerce bernama ICUBE mengklaim telah merangkul lebih dari 90 perusahaan kenamaan untuk memperkuat brand dari offline ke ranah e-Commerce.

Beberapa di antaranya adalah Sophie Paris, The Body Shop, Krisbow, Dannmar Equipment, eHobby Asia, serta brand lokal seperti, Electronic Solutions, Kawanlama, Hush Puppies Indonesia, dan Higienis.

ICUBE juga telah bekerja sama dengan deretan partner teknologi dan solusi e-Commerce seperti Midtrans, JNE, Fostok, Go-send, Prism, Acumatica, Dotmailer, Emarsys, Biznet, Amazon AWS, dan Microsoft Azure.

“ICUBE telah mengalami perkembangan signifikan mulai awal berdiri hingga saat ini. Sebagai perusahaan yang 100 persen fokus di e-Commerce solution di Indonesia, saya rasa kami salah satu yang terbesar,” ujar Muliadi Jeo, Founder ICUBE (PT Inovasi Informasi Indonesia) dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/12/2017) di Jakarta.

Di sisi lain, Muliadi melanjutkan, perusahaan juga berhasil mengembangkan SWIFT, sebuah sistem software berbasis Magento V2 yang didesain untuk memberikan kemudahan bagi retailers atau perusahaan penyedia jasa e-Commerce untuk membangun website Magento sendiri.

Untuk diketahui, Meganto adalah salah satu aplikasi web yang berbasis CMS (Content Management System) khusus untuk e-Commerce.

2 dari 2 halaman

Kebutuhan Akan e-Commerce Menjadi Keharusan

Sementara Yuni Sucipto, Managing Director ICUBE mengatakan, “Dengan strategi bisnis yang mumpuni, perkembangan ICUBE senantiasa stabil dan bahkan terus meningkat.”

Ia bahkan mengklaim sejak tahun 2014 target sales revenue selalu mengalami peningkatan dua kali lipat setiap tahunnya.

Yuni meyakini pada 2018 nanti kebutuhan akan e-Commerce khususnya bagi ritel menjadi sebuah keharusan, karena hal ini tidak hanya membuka sales channel baru, namun juga untuk mengakomodir generasi baru yang memiliki shopping behavior berbeda dengan sebelumnya.

“Kalau dulu kita suka ke mal untuk berbelanja barang-barang kebutuhan, kini toko online menjadi sasaran utama untuk berbelanja, baru kalau waktu pengirimannya tidak tepat, orang akan kembali belanja di toko,” pungkasnya.

(Isk/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓