Elon Musk Ajak Google Cs 'Perangi' Kecerdasan Buatan

Oleh Jeko I. R. pada 28 Nov 2017, 10:30 WIB
Diperbarui 30 Nov 2017, 10:13 WIB
elon-musk-131031c.jpg

Liputan6.com, San Francisco - Tampaknya, Elon Musk tidak akan pernah bisa menerima implementasi teknologi kecerdasan buatan (AI, Artificial Intelligence) sepenuhnya.

Sebelumnya pada beberapa kesempatan, Musk mengukapkan kecerdasan buatan bisa menjadi risiko bagi dunia. Ia menyebut kecerdasan buatan bisa menjadi ancaman besar, bahkan lebih besar dibanding Korea Utara.

Dan kini, pendiri Tesla dan SpaceX tersebut kembali membawa isu kecerdasan buatan yang bisa menjadi ancaman ke publik. Lebih ekstrem, ia mengungkap kecerdasan buatan kelak bisa menghancurkan manusia jika tidak bisa lagi dikontrol perusahaan teknologi.

Seperti dilansir The Independent, Selasa (28/11/2017), Musk berpendapat umat manusia memiliki kesempatan yang kecil untuk bisa "selamat" jika kecerdasan buatan bisa menguasai dunia.

"Mungkin cuma ada 10 persen saja kesempatan manusia bisa menciptakan teknologi kecerdasan buatan yang aman," ujar Musk dalam wawancaranya bersama Rolling Stone baru-baru ini.

Dalam rangka mengontrol teknologi tersebut, Musk mengungkap dirinya juga telah berinvestasi pada divisi Google DeepMind untuk mengontrol pengembangan kecerdasan buatan.

Ia juga telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan teknologi besar lain, seperti Facebook dan Amazon, untuk memastikan mereka menciptakan teknologi kecerdasan buatan yang aman.

"Facebook, Google, Amazon, dan Apple, mereka kelihatannya peduli dengan privasi pengguna, tapi mereka mungkin bisa saja punya informasi tentang pengguna lebih banyak daripada yang diketahui penggunanya sendiri," ucap Musk.

Tak hanya itu, Musk juga merupakan pendiri OpenAI, sebuah perusahaan riset nonprofit yang berupaya menemukan pedoman yang aman dalam penerapan kecerdasan buatan.

2 of 2

Regulasi Harus Dibuat

Kecerdasan buatan
Kecerdasan buatan

Menurut Musk, kecerdasan buatan adalah kasus langka, sehingga pihak berwajib harus proaktif membuat regulasi, bukannya reaktif. Jika reaktif terhadap kecerdasan buatan, ia menilai hal itu akan terlambat.

Miliarder muda ttersebut juga mengatakan, regulasi terkait kecerdasan buatan harus dibuat sekarang karena sifatnya yang birokratis.

"Peraturan dibuat untuk selamanya. Kecerdasan buatan adalah risiko mendasar bagi keberadaan peradaban manusia," tuturnya.

Meski begitu, Musk bukannya anti kecerdasan buatan. Buktinya, miliarder di bidang teknologi itu menggunakan kecerdasan buatan di Tesla untuk membuat fitur kendali otonomos.

Musk juga memulai sebuah perusahaan bernama Neuralink yang dirancang untuk menghubungkan otak manusia ke peranti lunak komputer dengan tujuan mereplikasi fungsi otak ke perangkat lunak.

(Jek/Cas)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓