Percepatan e-Commerce Genjot Bisnis Jasa Logistik

Oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman pada 10 Jul 2017, 16:00 WIB
Ilustrasi e-Commerce, eCommerce, Online Marketplace, Bisnis Online

Liputan6.com, Bandung - Perkembangan e-Commerce di Indonesia yang begitu pesat, berimbas pada lonjakan pertumbuhan jasa logistik dan express. Pada periode 2016-2017 hampir semua penyedia jasa logistik dan express tumbuh di atas 30 persen.

Demikian diungkapkan General Manager (GM) Express JNE, Agusnur Widodo, di Hotel Hilton, Jln. HOS Tjokroaminoto, Bandung, baru-baru ini. Pada periode tersebut kinerja jasa logistik dan express JNE tumbuh 30-40 persen.

"Perkembangan e-Commerce begitu pesat. Penjualan pemain besar e-Commerce naik lumayan tinggi. Ini berimbas pada logistik dan express. Hampir semua express berkembang pesat. Habit belanja sekarang kan ke online," katanya.

Kontribusi Jabar tergolong besar. Dengan jumlah penduduk besar dan umumnya sudah melek informasi, kontribusi Jabar mencapai 10-15 persen nasional. Kendati demikian, kontributor terbesar masih dipegang Jakarta.

Deputy GM JNE, Hasmeliyani Suseno, menambahkan, fesyen menjadi produk paling banyak dibeli masyarakat secara online. Hampir 48 persen paket e-Commerce yang dikirimkan melalui JNE adalah produk fesyen.

"Perkembangan fesyen Indonesia sangat besar. Selain fesyen, kuliner juga menjadi produk yang banyak dibeli masyarakat secara online," ujarnya.

Ia mengatakan, tingginya minat masyarakat untuk membeli makanan secara online pulalah yang mendorong JNE meluncurkan Pesona Nusantara sejak 2012. Melalui Pesona Nusantara, konsumen bisa membeli makanan khas dari beragam daerah di Indonesia.

"Kami sudah bekerja sama dengan sejumlah UMKM makanan khas dari berbagai daerah," ujarnya.

Seperti diketahui, beberapa tahun terakhir Indonesia memasuki era "The Borderless World" secara masif. Lebih dari separuh populasi negeri ini sudah terhubung dengan internet. Dua tahun terakhir, penetrasi internet di Indonesia naik signifikan, dengan laju pertumbuhan sebesar 50,8 persen.

Kondisi ini mendorong pertumbuhan e-Commerce secara signifikan. Chief Sharing Vision Dimitri Mahayana memprediksi, pada 2025 nilai transaksi e-Commerce Indonesia akan mencapai 46 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Data Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) 2016 menyebutkan, penetrasi internet di Indonesia sudah mencapai 132,7 juta dari 256,2 juta penduduk atau 51,8 persen populasi. Pada tahun sebelumnya, penetrasi pengguna internet diperkirakan baru mencapai 88 juta jiwa.

Tak hanya populasi netizen, jumlah pengguna smartphone juga terus menanjak dengan signifikan. Data Lembaga Riset Telematika Sharing Vision menyebutkan, laju pertumbuhan majemuk tahunan (compound annual growth rate/CAGR) smartphone mencapai 11 persen dan CAGR internet 13 persen.

Tonton video menarik berikut ini:

(Msu/Why)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tutup Video