NASA Bakal Bangun Reaktor Nuklir di Mars untuk Sumber Energi Baru

Oleh Jeko I. R. pada 04 Jul 2017, 18:30 WIB
Diperbarui 06 Jul 2017, 18:13 WIB
 Kemping Ala Planet Mars di Gurun Pasir Yordania

Liputan6.com, California - Meski jauh dari kata rampung, NASA terus mematangkan upayanya untuk membawa manusia ke Mars. Kini, Badan Antariksa Amerika Serikat tersebut berencana membangun reaktor nuklir agar dapat menciptakan sumber energi bagi manusia pertama yang menghuni Planet Merah itu.

Tak tanggung-tanggung, proyek pengembangan reaktor nuklir itu senilai Rp 190 miliar. Nanti, NASA akan membangun reaktor setinggi 1,98 meter dan akan mengujinya terlebih dahulu di Bumi.

Pada uji coba pertama, reaktor harus mengurai atom uranium untuk menyalakan mesin. Jika mereka berhasil, NASA bakal langsung membawanya ke Mars.

Ke depannya, reaktor nuklir akan menjadi instrumen utama untuk membantu produksi energi seperti oksigen, cahaya, air, panas, serta tenaga listrik untuk mengisi daya kendaraan dan perangkat ilmiah.

"Setiap reaktor nuklir bisa memproduksi tenaga 10 Kilowatt, cukup untuk menghidupi dua orang dalam ekspedisinya selama di Mars," tulis NASA dalam pernyataan resminya sebagaimana Tekno Liputan6.com kutip via Mirror, Selasa (4/7/2017).

Ini bukan pertama kalinya NASA bereksperimen dengan reaktor nuklir. Pada 1960, mereka juga menggagas program bernama SNAP (Systems for Nuclear Auxiliary Power) dengan sebuah reaktor nuklir termoelektrik yang dapat menciptakan sumber panas.

2 of 2

Atmosfer Buatan

Selain membangun reaktor nuklir untuk sumber daya manusia, NASA juga berencana membangun dinding magnet raksasa untuk bisa membangun kembali lapisan atmosfer Planet Merah agar layak huni. Seperti diketahui, Mars adalah planet yang permukaannya tandus dan memiliki atmosfer tipis. Namun, peneliti percaya kondisi tersebut bisa direkayasa dengan cara membangun dinding magnet di lapisan atmosfer. Mereka menyebutnya dengan nama “magnetosphere”.

Dinding magnet berfungsi untuk melindungi planet dari radiasi partikel solar dan kosmik. Selain itu, ia juga berperan untuk menciptakan efek rumah kaca yang mampu menghasilkan cairan yang turun ke permukaan tanah planet.

Berdasarkan analisis peneliti, Mars sebetulnya sudah memiliki lapisan ituyang menghilang sejak tiga miliar tahun lalu.

"Atmosfer tebal di planet itu perlahan memudar karena diterpa badai matahari. Akibatnya kandungan air di atmofer menguap dan sisanya membeku," kata seorang peneliti.

Dinding tersebut juga akan menciptakan dua kutub yang nantinya akan menciptakan sirkuit elektrik yang dapat menghasilkan area magnet buatan. Setelah bertahun-tahun Mars baru bisa membangun kembali lapisan atmosfernya secara perlahan.

Saat ini, rencana tersebut masih tertuang dalam proposal Planetary Science Vision 2050 Workshop. Bisa jadi, rencana ini baru bisa diimplementasikan pada 2050 mendatang.

(Jek/Why)

Tonton Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓