Kicauan Donald Trump di Twitter Soal Berita Palsu

Oleh Agustinus Mario Damar pada 30 Mei 2017, 12:30 WIB
Diperbarui 30 Mei 2017, 12:30 WIB
Presiden ke-45 AS Donald Trump
Perbesar
Presiden ke-45 AS Donald Trump (AP/Andrew Harnik)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru saja mengakhiri lawatan luar negeri ke sejumlah negara. Namun dalam lawatan perdana ini, Trump ternyata dihantam sejumlah isu terkait pemerintahannya. 

Salah satu yang menjadi perhatian adalah isu berbagai informasi negara dengan Rusia. Bahkan, menantunya, Jared Kushner yang merupakan suami Ivanka Trump kini tengah diselidiki FBI terkait kasus campur tangan Rusia atas Pemilihan Presiden Amerika Serikat.

Menanggapi kabar tersebut, Trump yang sempat diam akhirnya angkat bicara melalui kicauan di Twitter. Melalui unggahannya, ia menyebut sejumlah bocoran yang disebut berasal dari Gedung Putih merupakan kebohongan yang dibuat media berita palsu.

Dikutip dari CNBC, Selasa (30/5/2017), Presiden AS ke-45 itu juga mengkritisi media yang mengutip informasi dari sumber anonim.

"Sangat mungkin sumber tersebut tak pernah ada dan sengaja dibuat oleh penulis berita palsu," tulisnya.

Aksi kritik Trump pada media sebenarnya bukan kali pertama terjadi. Sejak masa kampanye hingga kini memimpin AS, ia memang dikenal memiliki hubungan kurang harmonis dengan sejumlah media.

Terlepas dari kritik tersebut, sejumlah unggahan Trump di Twitter ini seakan menegaskan laporan sebelumnya bahwa ia boleh menggunakan iPhone. Meski diperbolehkan, ia hanya dapat menggunakan satu aplikasi dalam perangkat tersebut, yakni Twiter.

Informasi mengenai penggunaan iPhone dan aplikasi Twitter ini diungkapkan oleh sumber Gedung Putih. Twitter dipilih karena dikenal sebagai layanan favorit Trump untuk eksis di dunia maya dan berbagi opininya tentang berbagai hal.

iPhone ini juga diyakini sangat berbeda dari milik orang kebanyakan. Mengingat posisinya sebagai presiden, perangkat itu telah melalui serangkaian uji coba keamanan untuk mencegah kebocoran, yang dikhawatirkan dapat membuka data-data penting.

(Dam/Isk)