Politikus Indonesia Disindir soal Pabrik Ponsel Foxconn

Oleh Andina Librianty pada 08 Des 2016, 17:06 WIB
Diperbarui 18 Sep 2019, 11:01 WIB
Foxconn

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah tulisan satire di Bloomberg Gadfly, menyinggung soal rencana Foxconn Technology Group (Foxconn) membangun pabrik ponsel di Indonesia, meski akhirnya kandas di tengah jalan. Chairman Foxconn Terry Gou digambarkan menilai politikus Indonesia, terlalu banyak bicara kepada media mengenai rencana tersebut.

Komentar mengenai rencana Foxconn di Indonesia tersebut sebenarnya merupakan bagian dari tulisan satire, untuk menggambarkan kemungkinan seperti apa reaksi Gou atas rencana Trump "memaksa" Apple membuat produknya di Amerika Serikat (AS). Foxconn adalah mitra utama Apple untuk memproduksi jajaran produknya.

Dalam tulisan itu, "Gou" menyoroti kesuksesan Foxconn selama ini di beberapa negara, seperti Brasil, Indonesia, India dan sejumlah wilayah di Tiongkok. Secara khusus, Indonesia disorot sebagai salah satu prestasi membanggakan bagi Gou. Meski nyatanya Foxconn belum membuat satu unit iPhone pun di Indonesia dan bahkan tidak akan pernah.

"Saya belum membuat satu unit iPhone pun di Indonesia dan mungkin tidak akan pernah. Selama diskusi tertutup, mereka membuat diri mereka sendiri percaya bahwa saya mungkin akan berinvestasi sebesar US$ 10 miliar untuk sebuah pabrik ponsel," demikian yang tertulis dalam satire tersebut, seperti dilansir 9to5Mac, Kamis (8/12/2016).

Gou pun digambarkan menyebut politikus Tanah Air terlalu banyak mengumbar informasi kepada media. Tingkah para politikus itu disebut sebagai bentuk usaha memoles reputasi mereka.

"Bukan salah saya kalau beberapa politikus terlalu bersemangat, karena antusias untuk memoles reputasinya seperti yang biasa dilakukan seorang pemimpin, yaitu mengoceh kepada media," jelas Gou dalam satire bertajuk Dear Mr. Trump, About Those U.S. iPhones.

Hingga akhirnya, Gou saat ini digambarkan tengah memantau perkembangan yang ada, sambil melihat tingkah para politikus. "Yang saya butuhkan adalah menyampaikan keinginan dan melihat, sementara para birokrat dan politikus berdebat, tentang apakah mereka bisa memiliki saya atau gagal memenuhi janji kampanyenya," demikian isi bagian satire yang ditulis oleh Tim Culpan tersebut.

(Din/Isk)