Militer AS Kembangkan Program Pembaca Gelombang Otak

Oleh Mochamad Wahyu Hidayat pada 10 Nov 2015, 07:18 WIB
Diperbarui 10 Nov 2015, 07:18 WIB
Ilustrasi otak
Perbesar
Ilustrasi otak

Liputan6.com, Jakarta - Analis intelijen militer menghabiskan banyak waktu meneliti gambar yang tak terhitung jumlahnya dari berbagai sumber, seperti drone dan sistem pengawasan. Sebuah program otomatis yang dikembangkan oleh ilmuwan saraf kognitif, Dr. Anthony Ries, dapat membuat proses tersebut jauh lebih cepat.

Ries bekerja untuk sebuah fasilitas penelitian Angkatan Darat AS yang disebut "The MIND (Mission Impact Through Neurotechnology Design) Lab". Fasilitas tersebut baru saja mulai menguji sebuah program yang dapat menafsirkan gelombang otak.

Sederhananya, proram itu dapat membaca pikiran manusia. Dalam tes belakangan ini, program tersebut menghubungkan seorang prajurit ke EEG yang terhubung ke salah satu komputer dan memintanya untuk melihat serangkaian gambar pada layar dengan tingkat satu gambar per detik. Setiap gambar termasuk ke dalam salah satu dari lima kategori, yaitu perahu, panda, stroberi, kupu-kupu dan chandelier.

Komputer tersebut pada akhir percobaan mengungkap bahwa tentara memilih untuk berfokus pada gambar yang termasuk ke dalam kategori perahu. Bagaimana komputer tersebut mengetahuinya? Dengan memerhatikan perubahan gelombang otak subyek.

Tentara yang diuji memproduksi pola gelombang otak yang berbeda setiap kali ia melihat sesuatu yang dianggap "relevan." Sementara itu, analis dapat menggunakan sistem untuk melihat gambar besar yang dipotong menjadi bagian yang lebih kecil--disebut chip--untuk secara cepat menemukan item menarik.

"Setiap kali tentara atau analis mendeteksi sesuatu yang mereka anggap penting, itu memicu respons deteksi ini. Hanya chip yang berisi fitur yang relevan dengan tentara tersebut pada saat itu --sebuah kendaraan, atau sesuatu yang luar biasa, seseorang yang menggali di pinggir jalan, hal-hal semacam ini-- yang memicu respons tersebut untuk mendeteksi sesuatu yang penting," jelas Ries, dalam keterangannya, yang dikutip dari Engadget, Selasa (10/11/2015).

Untuk saat ini, ilmuwan tersebut berencana untuk terus meningkatkan sistem dan menambahkan fitur baru, termasuk kontrol mata. Bahkan, ia sudah menguji kemampuannya pada saat yang sama dengan meminta seorang prajurit untuk memainkan video game sederhana pada komputer yang terpisah. Subjek diinstruksikan untuk menembak gelembung pada sekelompok gelembung lainnya dan membidik warna yang sama hanya dengan menggerakkan bola matanya, yang mana ia berhasil melakukannya.

(why/dew)