Bahaya Perangkat Mobile Pribadi Jika Dipakai Bekerja

Oleh Andina Librianty pada 25 Jun 2014, 08:12 WIB
Diperbarui 23 Jan 2017, 14:33 WIB
Intrusive Ads

Liputan6.com, Jakarta - Teknologi perangkat mobile yang semakin canggih memicu peningkatan jumlah penggunanya mencapai 7,1 miliar. Di saat bersamaan, karyawan yang menggunakan perangkat mobile, smartphone dan tablet, untuk bekerja juga semakin banyak.

Dilansir Softpedia, dalam laporan yang dirilis Bluebox Security, semakin banyak pengguna bergantung dengan perangkat mobile untuk bekerja. Bahkan dalam banyak kasus, perangkat mobile itu sering digunakan mengakses informasi perusahaan.

Menurut studi terbaru ini, 40 persen responden menggunakan dua atau lebih perangkat pribadi untuk bekerja. Sebagian besar (90 persen) bergantung pada smartphone untuk memeriksa email, SMS, jejaring sosial, atau aplikasi lain yang berhubungan dengan pekerjaan.

Meski banyak pengguna yakin bahwa iOS lebih aman daripada Android, tapi kedua sistem operasi (OS) ini tetap rentan terhadap sejumlah besar serangan. Terlebih lagi, jumlah aplikasi yang diakses dari perangkat mobile kian bertambah. Terutama sejak smartphone dan tablet seakan menjadi desktop enterprise baru.

Hanya 40 persen perusahaan yang terlibat dalam studi ini memiliki kebijakan Bring Your Own Device (BYOD). Sebanyak 45 persen perusahaan melaporkan telah kehilangan data mobile dan beberapa di antaranya diharuskan mengumumkan insiden tersebut kepada publik.

Studi ini juga mengungkapkan bahwa 76 persen karyawan mengkhawatirkan tentang privasi saat menggunakan perangkat pribadi untuk bekerja. Selain itu, 64 persen staf TI menempatkan kekhawatiran tersebut di bawah pertimbangan keamanan.

"Sebagai sebuah industri, kami menghabiskan waktu untuk melindungi semuanya ketika kami harus fokus pada apa yang paling penting. Meningkatkan keamanan adalah hal yang sangat penting bagi bisnis," ungkap salah satu pendiri sekaligus COO Bluebox Security, Adam Ely.