Ledakan Data Terjadi di Tahun 2020

Oleh Adhi Maulana pada 22 Jun 2014, 09:10 WIB
Diperbarui 03 Agu 2017, 16:54 WIB
Big Data

Liputan6.com, Belitung - Pertumbuhan pengguna internet dan perangkat mobile mendorong sebuah konsep yang disebut dengan 'big data'. Berbagai jenis data digital yang bertebaran di internet sudah tak relevan lagi didistribusikan ke media penyimpanan berwujud hardware.

Kebutuhan pengguna menuntut kehadiran sebuah teknologi yang memungkinkan mereka untuk dapat menyimpan serta mengakses data kapan pun dan di mana pun. Maka lahirlah teknologi komputasi awan, atau populer disebut 'cloud'.

Country Manager EMC Indonesia, Adi Rusli menjelasakan bahwa cloud saat ini menjadi satu-satunya metode yang paling tepat untuk menangani kondisi 'ledakan' data yang terjadi dengan pesat per tahunnya.

Menurut data yang dimiliki International Data Corporation (IDC), data digital yang bertebaran di seluruh dunia pada tahun 2013 kemarin mencapai 4,4 zetabytes. Angka tersebut diprediksi akan meningkat 10 kali lipat di tahun 2020 menjadi 44 zetabytes.

"Belum ada metode lain selain cloud yang mampu menangani kondisi ledakan data tersebut. Dengan cloud, biaya yang dibutuhkan untuk mengakomodasi kebutuhan penyimpanan data juga menjadi lebih hemat," tutur Adi di acara Virtus Media Gathering yang berlangsung di Tanjung Pandan, Belitung.

Lebih lanjut Adi pun memberi gambaran lonjakan data yang ditangani oleh perusahaannya dalam kurun waktu beberapa puluh tahun terakhir.

Sejak tahun 1978 hingga 2005, Adi menyebutkan, EMC meng-cover data sebesar 1 exabytes. Namun sejak tahun 2010, data sebesar 1 exabytes tercover tiap 3 bulan sekali. Di tahun ini, data sebesat 1 exabytes diakui harus mereka cover tiap bulannya.