Fenomena Bediding Bisa Ganggu Kesehatan, Warga Banyuwangi Diimbau Waspada

Oleh Hermawan Arifianto pada 06 Agu 2022, 00:06 WIB
Diperbarui 06 Agu 2022, 00:06 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat (Hermawan Arifianto/Liputan6.com)
Perbesar
Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat (Hermawan Arifianto/Liputan6.com)

Liputan6.com, Banyuwangi Warga Banyuwangi diimbau mewaspadai fenomena bediding. Fenomena dingin ekstrem yang terjadi pada malam hari hingga pagi itu dapat mengganggu kesehatan.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat menyebut, gangguan kesehatan yang timbul diantaranya seperti batuk pilek, bibir pecah-pecah, mimisan, kulit menjadi kering, bibir dan kulit telapak kaki bisa pecah-pecah.

Amir juga membeberkan, adapun penyakit yang berisiko kambuh akibat fenomena bediding ini seperti asma (sesak panas), rinitis alergi (pilek alergi), sinusitis hingga alergi kulit karena udara dingin. Hal ini perlu diwaspadai terutama bagi warga usia lanjut.

"Jika bediding terus berlangsung akan terjadi penurunan suhu tubuh (hipotermia). Masyarakat yang mempunyai risiko tinggi gangguan kesehatan karena cuaca dingin, yaitu orang usia lanjut, masyarakat dengan komorbid, penyakit diabetes, gangguan jantung, dan pembuluh darah," ungkapnya, Jumat (5/8/2022).

Dinkes menyarankan, selama fenomena Bediding berlangsung, agar diminta menggunakan jaket yang dapat menutupi seluruh tubuh. Serta masker, tutup kepala, kaos kaki tebal dan sarung tangan, terutama saat pagi hari dan malam hari.

"Upayakan agar tubuh tetap dalam keadaan sehat dan daya tahan tubuh tetap terjaga. Bisa juga mengolesi lotion pada bibir, kulit tangan dan telapak kaki agar kulit tidak mengering dan tidak menimbulkan luka. Minum air hangat yang cukup untuk mencegah agar tidak jatuh kedalam dehidrasi," pintanya.

Sementara, berdasarkan keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi, fenomena Bediding merupakan suhu dingin di tengah musim kemarau.

 


Fenomena Wajar Saat Musim Kemarau

Fenomena Bediding, dimana kondisi pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin. Hal itu sebenarnya hal yang wajar dan normal terjadi saat memasuki musim kemarau.

"Saat ini Banyuwangi telah masuk musim kemarau. Suhu udara cenderung lebih rendah dari biasanya. Rata-rata mencapai 18,4 derajat celcius hingga 23,4 derajat celcius," kata Prakirawan BMKG Banyuwangi, Benny Gumintar.

Benny menyebut, adapun salah satu faktor penyebabnya yakni pergerakan massa udara dari Australia dengan membawa massa udara dingin dan kering ke Asia melewati Indonesia. Kondisi ini disebut juga dengan Monsun Dingin Australia.

"Faktor lain juga disebabkan oleh menipisnya kandungan air di dalam tanah dan kandungan uap air udara juga dinilai rendah. Dibuktikan dengan rendahnya tingkat kelembaban udara yang mencapai 75 persen. Oleh karena itu masyarakat tetap harus menjaga kekebalan tubuh dari cuaca yang cenderung lebih dingin ini," tandasnya.

 

infografis journal
Perbesar
infografis journal Fakta Film Horor Digemari Masyarakat Indonesia. (Liputan6.com/Abdillah).  
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya