Kasus Tendang Sesajen Semeru, Begini Kata Antropolog Unair

Oleh Dian Kurniawan pada 13 Jan 2022, 21:07 WIB
Diperbarui 13 Jan 2022, 21:07 WIB
Sesajen Gunung Semeru
Perbesar
Video berisi seorang pria menendang sesajen di lokasi erupsi Gunung Semeru viral di media sosial. (Liputan6.com/ Istimewa)

Liputan6.com, Surabaya - Pakar Antropologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Toetik Koesbardiati angkat bicara terkait kasus penendangan dan membuang sesajen di lereng Gunung Semeru.

"Perbuatan pria yang menendang sesajen itu tidak seharusnya terjadi. Sesajen merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat sekitar yang sudah ada sejak lama, yaitu animisme," ujarnya, Kamis (13/1/2022).

Toetik menyampaikan, animisme merupakan kepercayaan yang semula muncul di kalangan manusia bahwa setiap benda di bumi, yaitu alam dan lingkungan seperti gua, pohon, dan Gunung memiliki jiwa yang harus dihormati

“Religi itu awalnya memang berkaitan dengan lingkungan, makanya ada kepercayaan animisme,” ucapnya.

Oleh karena itu, Toetik menegaskan, ketika ada masyarakat yang tidak percaya dengan kepercayaan orang lain, tak seharusnya menghina.

“(sesajen) apa salah, Menurut saya tidak. Itu kepercayaan masyarakat,” ucap Toetik.

Toetik mencontohkan, seperti situs punden yang ditemukan di banyak wilayah di Nusantara yang dipercaya sebagai tempat sakral.

“Orang percaya kalau batu itu punya penunggu maka masyarakat mempercayai punden sebagai tempat sakral bagi masyarakat lokal,” ujarnya.

Toetik mengatakan, kepercayaan masyarakat juga bisa dilihat saat peristiwa erupsi Bromo 2019 yang dianggap sebagai teguran dari leluhur mereka.

"Masyarakat di sana yang mayoritasnya merupakan Suku Tengger tiap tahunnya melaksanakan Upacara Kasada," ucapnya.

Ritual itu, lanjut Toetik, meminta pengampunan dari Brahma dengan mengorbankan sesuatu, berupa makanan, uang, dan hewan ternak ke dalam kawah.

“Waktu Bromo meletus masyarakat sekitar menganggapnya teguran orang tua mereka dalam hal ini ialah Roro Anteng dan Joko Seger yang setiap Kasada selalu ada pengorbanan di kawahnya,” ujarnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Meminta Kebaikan

“Sama seperti di Semeru, masyarakat lokal mempersembahkan sesajen kepada siapapun yang mereka percaya sebagai penguasa di sana,” ucap Toetik.

Hal semacam itu juga sama dengan upacara larung, bersih desa, sedekah bumi, dan lainnya. Tujuannya semua untuk meminta kebaikan.

"Selalu ada sesajen untuk alam yang masyarakat lokal percaya bisa memberi rejeki, kemakmuran, ketenangan, termasuk keamanan dari aspek amarah alam," ujar Toetik.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya