Kronologi Kasus Joko Santoso, Warga Malang yang Buta Usai Divaksin Covid-19

Oleh Zainul Arifin pada 02 Des 2021, 17:17 WIB
Diperbarui 02 Des 2021, 17:33 WIB
Joko Santoso menunjukkan sertifikat vaksin miliknya.  (Zainul Arifin/Liputan6.com)
Perbesar
Joko Santoso menunjukkan sertifikat vaksin miliknya. (Zainul Arifin/Liputan6.com)

Liputan6.com, Surabaya - Joko Santoso, seorang warga Arjowinangun Kota Malang, mengalami kebutaan usai vaksinasi dosis pertama pada 3 September silam. Sempat buta total selama tiga hari, kini kondisinya mulai membaik.

Kisah Joko sakit gangguan mata usai vaksinasi AstraZeneca di Malang ini viral si media sosial. Istrinya menuliskan cerita itu di salah satu grup facebook di Malang. Joko mengatakan, setelah tiga bulan berselang kondisi kesehatannya belum pulih seperti sediakala. Tim dokter yang menanganinya pun tak bisa menjelaskan penyebab utama gangguan penglihatan itu.

"Sekarang kondisinya masih 75 persen. Melihat dari jarak dekat masih kabur, hanya terlihat hitam putih," kata Joko di Malang, Kamis, (2/12/2021).

Ia menceritakan, pada Jumat, 3 September 2021 ikut vaksinasi dosis pertama menggunakan AstraZeneca. Lokasi suntik vaksin memanfaatkan rumah ketua rukun warga (RW) tempat tinggalnya. Saat skrining awal, tim medis menyatakan kondisi kesehatannya normal dan bisa ikut suntik vaksin.

"Tekanan darah normal, semua bagus. Saya juga tak punya riwayat penyakit seperti hipertensi," ucap Joko.

Setelah tiba giliran, ia disuntik vaksin lalu pulang ke rumah sekitar pukul 11.00. Tiba di rumah, ia merasa ada yang tak beres dengan kondisi tubuhnya. Mual-mual dan dua kali muntah di rumah. Ia pun menelepon istrinya yang sedang bekerja agar segera pulang.

"Istri saya memberi vitamin C, lalu saya minum dan langsung istirahat," ucap Joko.

Masalah gangguan penglihatan itu mulai muncul sekitar pukul 22.00. Pandangan matanya kabur saat melihat di dalam rumah, termasuk saat istrinya berada di dekatnya sambil bermain telepon cerdas. Ia menganggap kondisi itu seperti pertanda mengantuk.

"Padahal biasanya saya itu tak pernah tidur jam segitu, selalu di atas jam 10 malam," tutur Joko.

Pada Sabtu pagi, pandangan matanya pun gelap gulita. Kondisi itu segera dilaporkan ke ketua RW di lingkungannya. Ia segera dibawa ke RS Refa Husada dengan menjelaskan sakit usai vaksinasi di Malang. Oleh pihak rumah sakit itu, ia dirujuk ke RS Saiful Anwar Malang untuk penanganan lebih lanjut.

"Dokter juga bingung karena semua normal. Tak ada masalah gula darah maupun tekanan darah," ujar Joko.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Imunitas Turun

Selama tiga hari penglihatan Joko gelap gulita total. Setelah itu, meski tak lagi gelap namun penglihatannya masih kabur. Kondisi itu dirasakannya sampai hari ini. Ia menyebut tim dokter terus memantau secara berkala kondisi kesehatannya.

"Terus diobservasi dokter. Mata sebelah kiri bagus, tapi sebelah kanan masih kabur. Soal warna juga belum pulih," urai Joko.

Meski untuk berjalan tak lagi perlu dituntun, Joko belum bisa banyak beraktivitas. Dokter memintanya tak bekerja keras, maka Joko pun hanya membantu seadanya. Ia pun merasa lebih mudah sakit dibanding sebelumnya.

"Sekarang mudah sakit seperti demam, tubuh sering terasa lemas sulit bergerak," kata Joko.

Ia berharap kondisi kesehatannya bisa kembali seperti semula. Namun, dokter yang menanganinya sudah berusaha maksimal pun tak berani memberi jaminan kapan ia sehat dan pulih seperti sediakala.

"Disuruh dokter berdoa untuk kesembuhan, karena semua sudah berupaya," ujarnya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya