Waspada Fenomena Long Covid-19, Jangan Malas Gerak

Oleh Dian Kurniawan pada 21 Sep 2021, 22:15 WIB
Diperbarui 21 Sep 2021, 22:15 WIB
Ilustrasi COVID-19
Perbesar
Ilustrasi COVID-19. Foto: (Ade Nasihudin/Liputan6.com).

Liputan6.com, Surabaya - Dokter spesialis paru Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Surabaya Alfian Nur Rosyid mengungkapkan, ada beberapa kasus pasien Covid-19 masih merasakan gejala walaupun telah negatif.

"Fenomena tersebut dikenal dengan istilah long Covid-19, bila gejala sisa sampai melebihi tiga bulan," ujarnya, Selasa (21/9/2021).

"Long Covid-19 itu berarti pasien sudah sembuh dari Covid-19 namun masih memiliki tanda atau gejala sisa virus tersebut,” ucap Alfian.

Alfian mengatakan, long Covid-19 dapat terjadi di pernapasan.

“Misalkan keluhan pada pernapasan di antaranya masih batuk, masih berdahak dan juga sesak, itu bisa muncul,” ujarnya.

Selain masalah pernapasan, dokter sekaligus dosen Fakultas Kedokteran (FK) Unair Surabaya ini juga mengatakan, pasien long Covid-19 dapat mengalami keluhan pada organ lain. Sebagai contoh yakni badan yang terasa capek, lemas, rasa sakit kepala, diare dan lainnya.

"Meskipun demikian, intensitasnya bisa jauh lebih berkurang dibandingkan ketika pasien masih terjangkit virus corona," ucapnya.

Alfian memaparkan, long Covid-19 dapat terjadi sebanyak 1/3 sampai 2/3 kasus. Jumlah tersebut lebih banyak dibanding gejala sisa pada wabah SARS dan MERS.

“Di beberapa jurnal dan literatur disebutkan bahwa penyebab long Covdi-19 berhubungan dengan faktor usia. Pada pasien penyintas Covid-19 yang usianya tua, misalnya 80 tahun. Dia masih bisa bergejala (long Covid-19),” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Alfian, long Covid-19 berhubungan dengan derajat berat-ringannya pasien ketika dirawat karena Covid-19. Terutama apabila pasien memiliki komorbid termasuk terjadinya pneumonia pada paru.

“Risiko lain yakni pada pasien yang sempat dirawat di ICU dan mengalami badai sitokin. Kondisi tersebut dapat merusak paru dan sel lainnya,” tuturnya.

Alfian mengatakan, sel-sel pasien dapat rusak meskipun hasil swabnya sudah negatif. Sel yang sudah rusak tidak bisa kembali sempurna dan menyisakan gejala pada penyintas Covid-19.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Riwayat Pasien

Alfian menyebutkan, resiko long Covid-19 dapat terjadi pada pasien dengan riwayat peminum alkohol.

“Karena ya sebelum Covid-19 dia mengonsumsi alkohol yang merusak sel tubuh. Fungsi liver, paru, dan organ-organ lain dapat terganggu,” ucapnya.

Sekretaris satgas Covid-19 RSUA Surabaya tahun 2020 ini menegaskan, upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah long Covid-19 yaitu pasien tidak boleh Malas Gerak (Mager) sesuai dengan kemampuan meskipun saat di ruang isolasi rumah sakit, rutin konsumsi obat yang diberikan dokter, menghindari stres dan kecemasan, serta terus berdoa kepada Tuhan.

"Setelah pasien pulang dari rumah sakit, dia harus tetap sedapat mungkin melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan, melakukan rehabilitasi fisik, berjemur dipagi hari, konsumsi multivitamin dan suplemen, terus berpikir positif, serta berdoa,” ujar Alfian.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya