Keterisian Tempat Tidur RSUD Soetomo Menurun Tapi ICU Tetap Penuh, Begini Alasannya

Oleh Liputan6.com pada 04 Agu 2021, 19:06 WIB
Diperbarui 04 Agu 2021, 19:06 WIB
RSUD Dr Soetomo Surabaya. (Dian Kurniawan/Liputan6.com)
Perbesar
RSUD Dr Soetomo Surabaya. (Dian Kurniawan/Liputan6.com)

 

Liputan6.com, Surabaya - Tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di RSUD dr Soetomo Surabaya mulai menurun. Jika biasanya pihak rumah sakit merawat 500 sampai 600 pasien dalam sehari, hari ini sekitar 350-an.

"Di IGD juga demikian, biasanya kita merawat 100 pasien per hari paling rendah 80, tapi hari ini hanya sembilan pasien," ujar Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soetomo Surabaya Joni Wahyuhadi, Rabu (4/8/2021).

Joni mengatakan, turunnya tingkat keterisian tempat tidur di RSUD dr. Soetomo karena kasus harian COVID-19 juga menurun.

Meski kasus harian terpantau turun, ICU RSUD Soetomo masih tetap penuh. Hal tersebut, kata Joni, merupakan indikasi bahwa pasien dengan kondisi berat masih banyak.

"Meski telah cukup mampu untuk menurunkan angka kematian di ICU dengan dukungan dari skill tenaga medis dan fasilitas yang mumpuni, tetapi kami masih kalah di IGD. Angka kasus kematian di IGD masih lumayan tinggi, itu juga mengindikasikan bahwa yang datang ke RS sudah dalam kondisi berat, saturasi rendah, sehingga tidak banyak yang bisa kita lakukan," ungkapnya.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Efek Varian Delta

Fenomena dari dampak varian Delta ini, lanjut dia, harus terus dipelajari dan harus jadi perhatian semua pihak karena keganasannya lebih parah dari pada varian sebelumnya.

"Saya sudah koordinasi dengan Menteri Kesehatan untuk menjadikan ini sebagai fokus utama, ternyata varian baru, varian Delta ini sangat cepat perburukannya. Oleh karenanya, penting untuk penanganan perhospitalize," ujarnya.

Menurutnya, cara terbaik mengatasi dan memutus mata rantai penularan, yakni dengan penerapan protokol kesehatan ketat dan menjalankan 5M.

Selain itu, ia juga menambahkan bahwa menurunnya pasien di IGD juga dikarenakan sudah dibukanya IGD di rumah sakit lain yang sempat ditutup, sehingga saturasi pasien bisa lancar dan tidak menumpuk RS tertentu saja.

"Ini karena langkah dari ibu Gubernur Jatim agar tidak sampai ada lagi IGD di rumah sakit yang ditutup," katanya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya