100 Unit Oksigen Konsentrator Siap di RS Lapangan Tembak Surabaya

Oleh Liputan6.com pada 23 Jul 2021, 06:14 WIB
Diperbarui 23 Jul 2021, 06:14 WIB
Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya, Febriadhitya Prajatara (Dian Kurniwan/Liputan6.com)
Perbesar
Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya, Febriadhitya Prajatara (Dian Kurniwan/Liputan6.com)

Liputan6.com, Surabaya - Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara mengatakan, Rumah Sakit Lapangan Tembak (RSLT) Surabaya kini dilengkapi sekitar 100 unit oksigen konsentrator atau alat yang dapat mengonversi udara menjadi oksigen medis hanya dengan disambungkan ke aliran listrik. 

"Saat ini RSLT tak hanya digunakan untuk merawat OTG dan gejala ringan, tapi juga pasien dengan saturasi oksigen di bawah 80 persen," katanya, Kamis (22/7/2021), dikutip dari Antara.

Menurut dia, prediksinya saat itu sebenarnya RS Lapangan Tembak Surabaya hanya digunakan untuk perawatan pasien OTG dan gejala ringan. Namun, ternyata yang masuk di sana, kategori saturasinya sudah di bawah 80 persen. 

Bahkan, lanjut dia, karena semakin tingginya kebutuhan oksigen di RS Lapangan Tembak Surabaya, maka pemkot kemudian melengkapi dengan alat oksigen konsentrator sekitar 100 unit. 

"Sama Pak Wali Kota juga diberikan satu alat lagi yang sifatnya personal. Artinya, satu orang dikasih alat yang namanya oksigen konsentrator," ujar Febri. 

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Daya Tinggi

Febri menyatakan, bahwa alat tersebut rupanya memiliki daya yang terbilang tinggi. Artinya, jika semakin banyak pasien di RSLT yang membutuhkan oksigen, otomatis pemakaian unit oksigen konsentrator juga semakin banyak. 

Semakin tingginya daya yang dibutuhkan itulah kemudian berimbas pada terjadinya listrik mati beberapa waktu lalu.

"Diluar dugaan, ternyata kapasitasnya besar, sekitar 500 watt per satu unit (oksigen konsentrator). Insya Allah kemarin sudah ada perbaikan, mudah-mudahan sudah tidak ada lagi listrik mati," katanya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya