Jeritan Perajin Tahu di Ngawi karena Harga Kedelai Meroket

Oleh Liputan6.com pada 13 Jun 2021, 06:22 WIB
Diperbarui 13 Jun 2021, 06:22 WIB
FOTO: Harga Kedelai Dunia Naik
Perbesar
Pekerja beraktivitas di salah satu sentra produksi tahu di Jakarta, Selasa (25/5/2021). Perajin tahu dan tempe memilih untuk menjaga stabilitas pasar dengan mengurangi produksi hingga 30 persen guna menekan biaya produksi, seiring dengan berlanjutnya kenaikan harga kedelai (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Ngawi - Sejumlah perajin tahu di sentra produksi Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, mengeluhkan mahalnya harga kedelai yang menjadi bahan baku utama usaha mereka sehingga berpengaruh pada proses produksi.

Salah satu pengusaha tahu Murjoko mengatakan harga kedelai terus naik secara bertahap sejak pertengahan tahun lalu hingga saat ini.

"Bersamaan dengan masa pandemi COVID-19, harga kedelai baik lokal maupun impor terus naik. Kami para perajin tahu sangat keberatan, bahkan beberapa di antaranya sudah tutup karena tidak mampu bertahan," ujar Murjoko di Ngawi, Jumat, 11 Juni 2021.

Harga kedelai impor saat ini telah naik menjadi Rp12.000 per kilogram dari sebelumnya yang berkisar antara Rp8.500 hingga Rp10.000 per kilogram. Demikian juga kedelai lokal saat ini telah mencapai Rp12.000 per kilogram, padahal harga biasa hanya sekitar Rp9.000 hingga Rp10.000 per kilogram, dilansir dari Antara.

Untuk bertahan akibat harga bahan baku yang terus naik, ia terpaksa menaikkan harga jual tahunya. "Jika biasanya satu kotak cetakan besar dijual Rp10.000, sekarang naik menjadi Rp15.000. Hal itu untuk membantu biaya produksi tahu," katanya.

Murjoko mengaku tidak mendapat untung yang layak jika harga bahan baku kedelai telah mencapai Rp12.000 per kilogram. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, usahanya dipastikan akan gulung tikar.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Penyebabnya

FOTO: Harga Kedelai Dunia Naik
Perbesar
Perajin mempersiapkan bahan baku kedelai sebelum diolah menjadi tahu di salah satu sentra produksi tahu di Jakarta, Selasa (25/5/2021). Berdasarkan tren harga yang dikutip dari Chicago Board of Trade (CBOT), harga kedelai dunia masih mengalami kenaikan. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Menurut dia, di lingkungannya di Kecamatan Paron dulunya ada sebanyak 10 industri kecil pembuatan tahu, namun saat ini hanya tinggal empat perajin yang masih bertahan.

Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono mengatakan mahalnya harga kedelai di pasaran disebabkan dampak dari petani yang mulai kurang tertarik menanam kedelai.

"Kondisi itu membuat kita memiliki ketergantungan pada kedelai impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sisi lain, pandemi sempat membuat semua komoditas impor mengalami kelangkaan sehingga harga terus naik," kata Bupati Ony.

Pihaknya meminta petani Ngawi yang biasa menanam kedelai, kembali menanam komoditas tersebut sehingga nanti, hasilnya bisa dimaksimalkan.

Para perajin tahu dan tempe berharap pemerintah segera melakukan langkah untuk menurunkan harga kedelai, sebab jika kondisi tersebut berlanjut, mereka takut usahanya akan tutup.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya