Ini Dia Inovasi Alat Pendeteksi Dini Tsunami Kreasi Pakar Geofisika ITS

Oleh Dian Kurniawan pada 11 Jun 2021, 23:12 WIB
Diperbarui 11 Jun 2021, 23:12 WIB
Alat pendeteksi tsunami karya pakar ITS. (Dian Kurniawan/Liputan6.com)
Perbesar
Alat pendeteksi tsunami karya pakar ITS. (Dian Kurniawan/Liputan6.com)

Liputan6.com, Surabaya - Tiga pakar geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, yakni Amien Widodo, Juan Pandu Gya Nur Rochman dan Kharis Aulia Alam merancang sebuah instrumen pendeteksi dini tsunami dengan memanfaatkan prinsip refleksi gelombang.

"Alat ini kami beri nama Senopati atau Sepuluh Nopember Pendeteksi Awal Tsunami. Alat ini sementara masih terbatas pada skala laboratorium atau elum difungsikan secara langsung," ujar Amien Widodo, Jumat (11/6/2021).

Amien mengungkapkan, Senopati bekerja dengan menggunakan prinsip refleksi gelombang, di mana ketinggian dari muka air bisa diukur oleh sensor untuk mendeteksi datangnya tsunami.

“Karena tsunami itu menyebabkan air laut surut, jadi kita lihat kalau ada air surut di waktu tertentu itu tanda adanya peringatan dini terhadap tsunami,” ucapnya.

Peneliti senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS ini mengatakan, prinsip yang digunakan pada refleksi gelombang diaplikasikan dalam dua sensor yaitu sensor ultrasonik dan sensor doppler.

"Gelombang ultrasonik mampu mendapatkan jarak pemantul gelombang dengan menggunakan prinsip Time of Light atau ToF atau metode yang digunakan untuk mengukur jarak antara sensor dan objek," ujarnya.

Sementara itu, lanjut Amien, sensor doppler memanfaatkan gelombang ultrasonik yang ditembakkan kepada objek dengan kemudian menghitung pergeseran frekuensi yang diterima sebagai nilai kecepatan benda bergerak.

“Jadi apabila ketinggian muka airnya surut dengan cepat, alat ini akan memberi tahu bahwa akan ada tanda-tanda terjadinya tsunami,” ucap peneliti berusia 62 tahun ini.

Mengenai cara kerja Senopati, menurut Amien, apabila diidentifikasi adanya penurunan ketinggian air dengan cepat, maka alat akan memunculkan warna merah dan buzzer menyala mengirimkan peringatan evakuasi.

"Pada penelitian tersebut, parameter kecepatan surut masih menggunakan nilai sintetis yang menyesuaikan ukuran dari model uji yang digunakan. Artinya, model uji coba belum menggunakan nilai asli dari kejadian di lapangan," ujarnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Penelitian Sejak 2019

Amien mengatakan, penelitian ini telah berlangsung sejak 2019 lalu dan terus dikembangkan hingga sekarang. Tujuan perancangan instrumen ini untuk membuat alat pendeteksi tsunami yang mudah diaplikasikan dan murah.

“Indonesia pada dasarnya memiliki sistem pendeteksi dini tsunami bernama Buoy. Sayangnya, kondisi instrumen tersebut saat ini hilang atau rusak karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab,” ucapnya.

Oleh karena rancang bangun alat yang masih terbatas pada skala laboratorium, Amien memaparkan bilamana kendala atau kekurangan yang ada pada Senopati masih belum menampakkan masalah signifikan.

"Evaluasi terhadap Senopati akan terus dilakukan seiring dengan pengembangan dan apabila alat bisa diterapkan langsung di lapangan atau di laut lepas," ujarnya. 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓