Upacara Kasada 2021, Bromo Kembali Akan Ditutup untuk Wisatawan

Oleh Liputan6.com pada 08 Jun 2021, 05:25 WIB
Diperbarui 08 Jun 2021, 05:25 WIB
Yadnya Kasada, Ritual Melarung Sajen ke Kawah Gunung Bromo
Perbesar
Sejumlah orang mencoba menangkap sajen yang dilemparkan ke kawah dalam ritual Yadnya Kasada di Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (18/7/2019). Ritual ini diselenggarakan berabad-abad silam saat manusia pertama kali mendiami kawasan kaki Gunung Bromo. (JUNI KRISWANTO/AFP)

Liputan6.com, Surabaya - Wisata Gunung Bromo kembali akan ditutup, seiring adanya upacara Yadnya Kasada 2021. Upacara  Kasada 2021 digelar tertutup untuk wisatawan, lantaran potensi penularan covid19 masih tinggi.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto menyebut, kebijakan larangan adanya wisatawan pada saat Yadnya Kasada di Gunung Bromo merupakan hasil dari keputusan bersama.

“Jadi tanpa dihadiri wisatawan yang menyaksikan. Karena saat ini kan masih dalam masa pandemi covid19. Kami mencegah penularan virus itu,” katanya, Senin (7/6/2021), dikutip dari TimesIndonesia.

Langkah itu juga sesuai dengan aturan dari pemerintah pusat. Kendati dilaksanakan terbatas hanya oleh Suku Tengger saja, protokol kesehatan secara ketat tetap dilaksanakan. Seperti memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Pengalaman tahun lalu, pelaksanaan Yadnya Kasada tanpa adanya pengunjung atau wisatawan, justru berlangsung lebih khidmat. Masyarakat Tengger Bromo bisa beribadah dan upacara keagamaan tanpa hiruk pikuk dan gangguan keramaian dari wisatawan. Atmosfer sakral dan khidmat, jauh terasa pada saat itu.

Sejauh ini, masyarakat adat Suku Tengger sudah memutuskan pelaksanaan Yadnya Kasada dilakukan tertutup. Termasuk koordinasi dengan stake holder terkait. Seperti pemerintah kabupaten setempat dan alai Besar (BB) Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

“Kami sudah memberitahukan secara informal pada pihak balai besar. Suratnya sedang di proses,” imbuh Bambang.

Humas BB TNBTS Sarif Hidayat mengaku belum menerima surat pemberitahuan dari PHDI.

“Sampai saat ini belum ada surat tertulis kepada kami,” tulisnya.

 

Wisatawan Mendukung

Pelaku wisata sendiri, memandang bahwa perayaan Yadnya Kasada tanpa wisatawan sangat penting. Selain karena untuk menghormati umat yang menjalankan ritual, desakan untuk ditutup itu lantaran untuk menghindari kerumaman dan penyebaran Covid 19.

“Kami dukung agar wisata ditutup aja saat Yadnya Kasada. Ya biar khusyuk dan mencegah kerumaman dan penyebaran covid 19,” Kata Pelaku wisata asal Malang, Mahmudi.

Lelaki yang akrab disapa mbah jenggot ini juga bilang, usulan darinya, merupakan perwakilan dari suara pelaku wisata lain. Para pelaku wisata berharap, otoritas setempat, BB TNBTS, segera mengeluarkan rilis resmi.

“Agar tamu tidak terlanjur booking. Akan lebih baik jika diumumkan jauh hari. Tidak mendadak mendekati hari pelaksanaan,” tegasnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓