3 Tahun Kenang Bom Surabaya, Forum Rumah Bersama Buka Bersama

Oleh Dian Kurniawan pada 11 Mei 2021, 00:07 WIB
Diperbarui 11 Mei 2021, 00:07 WIB
Peringatan 3 tahun bom gereja Surabaya dengan buka puasa bersama. (Dian Kurniawan/Liputan6.com)
Perbesar
Peringatan 3 tahun bom gereja Surabaya dengan buka puasa bersama. (Dian Kurniawan/Liputan6.com)

Liputan6.com, Surabaya - Forum Rumah Bersama Surabaya bersama Kepala Paroki Santa Maria Tak Bercela Romo Alexius Kurdo Irianto menggelar peringatan tiga tahun bom gereja sekaligus buka puasa bersama.

Kegiatan ini mengingatkan ajaran pluralisme seperti yang digaungkan Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.

"Saya senang, kegiatan seperti ini mulai muncul. Perlu didukung, jangan diremehkan. Karena kalau tidak, tidak ada momen. Ada emak-emak membuat rumah kebangsaan ini bagus," ujar Kepala Paroki Santa Maria Tak Bercela Romo Alexius Kurdo Irianto, Senin (10/5/2021).

Romo Kurdo mengaku dengan senang hati ikut dalam forum tersebut untuk menyumbang pemikiran. Baginya, kegiatan seperti ini harus terus digemakan agar Indonesia menjadi aman dan damai.

"Saya hanya tuan rumah yang dikunjungi. Mungkin ke depan saya akan bergabung. Saya cukup puas. Yang penting ada momen yang digemakan," ucap Romo Kurdo.

Salah satu anggota Forum Rumah Bersama Surabaya, Wiwik Endahwati menambahkan, pihaknya mengajak kaum perempuan untuk berani melawan ideologi radikalisme dengan menjadi duta perdamaian.

"Perempuan harus menginspirasi. Sejak peristiwa bom gereja di Surabaya tahun 2018, perempuan dan anak-anak semakin sering dilibatkan dalam aksi teror. Mereka ini adalah korban," ucapnya.

Menurutnya perempuan dan anak-anak seringkali dijadikan objek untuk melakukan gerakan tak bertanggung jawab.

Untuk itu melalui kegiatan bertema "Menolak Kekerasan Melalui Tuhan Yang Berhati Ibu" tersebut pihaknya mengajak perempuan kuat karena merupakan agen perdamaian.

"Kenapa perempuan, karena perempuan apalagi muslim saat peristiwa teror mereka adalah korban. Perempuan tidak sejahat itu. Perempuan harus menjadi agen perubahan," kata wanita yang juga Sekretaris Fatayat Nahdlatul Ulama Jawa Timur itu.

2 dari 3 halaman

SOP Peliputan

Selain ajaran Pluralisme Gus Dur, mengenang peristiwa bom gereja Surabaya, khususnya bagi Liputan6.com juga mengingatkan akan pentingnya Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam peliputan.

Selama dua hari liputan serangkaian peristiwa bom di Surabaya-Sidoarjo-Surabaya dan tanpa SOP peliputan yang benar (minimal memakai masker dan menjaga pola makan), alhasil liputan6.com secara tidak langsung juga menjadi korban.

Liputan6.com terserang infeksi virus Cacar yang menyebabkan ruam melepuh, seperti gatal pada kulit. Sakit ini diduga karena lipuatan6.com terlalu dekat mengambil foto potongan tubuh manusia yang hancur lebur akibat bom dan kelelahan bekerja selama 24 jam non stop, riwa-riwi dari satu Tempat Kejadian Perkara (TKP) ke lokasi lainnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓