VIDEO: Menilik Kapasan Dalam I Sebagai Kampung Pecinan Tertua di Surabaya

Oleh Yusron Fahmi pada 11 Feb 2021, 08:50 WIB
Diperbarui 11 Feb 2021, 08:50 WIB

Liputan6.com, Jakarta Inilah wajah kampung Kapasan Dalam I yang dikenal sebagai kampung pecinan tertua di Surabaya. Kampung tua pecinan ini menjadi alternatif tujuan wisata sejarah di Surabaya jelang perayaan Imlek. Di sini, pengunjung harus tetap mematuhi protokol kesehatan dampak pandemi Covid-19.

Banyak obyek menarik yang bisa dinikmati saat pertama memasuki kampung pecinan, atau pemukiman warga Tionghoa ini, di antaranya, ratusan lampion yang digantung di sepanjang jalan, serta aneka macam gambar mural bernuansa Tionghoa di setiap sudut kampung, juga memanjakan mata bahkan bisa dijadikan lokasi swafoto menarik. Berikut dilansir pada Liputan6, (10/2/2021).

Selain menikmati obyek menarik, warga yang berkunjung juga bisa belajar sejarah bangunan-bangunan yang bersejarah masih berdiri kokoh, menjadi saksi peradaban masyarakat Tionghoa di masa lalu di dalam kampung Kapasan Dalam I.

Salah satunya, bangunan gudang kayu berusia 200 tahun. Kabarnya, saat pertempuran 10 Nopember 1945, bangunan ini dijadikan sebagai rumah sakit darurat.

“Khususnya di kampung Pecinan, di sini di Kapasan Dalam khususnya banyak sekali tempat-tempat untuk dipelajari oleh teman-teman dari pelajar, mahasiswa-mahasiswi atau komunitas yang lain, terutama di sini banyak sekali, makna-makna dari mural atau lukisan-lukisan ini, menunjukkan bahwa di sini rata-rata mengisahkan tentang alur Dinasti Cing, dan untuk khususnya di Kapasan Dalam ada juga semacam punden, masih diadakan setiap tahun untuk acara sedekah bumi,” terang Donny Jung, Pemandu Wisata Kampung Pecinan.

Di sini juga terdapat bangunan klenteng Boen Bio, yang menjadi satu-satunya klenteng dengan sebutan Guru Besar untuk umat Konghucu di Asia Tenggara. Untuk bisa berwisata di kampung Pecinan Kapasan Dalam I ini, pengunjung cukup membayar Rp 5.000.