Dosen Ini Jadi Pendonor Plasma Darah Konvalesen Pertama di Kota Kediri

Oleh Liputan6.com pada 21 Jan 2021, 09:06 WIB
Diperbarui 21 Jan 2021, 09:06 WIB
Plasma darah
Perbesar
Ilustrasi donor darah (Foto: Pixabay/Ahmad Ardity)

Liputan6.com, Jakarta Seorang dosen perguruan tinggi swasta di Kota Kediri, Jawa Timur, menjadi orang pertama yang melakukan donor plasma konvalesen guna membantu penanganan pasien terpapar COVID-19.

Kepala Unit Tranfusi Darah PMI Kota Kediri dr Ira Widyastuti mengungkapkan donor plasma konvalesen tersebut didapatkan setelah PMI Kota Kediri melakukan serangkaian seleksi.

"Sejak September 2020 hingga Januari 2021 ada 60 orang penyintas yang mendaftar sebagai peserta donor plasma konvalesen, tetapi dari 60 orang itu baru dua orang yang memenuhi syarat. Satu warga Kediri, satunya warga Tulungagung. Untuk warga Tulungagung belum bisa kami hubungi kembali," kata Ira di Kediri, Rabu.

Ia mengungkapkan prosedur ketat diterapkan bagi penyintas COVID-19 yang ingin melakukan donor plasma konvalesen. Petugas melakukan pengecekan apakah peserta donor memenuhi syarat, seperti jenis kelamin laki-laki, usia 18-60 tahun, berat badan hingga tekanan darah tinggi, dilansir dari Antara.

Sementara itu, dosen PTS yang merupakan penyintas COVID-19 itu adalah Heru Sutapa, warga Kelurahan Kampung Dalem, Kota Kediri. Ia sebelumnya pernah terpapar COVID-19 dan kini telah dinyatakan sembuh. Ia melakukan donor plasma konvalesen di PMI Kota Kediri.

Heru Sutapa mengungkapkan dirinya ingin mendonorkan plasma konvalesen karena telah berjanji ketika dia sembuh dari COVID-19 akan menjadi pendonor. Ia bersyukur setelah melakukan serangkaian pemeriksaan telah lolos dan dinyatakan bisa melakukan donor plasma konvalesen.

"Saya dinyatakan positif COVID-19 pada 23 Desember 2020 dan dinyatakan sembuh pada 4 Januari 2021. Pada saat sakit, saya berjanji jika sembuh akan melakukan donor plasma," kata pria yang juga dosen dari sebuah universitas swasta di Kota Kediri itu.

 

2 dari 3 halaman

Menjaga Stres

hendi donor
Perbesar
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi ketika diambil darahnya sebagai donor plasma kovalesen. (foto: Liputan6.com/Septi Nur Eka Mafiroh/edhie prayitno ige)

Heru mengakui untuk bisa sembuh butuh perjuangan, salah satunya menjaga stres. Sebab, ketika orang dinyatakan positif COVID-19, pasien akan merasa stres. Hal itu akan membuat pasien malas makan dan sebagainya. Dirinya terus berjuang hingga akhirnya dinyatakan sembuh.

"Awalnya saya juga stres saat tahu pertama positif COVID-19. Namun, saya coba menjaga pikiran saya agar tidak stres dan memaksa untuk makan," kata dia.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr Fauzan Adima mengatakan angka kematian akibat COVID-19 di Kota Kediri mengalami peningkatan. Data Selasa (19/1) jumlah yang meninggal 90 orang, padahal Senin (18/1) angka warga yang meninggal COVID-19 adalah 87 orang.

Pria yang juga Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Kota Kediri ini menambahkan, pemerintah kota tidak mau hal ini terus berlanjut sehingga berupaya mencari solusi terbaik untuk menekan angka kematian akibat COVID-19 di Kota Kediri. Hingga membuat terobosan dengan program "Gedor Pasen" tersebut.

"Jadi Gedor Pasen atau gerakan donor plasma darah konvalesen ini merupakan upaya Pemkot Kediri untuk menekan angka kematian akibat COVID-19," ujar dr Fauzan.

Fauzan berharap melalui aksi kemanusiaan ini, banyak penyintas COVID-19 yang tergerak hatinya dan mau mendonorkan plasma darahnya untuk terapi penyembuhan pasien COVID-19 di Kota Kediri.

Di Kota Kediri, data per Selasa (19/1), warga yang terkonfirmasi positif COVID-19 mencapai 901 orang. Dari jumlah itu, 47 orang masih dirawat, tiga orang masih dipantau, 761 orang telah sembuh dan 90 meninggal dunia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓