Kemenhub Beri Bantuan 150 Unit Bus Operasional untuk Surabaya

Oleh Dian Kurniawan pada 22 Okt 2020, 19:48 WIB
Diperbarui 22 Okt 2020, 19:49 WIB
(Foto: Dok Humas Pemkot Surabaya)
Perbesar
Pemkot Surabaya teken nota kesepahaman atau MoU dengan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia tentang perencanaan, pembangunan dan pengoperasian angkutan perkotaan di Surabaya, Kamis (22/10/2020). (Foto: Dok Humas Pemkot Surabaya)

Liputan6.com, Surabaya - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan mendapatkan bantuan bus operasional sekitar 150 unit untuk angkutan perkotaan di Surabaya, Jawa Timur.

Hal ini setelah Pemkot Surabaya teken nota kesepahaman atau MoU dengan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia tentang perencanaan, pembangunan dan pengoperasian angkutan perkotaan di Surabaya, Kamis (22/10/2020).

Penandatanganan itu dilakukan langsung oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) dengan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub RI, Budi Setiyadi, di Balai Kota Surabaya.

Dengan teken MoU itu, Kemenhub akan memberikan bantuan  bus operasional sekitar 150 unit untuk angkutan perkotaan di Surabaya.

Program yang disebut Buy The Service (BTS) itu sebelumnya sudah dilakukan di beberapa kota di Indonesia, kemudian pada 2021, akan dilaksanakan di Surabaya.

"Jadi, kami punya program itu dan anggarannya, sehingga nanti habis ini kita akan lelangkan kepada operator swasta untuk menjalankan bus angkutan perkotaan itu," kata Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub RI, Budi Setiyadi, seusai acara MoU, seperti dikutip dari keterangan tertulis.

Dia menuturkan, dari perkiraan dan hasil survei yang dilakukan, di Surabaya ini akan mendapatkan anggaran yang paling banyak, karena membutuhkan 8-9 koridor. Artinya, membutuhkan sekitar 150 unit bus.

"Bahkan, nanti yang di Surabaya ini juga untuk mendukung Piala Dunia U-20, sehingga anggarannya cukup banyak," ujar dia.

Budi juga menjelaskan, konsep bus itu nantinya akan disesuaikan dengan keinginan masyarakat Surabaya, yaitu murah, cepat, nyaman, dingin dan mudah diakses oleh masyarakat.

"Jadi, konsepnya nanti modern, sesuai dengan keinginan anak-anak milenial,” kata dia.

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 4 halaman

Bentuk Kebiasaan Pakai Kendaraan Umum

(Foto: Dok Humas Pemkot Surabaya)
Perbesar
Pemkot Surabaya teken nota kesepahaman atau MoU dengan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia tentang perencanaan, pembangunan dan pengoperasian angkutan perkotaan di Surabaya, Kamis (22/10/2020). (Foto: Dok Humas Pemkot Surabaya)

Ia juga menuturkan, program BTS ini filosofinya untuk memindahkan kebiasaan, kebudayaan dan mindset masyarakat yang ketergantungan dengan kendaraan pribadi beralih ke angkutan umum.

Bahkan, untuk menarik minat masyarakat supaya beralih ke kendaraan umum itu nantinya bisa digratiskan dulu, supaya terbentuk terlebih dahulu perilaku atau kebiasaannya menggunakan angkutan umum.

"Baru setelah itu nanti mungkin akan berbayar. Bahkan, nanti kemampuan untuk membayar itu kita akan survie kemampuannya dan pasti akan ada subsidinya," ujarnya.

Sedangkan untuk lelangnya, ia memastikan akan melalui e-katalog sekitar November-Desember. Oleh karena itu, ia berharap sekitar Maret sudah bisa dimulai di beberapa koridor.

"Sementara untuk jam operasionalnya, belum kita tentukan, mungkin sampai jam 10 malam tergantung koridornya,” imbuhnya.

3 dari 4 halaman

Bakal Terkoneksi dengan Kota Penyangga

(Foto: Dok Humas Pemkot Surabaya)
Perbesar
Pemkot Surabaya teken nota kesepahaman atau MoU dengan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia tentang perencanaan, pembangunan dan pengoperasian angkutan perkotaan di Surabaya, Kamis (22/10/2020). (Foto: Dok Humas Pemkot Surabaya)

Sementara itu, Wali Kota Risma mengaku sebenarnya meminta sembilan koridor kepada Kemenhub, sehingga apabila ini bisa dipenuhi, semua koridor di Surabaya bisa terpenuhi semuanya.

"Nanti juga bisa terkoneksi dengan kota-kota penyangga," ujar dia.

Presiden UCLG ASPAC ini juga memastikan sudah memiliki rencana besar untuk transportasi di Kota Surabaya. Namun, rencana besar itu bubar karena adanya pandemi Covid-19.

"Oleh karena itu, saya menyampaikan terimakasih banyak karena kami diberi kesempatan untuk menangani transportasi ini dengan bantuan dari Kemenhub,” imbuhnya.

Ia juga sempat menyampaikan analisanya selama pandemi COVID-19. Menurut dia, angka kematian di Kota Surabaya tinggi karena memang banyak pasien yang memiliki penyakit penyerta. Penyakit penyerta itu disebabkan karena kurang gerak, terbukti ketika bekerja mulai dari rumah hingga kantor menggunakan motor atau kendaraan pribadi. Bahkan, kalau hari libur sering traveling.

"Makanya saya sampaikan kepada teman-teman Dinas Perhubungan, kita harus berani mengambil lajur untuk angkutan umum dan sepeda, karena kalau naik angkutan umum dia masih bisa berjalan, minimal berjalan meskipun hanya 100 meter, tapi dia sudah ada gerak, berbeda kalau naik kendaraan pribadi,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia meminta kepada Dishub untuk terus menggalakkan sosialisasi pentingnya naik angkutan umum. Bahkan, ia juga meminta Dishub untuk menyiapkan parkir-parkir sepeda supaya warga Surabaya bisa tertarik untuk menggunakannya. “Ini semua penting untuk mengubah perilaku itu, sehingga komorbidnya juga bisa berkurang,” pungkasnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓