Tiga Mahasiswa ITS Surabaya Gagas Inovasi Bantu Olah Sampah Organik

Oleh Dian Kurniawan pada 16 Okt 2020, 06:00 WIB
Diperbarui 16 Okt 2020, 06:00 WIB
(Foto: Dok ITS)
Perbesar
Tim SansBoss ITS mengusulkan inovasi teknologi untuk mengolah sampah organik rumah tangga. (Foto: Dok ITS)

Liputan6.com, Surabaya - Tiga mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi, Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, yang tergabung dalam tim SansBoss mengusulkan inovasi teknologi untuk mengolah sampah organik rumah tangga.

Inovasi ini mengembangkan teknologi kontrol suhu dan kelembaban berbasis Internet of Things (IoT) guna mengembangbiakkan larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Larva lalat itulah yang kemudian digunakan mengolah sampah organik skala rumah tangga.

Ketua Tim SansBoss ITS, Achmad Maulana Ali Ulumuddin menuturkan, kegiatan rumah tangga selalu menyisakan sampah-sampah organik seperti sisa bahan makanan. Sampah sejenis itu bahkan tak jarang menimbulkan bau tak sedap dan mencemari lingkungan.

"Bahkan, timbunan sampah organik juga menjadi tempat hidup para serangga berbahaya," ujar dia, seperti ditulis Jumat, (16/10/2020).

Pria yang akrab disapa Alan ini mengatakan, sebelumnya budidaya lalat BSF telah dimanfaatkan untuk pengolahan sampah organik di Indonesia. Larva BSF dapat mendegradasi sampah organik dengan mengekstrak energi dan nutrien dari sampah sayuran, sisa makanan, bangkai hewan, dan kotoran sebagai bahan makanannya.

Hal ini menggerakkan Alan bersama dua rekannya, yakni Evan Yudha Pratama dan Gita Marcella Khoirun Nissa, untuk mempelajari berbagai artikel ilmiah mengenai metode pengolahan sampah tersebut. Meski mudah dikembangbiakkan, mereka menemukan fakta bahwa larva BSF jauh lebih aktif pada kondisi yang hangat.

"Saat kondisi lingkungan tepat, maka larva BSF mampu mendegradasi sampai dengan 80 persen jumlah sampah organik yang diberikan," tutur dia.

2 dari 3 halaman

Mampu Mengatur Tempat Budidaya Larva agar Optimal

(Foto: Dok ITS)
Perbesar
Tim SansBoss ITS mengusulkan inovasi teknologi untuk mengolah sampah organik rumah tangga. (Foto: Dok ITS)

Alan mengatakan, larva BSF akan bertumbuh dengan optimal pada temperatur sekitar 29-33 derajat celcius dan tingkat kelembapan sekitar 29 -33 persen. Mengingat kondisi cuaca di Indonesia yang tidak menentu, ketiganya merancang inovasi teknologi yang mampu mengatur tempat budidaya larva lalat BSF agar selalu dalam kondisi optimal. 

"Sehingga larva mampu berkembang dengan aktif dan memakan sampah organik dalam jumlah besar dengan cepat,” ujar mahasiswa angkatan 2017 ini.

Berbekal ilmu otomasi dan sistem kontrol yang didapat di bangku perkuliahan, mereka melengkapi inovasi yang dinamai KOMBO ini dengan sensor suhu, sensor kelembapan udara, dan exhaust fan. Sehingga, dapat dilakukan mekanisme kontrol otomatis terhadap suhu dan kelembapan tempat budidaya.

"Alat ini juga dilengkapi dengan sistem IoT, sehingga pemantauan kondisi tempat budidaya dapat dilakukan dari jarak jauh melalui aplikasi gawai,” tambahnya.

Selain dapat mendegradasi sampah organik, Alan juga menerangkan bahwa larva BSF memiliki nilai ekonomis lain. Inilah yang membuat metode pengolahan sampah organik ini lebih dipilih Alan dan timnya.

"Larva BSF yang sudah dikembangbiakkan bisa digunakan juga sebagai bahan pakan ternak serta obat diabetes," ujar dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓