Penjelasan BMKG Juanda Terkait Kemunculan Fenomena Halo Matahari

Oleh Agustina Melani pada 27 Sep 2020, 17:04 WIB
Diperbarui 27 Sep 2020, 17:05 WIB
(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Perbesar
Taman Mozaik di Surabaya, Jawa Timur. (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda menjelaskan mengenai munculnya fenomena halo di Surabaya, Sidoarjo dan sekitarnya serta daerah lainnya di Jawa Timur.

Kasi Data dan Informasi BMKG Juanda Surabaya, Teguh Tri Susanto menuturan, halo merupakan fenomena optis berupa lingkaran cahaya di sekitar matahari ini merupakan pembiasan sinar matahari oleh awan tinggi.

"Awan yang membiaskan sinar matahari itu merupakan awan tipis cirrus yang berada pada ketinggian 6.000 meter dari permukaan bumi. Awan cirrus ini mempunyai partikel yang sangat dingin dan biasanya berwujud kristal es,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (27/9/2020).

Ia menuturkan, awan cirrus (awan tinggi) yang super dingin inilah yang membiaskan cahaya matahari sehingga membentuk seperti cincin yang melingkari matahari.

"Peristiwa munculnya fenomena halo yang terpantau pukul 10.00 WIB. Ini adalah peristiwa biasa seperti halnya pelangi dan bukan pertanda bencana, seperti gempa atau lainnya,” ujar dia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

BMKG Juanda Imbau Warga Tak Perlu Panik

Oleh karena itu, Teguh menuturkan, masyarakat tidak perlu panik atau terpengaruh dengan mitos dan informasi yang bisa menyesatkan terkait fenomena tersebut. Fenomena tersebut merupakan hal wajar.

"Dan biasanya kalau sudah beberapa saat setelah matahari bersinar dan memanaskan partikel air yang super dingin di awan cirrus, maka fenomena itu akan hilang," kata dia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓