Lonjakan Jumlah Pasien Positif Corona COVID-19 di Surabaya Saat PSBB

Oleh Agustina MelaniDian Kurniawan pada 30 Mei 2020, 20:16 WIB
Diperbarui 31 Mei 2020, 17:08 WIB
Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19
Perbesar
Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19. Kredit: Fernando Zhiminaicela via Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Pasien positif Corona COVID-19 di Surabaya, Jawa Timur (Jatim) masih menunjukkan. Hingga 29 Mei 2020, total pasien positif Corona COVID-19 di Surabaya mencapai 2.394 orang.

Saat ini, Surabaya pun melaksanakan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bersama Gresik, dan Sidoarjo. PSBB di wilayah tersebut dikenal dengan PSBB Surabaya Raya. Penerapan PSBB ini untuk menekan laju penyebaran Corona COVID-19.

PSBB tersebut sudah berjalan selama tiga tahap. Pada tahap pertama, PSBB berlangsung 28 April-11 Mei 2020. Kemudian dilanjutkan PSBB tahap dua pada 12 Mei 2020-25 Mei 2020.

Perpanjangan PSBB ini berdasarkan telaah epideomologi yang dilakukan tim Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair, infeksi dari COVID-19 memiliki masa lebih panjang dari yang telah ditentukan awal yakni 14 hari. Kemudian PSBB Surabaya Raya kembali diperpanjang ke tahap ketiga pada 26 Mei 2020-8 Juni 2020.

Selama berlangsung PSBB di Surabaya, jumlah pasien positif Corona COVID-19 masih menunjukkan kenaikan. Berdasarkan data persebaran COVID-19 Surabaya, jika dihitung selama PSBB tahap pertama berlangsung, ada tambahan sekitar 377 pasien terkonfirmasi positif Corona COVID-19. Jumlah pasien positif tersebut bertambah pada pelaksanaan PSBB tahap kedua. Tercatat tambahan pasien positif Corona COVID-19 di Surabaya, Jawa Timur mencapai 1.354 orang selama PSBB tahap kedua.

Pada PSBB tahap kedua, ada lonjakan pasien positif sebanyak 311 orang pada 21 Mei 2020. Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (Risma) menuturkan, hal tersebut lantaran Pemkot Surabaya masif menggelar rapid test. Dari 311 orang yang positif Corona COVID-19, 48 adalah orang dengan risiko (ODR). 

"Namun yang ingin saya sampaikan, kenaikan ini karena kita masif melakukan rapid test dan kemudian kalau reaktif ditindaklanjuti oleh swab. Mungkin bapak ibu sekalian kaget," ujar dia usai rapat koordinasi Analisa dan Evaluasi Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Surabaya bersama jajaran kepolisian dan TNI, Jumat, 22 Mei 2020.

Risma juga menuturkan, berbagai upaya dalam memutus pandemi COVID-19. Salah satu yang saat ini tengah gencar dilakukan adalah rapid test dan swab massal di sejumlah wilayah. Terutama daerah yang terdapat warga menjadi penularan COVID-19.

"Kenapa kemudian kami bisa memantau siapa saja yang terkonfirmasi. Karena setelah kami membuat klaster, kemudian kami menghubungkan dengan data kependudukan. Misalnya yang ada di daerah Rungkut,” ujar dia.

Pada tahap ketiga, jumlah pasien positif Corona COVID-19 bertambah 94 orang pada 29 Mei 2020, lalu pada 28 Mei ada tambahan sebanyak 84 orang. Sementara itu, pada 27 Mei 2020, tambahan pasien positif Corona COVID-19 sebanyak 98 dan 26 Mei 2020, ada tambahan pasien positif sebanyak 23 orang.

 

2 dari 4 halaman

Masih Banyak Orang Berkerumun dan Tak Patuh

Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19.
Perbesar
Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19. Kredit: Fernando Zhiminaicela via Pixabay

Tim Advokasi PSBB dan Survailans, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Windhu Purnomo menilai, ketidakpatuhan masyarakat sehingga ada tambahan pasien positif Corona COVID-19.

Kalau dilihat secara epidemiologi, rate of transmission (rt) atau tingkat penularan, menurut Windhu, pada PSBB tahap pertama, angka rt di Surabaya berada di 1,9. Sedangkan pada PSBB tahap kedua berada di angka 2,1.

"Kalau rt di angka 2 artinya setiap dua orang terinfeksi COVID-19 menulari dua orang dalam masa inkubasi 16-19 hari,” ujar Windhu saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu, 30 Mei 2020.

Windhu mengatakan, tingkat penularan Corona COVID-19 lebih tinggi di Surabaya pada PSBB tahap kedua lantaran masih banyak orang berkerumun. Apalagi ada momen menyambut Lebaran sehingga aktivitas masyarakat meningkat terutama untuk belanja, mencari baju baru dan lainnya.

Di sisi lain, Windhu melihat masyarakat pun belum patuh protokol kesehatan dengan memakai masker.  "Droplet itu bisa mencapai 1,5 meter, jadi pakai masker. Nah ini, masih ada orang berkerumun, mencari barang tapi berdekatan, tak pakai masker, ini dapat membuat penularan lebih banyak," ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu (30/5/2020).

Saat ini, menurut Windhu, rt di Surabaya berada di angka 1,4. Ia mengharapkan tingkat penularan COVID-19 di Surabaya dapat di bawah 1,4. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tetap di rumah. Kalau ke luar rumah bila memang ada hal-hal penting, misalkan mencari bahan pokok.

3 dari 4 halaman

IDI Surabaya: Harus Ada Peran Serta Masyarakat

(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Perbesar
Kamera CCTV yang dipasang di sejumlah persimpangan jalan di Surabaya, Jawa Timur. (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Sementara itu, Ketua IDI Surabaya Brahmana Askandar mengatakan, saat ini kondisi rumah sakit penuh. Oleh karena itu, rantai penularan COVID-19 harus diputus.

“Seberapa besar pengembangan rumah sakit tidak akan begitu bermanfaat ketika sumbernya masih banyak. Harus ada peran serta masyarakat,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, jangan sampai yang sakit melebihi kapasitas fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, ia mengimbau untuk mematuhi anjuran pemerintah, menerapkan jaga jarak, cuci tangan, dan bila tidak ada keperluan penting sebaiknya di rumah saja.

“Pakai masker dengan benar. Dalam arti memakai masker bukan untuk syarat saja, tapi dipakai tidak benar, masih melorot. Memakai masker karena untuk tidak tertular, maupun tidak menularkan,” ujar dia.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓