Pemprov Jatim Bakal Terapkan Zonasi Laboratorium PCR Tes COVID-19, Ini Alasannya

Oleh Agustina Melani pada 23 Mei 2020, 13:35 WIB
Diperbarui 23 Mei 2020, 13:37 WIB
Ilustrasi Covid-19, virus corona

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan menerapkan zonasi laboratorium PCR dalam rangka tes Corona COVID-19. Hal ini juga untuk menghindari penumpukan sampel sehingga antisipasi lonjakan kasus.

Dalam akun instagram resmi Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak @emildardak menjelaskan mengenai angka kasus baru positif Corona COVID-19 pada 21 Mei 2020. Angka kasus baru pada 21 Mei 2020 dinilai juga lantaran ada tumpukan hasil tes tiga hari sejak 18-20 Mei 2020.

"Di satu sisi ini menunjukkan pentingnya peningkatan kapasitas tes PCR swab (Jatim) sudah tingkatkan jadi 1.500 lebih tes per hari, maka tumpukan 1.500 specimen di Institute of Tropical Disease (ITD) akhirnya bisa ditangani dengan diberikannya 10 ribu reagen tes PCR oleh pemprov,” tulis Emil dalam akun instagramnya, seperti dikutip Jumat, 22 Mei 2020.

Oleh karena itu, untuk menghindari penumpukan sampel, ke depan diterapkan zonasi laboratorium  PCR. Hal ini akan berdasarkan bakorwil, penambahan lab baru dan pembagian cartridge tcm.

"Di sisi lain ini menunjukkan banyaknya kasus COVID-19 di Jatim yang mana mereka tidak menunjukkan gejala apapun. Maka kita harus semakin waspada dan berhati-hati, disiplin menghindari kerumunan dan semakin serius menerapkan physical distancing,” ujar dia.

Hal senada dikatakan Tim Advokasi PSBB&Survailans, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Dr Windhu Purnomo. "Keterlambatan. ITD Unair tiga hari tidak melaporkan, utang yang di ITD ada 480 buat lonjakan 502. Itu karena utang tiga hari pada 18-20 (Mei-red),” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu (23/5/2020).

Windhu menuturkan, laboratorium juga kadang hadapi reagen kosong sehingga belum dapat dilakukan tes COVID-19. "Tujuh hari lalu tes diumumkan sekarang. Kalau case epidemiologi itu tanggal ketika positif pertama alami gejala,” kata dia.

2 dari 3 halaman

Perkembangan Kasus Corona COVID-19 di Jatim pada 21 Mei 2020

(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Ketua Gugus Kuratif Covid-19 Jatim, Joni Wahyuhadi (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Sebelumnya, jumlah kasus Corona COVID-19 bertambah signifikan di Jawa Timur (Jatim). Pada hari ini tercatat ada penambahan 502 kasus baru pasien positif dan penyumbang terbanyak adalah Surabaya yaitu 311 kasus. 

Penambahan kasus terbanyak Corona COVID-19 kedua di Jatim juga masih dari kawasan Surabaya Raya. Tercatat ada 57 pasien baru terinfeksi virus SARS CoV-2 di Sidoarjo. Kemudian disusul Kabupaten Probolinggo 31 kasus baru serta di Gresik menyumbang 27 kasus positif COVID-19.

Kemudian tambahan kasus baru juga terjadi tiga di Kota Malang dan masing-masing dua kasus di Kota Pasuruan, Kota Batu, Kabupaten Mojokerto, Lamongan, Bangkalan lalu Bojonegoro. Sedangkan di Kota Blitar, Kabupaten Kediri, Kota Probolinggo, Magetan, Kabupaten Malang dan Tuban masing-masing tambah satu kasus. 

Dari rincian tersebut, total tambahan positif Corona COVID-19 di Jatim diketahui domisilinya 451 kasus. Sedangkan sisanya 51 kasus masih dicari domisilinya. 

"Hari ini diumumkan sejumlah angka itu (502), kemudian telisik ulang sebanyak 451 kasus (diketahui domisilinya)," ujar Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dr. Joni Wahyuhadi dalam konferensi pers live streaming youtube di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis malam, 21 Mei 2020.

Banyaknya penambahan ini disebabkan jumlah angka penularan di dalam klaster diakui oleh tim tracing terus melonjak. Bahkan, terbaru ada temuan klaster rumah sakit yang menjangkit beberapa tenaga kesehatan mulai perawat hingga dokter.

"Jadi memang yang ada penambahan di klaster yang ada. Yang baru itu dari nakes (tenaga kesehatan) ada positif COVID-19, 20 orang, 12 di antaranya nakes, empat dokter, tiga spesialis," Ketua Rumpun Tracing, dr. Kohar Hari Santoso.

"Lainnya penambahan klaster yang sudah ada. Ada kelompok melakukan perjalanan luar negeri. Jumlahnya enggak terlalu besar tapi potensi klaster. Di samping itu ada perjalanan luar kota," dia menambahkan.

Lebih lanjut, pasien sembuh dari COVID-19 jumlahnya bertambah 10 orang. Total yang sembuh sekarang 413 orang atau 14,04 persen. Kemudian pasien meninggal dunia bertambah 15 orang, sehingga totalnya saat ini 258 orang setara 8,77 persen.

Terkait jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang masih diawasi 2.296 dari jumlah total kasus 5.267 orang. Kemudian Orang Dalam Pemantauan yang masih dipantau 3.989 dari total kadus 23.271 orang.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓