Penjelasan Risma Terkait Jumlah Pasien Positif Corona COVID-19 Meroket di Surabaya

Oleh Dian Kurniawan pada 22 Mei 2020, 17:50 WIB
Diperbarui 23 Mei 2020, 07:41 WIB
(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Liputan6.com, Surabaya - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) menjelaskan mengenai penambahan pasien positif Corona COVID-19 yang meroket di Surabaya, Kamis 21 Mei kemarin. 

Dia menuturkan, hal tersebut lantaran Pemkot Surabaya masif menggelar rapid test. Dari 311 orang yang positif Corona COVID-19, 48 adalah orang dengan risiko (ODR). 

"Namun yang ingin saya sampaikan, kenaikan ini karena kita masif melakukan rapid test dan kemudian kalau reaktif ditindaklanjuti oleh swab. Mungkin bapak ibu sekalian kaget," ujar dia usai rapat koordinasi Analisa dan Evaluasi Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Surabaya bersama jajaran kepolisian dan TNI, Jumat (22/5/2020).

Risma juga menuturkan, berbagai upaya dalam memutus pandemi COVID-19. Salah satu yang saat ini tengah gencar dilakukan adalah rapid test dan swab massal di sejumlah wilayah. Terutama daerah yang terdapat warga menjadi penularan COVID-19.

"Kenapa kemudian kami bisa memantau siapa saja yang terkonfirmasi. Karena setelah kami membuat klaster, kemudian kami menghubungkan dengan data kependudukan. Misalnya yang ada di daerah Rungkut,” ujar dia di Graha Sawunggaling Lantai 6, Gedung Pemkot Surabaya. 

Dalam kesempatan itu, Risma apresiasi atas dukungan dari semua pihak dalam upaya memutus mata rantai Corona COVID-19. Menurut dia, situasi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan oleh masyarakat. 

Oleh sebab itu, berbagai dukungan yang mengalir itu akan membantu wali kota perempuan pertama di Surabaya ini dalam memutus mata rantai penyebaran virus tersebut.

"Dengan support ini saya percaya kita bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan tepat. Sering kali kita lakukan negosiasi atau upaya persuasif saat meminta mereka (warga yang terkonfirmasi) untuk ke rumah sakit," kata Wali Kota Risma usai rapat yang dihadiri Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Mohammad Fadil Imran, Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Widodo Iryansyah beserta Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Kota Surabaya. 

2 dari 5 halaman

Upaya Pemkot Surabaya

(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Berbagai upaya lain dalam penanganan Covid-19 juga dipaparkan oleh Wali Kota Risma. Di antaranya, membuat rumah sakit darurat yakni Asrama Haji, Sukolilo, yang disulap menjadi ruang isolasi dan perawatan pasien. Sebab, beberapa rumah sakit tidak menerima pasien anak-anak, sehingga diputuskan untuk diisolasi di tempat tersebut. 

"Jadi satu keluarga dimasukkan ke sana. Mengingat rumah sakit tidak dapat menampung anak-anak. Kita juga kasih mainan,” ungkapnya.

Presiden UCLG Aspac ini pun memaparkan, pihaknya juga menggandeng RS Husada Utama untuk penambahan ruang isolasi perawatan pasien. Oleh karena itu, ruang pertemuan di rumah sakit itu diubah menjadi tempat perawatan dengan kapasitas 200 tempat tidur. "Jadi pasien yang positif bisa kami langsung rawat di sana," kata dia.

Tidak hanya persoalan kesehatan saja, tetapi dampak sosial ekonomi juga menjadi perhatian yang segera diselesaikan. Itulah sebabnya pihaknya terus memantau data yang ada di RT/RW dan memberikan bantuan kepada warga yang terdampak. 

"Ada orang yang mau bicara kalau mereka tidak mampu. Ada juga yang hanya diam saja karena belum tercover bantuan dari kami,” lanjut dia.

Wali kota perempuan pertama di Kota Surabaya ini pun menegaskan, hingga saat ini sebanyak 17 kawasan perbatasan terus dilakukan pemantauan setiap hari. Meskipun ini berat, tetapi tidak menjadi permasalahan. 

"Saya matur nuwun (terima kasih) kemarin dibantu Bapak Kapolda menyelesaikan permasalahan di perbatasan,” tuturnya.

3 dari 5 halaman

Buat Kampung Tangguh

(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Dalam waktu dekat, Wali Kota Risma beserta jajarannya akan membuat Kampung Tangguh sesuai arahan dari Kapolda Jatim Irjen Pol Mohammad Fadil Imran. Ia memastikan, nantinya kampung tersebut dapat berfungsi untuk menyerap aspirasi masyarakat yang dikelola langsung oleh perwakilan masyarakat atau LPMK. “Nanti saya akan koordinasi dengan camat se-Surabaya,” ungkapnya.

Sementara itu, Kapolda Jatim, Irjen Pol Mohammad Fadil Imran menambahkan, untuk mengatasi pandemi di Surabaya, pihaknya bersama jajaran TNI mendukung penuh upaya pemerintah. Namun demikian, ia berharap, masyarakat bisa meningkatkan kedisiplinan. Baginya, disiplin adalah vaksin Covid-19.

"Ini cara kami untuk mendukung Bu Risma, kuncinya adalah disiplin. Mari kita sosialisasikan secara masif melalui kanal sosmed (sosial media) masing-masing. Disiplin adalah vaksin corona," kata Kapolda Jatim.

 

4 dari 5 halaman

Kasus Positif Corona COVID-19 Bertambah 311 pada 21 Mei 2020 di Surabaya

(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Kamera CCTV yang dipasang di sejumlah persimpangan jalan di Surabaya, Jawa Timur. (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Jumlah pasien positif Corona COVID-19 di Surabaya, Jawa Timur mencapai 1.566 orang hingga Kamis, 21 Mei 2020. Hal itu didorong ada tambahan kasus baru sebanyak 311 dalam sehari.

Mengutip peta sebaran Corona COVID-19 di laman lawancovid-19, Jumat (22/5/2020), berdasarkan sumber dinas kesehatan Kota Surabaya, total kasus positif Corona COVID-19 mencapai 1.566 orang. Rincian kasus positif Corona COVID-19 sebanyak 1.481 orang dari Surabaya dan 85 orang dari luar Surabaya hingga 21 Mei 2020.

Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan COVID-19 Jawa Timur, tambahan pasien positif Corona COVID-19 sebanyak 502 orang sehingga total menjadi 2.942 orang.

Selain dari Surabaya ada tambahan 311 kasus, penambahan kasus antara lain 57 pasien baru terinfeksi virus SARS CoV-2 di Sidoarjo. Kemudian disusul Kabupaten Probolinggo 31 kasus baru serta di Gresik menyumbang 27 kasus positif COVID-19.

"Hari ini diumumkan sejumlah angka itu (502), kemudian telisik ulang sebanyak 451 kasus (diketahui domisilinya)," ujar Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dr. Joni Wahyuhadi pada Kamis, 21 Mei 2020.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Djazuly Chalidyanto menuturkan,dari sudut pandang epideomologi, lonjakan kasus positif Corona COVID-19 jdi hal positif. Hal ini karena tes Corona COVID-19 masif dilakukan baik lewat rapid test dan tes swab PCR. Djazuly mencontohkan seperti dilakukan Pemerintah Kota Surabaya yang gencar gelar rapid test.

“Tidak masalah. Hal positif dari sudut pandang epideomologi,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Selain itu, ia juga menduga  tes masif terkait Corona COVID-19 gencar dilakukan untuk mengantisipasi libur Lebaran.

"Pengelola lab meningkatkan pemeriksaan jelang Lebaran. Jadi kapasitas tes ditingkatkan, jadi cepat diperiksa. Ini sangat wajar,” ujar dia.

Meski demikian, ia melihat kalau belum ada kurva epideomologi lantaran tes yang tidak dilakukan secara masif sebelumnya. Hal ini berdampak terhadap hasil data kasus Corona COVID-19. Ini ditunjukkan dari data kasus Corona COVID-19 yang belum stabil.

"Sekarang banyak, dua tiga hari sepi, jadi naik turun kurvanya,”  kata dia.

Menurut Djazuly, tes Corona COVID-19 seharusnya ditargetkan dalam satu hari dan dipenuhi target tersebut.  Akan tetapi, saat ini, ia melihat masih ada masalah kecepatan dan screening kasus Corona COVID-19. Hal ini membuat Indonesia kalah dengan Selandia Baru dan Korea Selatan yang masif gelar tes Corona COVID-19.

"Pemerintah targetkan satu hari 10 ribu tes, kita akan melihat kondisi dan kurva sebenarnya," kata dia.

 

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓