ACT Jatim Beri Santunan kepada Keluarga Tenaga Medis COVID-19

Oleh Liputan6.com pada 22 Mei 2020, 11:14 WIB
Diperbarui 22 Mei 2020, 11:15 WIB
Ilustrasi tenaga medis/Unsplash Hush

Liputan6.com, Jakarta - Organisasi kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap Jawa Timur bersama kitabisa.com memberikan santunan kepada keluarga almarhumah Ari Puspita Sari, S. Kep.NS, perawat Rumah Sakit Royal Surabaya, seorang tenaga medis yang meninggal karena terinfeksi COVID-19.

Kepala Cabang ACT Jawa Timur Wahyu Sulistianto Putro menuturkan, Aksi Cepat Tanggap Jawa Timur bersama kitabisa.com memberikan apresiasi berupa santunan duka cita.

"Santunan ini tak akan senilai dengan pengorbanan Mbak Ari, ini adalah dukungan kami kepada keluarga agar ikhlas dan tabah dalam menghadapi cobaan," tutur dia, seperti dikutip dari Antara, Jumat (22/5/2020).

Ia menuturkan, suami Ari, Septian Rizaldi, tak sempat mengikuti pemakaman jenazah istrinya karena harus melaksanakan isolasi mandiri, sedangkan keluarga tidak dapat mengantar jenazah karena dilakukan pemakaman dengan prosedur COVID-19.

"Para pahlawan medis berada di garda terdepan dalam menangani pasien COVID-19, tak jarang tenaga medis juga terinfeksi COVID-19 ketika menangani pasien positif," ujar dia dalam keterangan tertulis.

2 dari 4 halaman

Selanjutnya

Ia mengatakan, saat penyerahan santunan duka cita, pada Kamis, 21 Mei 2020 ayahanda Ari menyampaikan terima kasih atas kepedulian terhadap almarhum putrinya. 

"Terima kasih telah peduli terhadap putri kami, kami yakin putri kami khusnul khotimah karena membantu sesama. Tak lupa saya juga mengajak masyarakat untuk membantu para tenaga medis dengan tetap di rumah saja, jangan memperberat tugas tenaga medis," ujar R. Njoko Wahyu Priadi, ayahanda Ari.

3 dari 4 halaman

Seorang Perawat di Surabaya Tutup Usia karena COVID-19

Sebelumnya, Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, Joni Wahyuhadi menceritakan tentang penyebab meninggalnya perawat RS Royal Surabaya yang sedang hamil, Ari Puspita Sari. 

Terkuaknya peristiwa ini setelah sang perawat dinyatakan positif terpapar COVID-19 ini diketahui setelah hasil tes swab PCR keluar. Sebelumnya saat dilakukan rapid test sebanyak dua kali terhadap Ari hasilnya negatif. 

Dengan meninggalnya perawat Ari, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim mengkaji supaya ke depan tidak ada lagi tenaga medis yang meninggal.

Hasil dari kajian menyebutkan penyebab meninggalnya sang perawat salah satu karena kehamilan. Sebab daya tahan perawat tersebut terus menurun, sebelum akhirnya dinyatakan meninggal pada Senin, 18 Mei 2020.

"Pihak rumah sakit sudah menyarankan agar perawat ini mengambil cuti sebelum meninggal, tapi dia tetap memaksa masuk alasan kemanusiaan," ujar dia, ditulis Rabu (20/5/2020). 

Namun, setelah beberapa hari masuk, Ari justru sakit dan mengalami gejala klinis seperti pasien COVID-19. Kemudian dilakukan rapid tes sebanyak dua kali, hasilnya negatif semua. Selanjutnya dilakukan tes swab PCR, dan hasilnya dinyatakan positif.

Joni menuturkan, ibu hamil rentan terjangkit COVID-19. Lantaran, imunitas tubuh mudah berubah. Sehingga orang hamil yang terkena COVID-19 risiko kematian lebih tinggi dibandingkan pasien COVID-19 yang tidak hamil.

"Orang yang punya risiko seperti hamil, hipertnesi, diabetes ini sangat berbahaya karena ia tidak punya ketahan tubuh anti gen virus. Dengan adanya kasus ini, masyarakat penting memahami fungsi dari PSBB. Karena salah satu fungsinya melindungi masyarakat, terutama yang memiliki penyakit bawaan," ucap Joni.

 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓