Tarawih Hari ke-30 Dipersilakan Allah Masuk Surga

Oleh Erik Erfinanto pada 22 Mei 2020, 03:00 WIB
Diperbarui 22 Mei 2020, 03:00 WIB
Liputan 6 default 5
Perbesar
Ilustraasi foto Liputan 6

Liputan6.com, Jakarta Salat Tarawih adalah salah satu ibadah khas saat Ramadan. Ramadan merupakan bulan suci yang dinanti kedatangannya. Di dalamnya terdapat sejumlah keutamaan di antaranya adalah mengerjakan Salat Tarawih.

Pada hari ke-30 bulan Ramadan ini, orang yang mengerjakan Salat Tarawih akan dipersilakan masuk surga oleh Allah SWT. Keterangan itu termaktub dalam kitab Durratun Nasihin karya Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir al-Khaubawiyyi.

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّلاَثِيْنَ يَقُوْلُ اللهُ ” يَاعَبْدِى كُلْ مِنْ ثِمَارِ اْلجَنَّةِ وَاغْتَسِلْ مِنْ مَاءِ السَّلْسَبِيْلِ وَاشْرَبْ مِنَ اْلكَوْثَرِ مِنَ اْلكَوْثَرِ اَنَارَبُّكَ وَاَنْتَ عَبْدِى

"Pada malam yang ke-30, Allah SWT berfirman (kepada orang yang megnerjakan Salat Tarawih): “makanlah buah-buahan surga, mandilah dengan Air Salsabil dan minumlah dari Telaga Kautsar, aku adalah Tuhanmu dan Engkau adalah hamba-Ku'," tulis Syekh Utsman dalam kitabnya.

Masjid menjadi pilihan utama dalam mengerjakan Salat Tarawih. Namun, jika tidak memungkinkan karena ada bencana atau halangan tertentu, maka mengerjakannya di rumah juga diperbolehkan.

Seturut protokol kesehatan di tengah wabah virus corona COVID-19 ini, mengerjakan salat Tarawih secara berjamaah di masjid dapat menimbulkan bahaya, yaitu penularan. Penularan virus corona begitu cepat dimungkinkan melalui cipratan doplet antar-manusia.

Salat Tarawih bisa dikerjakan sendiri-sendiri atau berjamaah dengan anggota keluarga di rumah. Pada dasarnya tidak ada aturan yang mewajibkan mengerjakan Salat Tarawih berjamaah.

 

2 dari 3 halaman

Mengenal Kitab Durratun Nasihin

Hukum Sholat Tarawih
Perbesar
Ilustrasi Waktu Maghrib Credit: pexels.com/Konevi

Kitab Durratun Nasihin merupakan salah satu kitab penting dalam dunia pesantren di Indonesia. Kajian tentangnya terus dilakukan demi mencecap hikmah dan kebijaksanaan dalam menjalani ibadah.

Durratun Nasihin dalam Bahasa Arab berarti mutiara para penasihat. Sesuai judulnya, kitab ini menghimpun sejumlah nasihat, peringatan, hikmah serta kisah-kisah menarik terkait kehidupan dunia dan akhirat.

Dalam pembukaan kitab ini, pengarangnya mengatakan bahwa dirinya merupakan salah satu ulama yang tinggal di Konstantinopel. Tak ada keterangan mengenai tanggal kelahiran sang pengarang, namun diketahui bahwa ia meninggal pada 1824 M.

Syekh Utsman menyatakan bahwa dia melatari penulisan kitab ini lantaran masyarakat di tempat tinggalnya gemar dengan nasihat-nasihat. Timbul niat untuk menulis sebuah kitab yang berisi nasihat dan kisah-kisah.

Selain itu, dia juga ingin meluruskan cara orang-orang sekitar yang salah dalam menyampaikan nasihat. Maka, kitab ini juga bisa disebut sebagai sarana untuk membenarkan cara penyampaian nasihat yang keliru.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓