Mengenal Tari Boran dari Lamongan, Aktivitas Jualan Nasi Jadi Karya Seni

Oleh Erik Erfinanto pada 29 Apr 2020, 04:00 WIB
Diperbarui 29 Apr 2020, 12:32 WIB
20160428- Karnaval Hari Tari Dunia di Surakarta- Boy Harjanto

Liputan6.com, Jakarta - Hari Tari Sedunia atau International Dance Day merupakan gelaran tari tahunan global yang diselenggarakan setiap 29 April. Acara ini muncul berkat inisiatif dari Komite Tari dari Instit Teater Internasional yang merupakan mitra UNESCO dalam seni pertunjukan.

Tanggal 29 dipilih sebagai Hari Tari Sedunia lantaran tanggal itu merupakan hari kelahiran seorang pencipta balet modern bernama Jean-Georges Noverre yang hidup di Perancis antara tahun 1727-1810.

Tujuan dari perhelatan hari tari ini yaitu untuk merayakan tarian dalam skala besar, bersenang-senang dalam universalitas seni yang melintasi kepentingan politik, budaya dan etnis. Tarian merupakan bahasa universal yang dapat dipahami oleh semua orang, dikutip dari international-dance-day.org.

Selanjutnya, Liputan6.com akan membahas salah satu jenis tari yang berasal dari Jawa Timur, tepatnya dari Kabupaten Lamongan, yaitu Tari Boran. Tari ini menggambarkan aktivitas penjual nasi boran, seperti berinteraksi dengan pembeli.

Dikutip dari berbagai sumber, Tari Boran ini diilhami oleh penjual nasi boran, sebuah sajian kuliner terkenal di daerah Lamongan. Para penjual nasi boran ini menjajakan dagangannya menggunakan wakul atau tempat nasi dari bambu yang dipanggul di kepala.

Para penjual nasi boran ini berkeliling menjajakan dagangannya dengan cara berjalan kaki. Jika terik matahari di siang bolong sedang menyengat, mereka kepanasan, jika hujan, bisa jadi dangannya basah kuyup.

Dari perjuangan penjual nasi boran dalam mengais rezeki ini muncul sebuah tarian untuk menghargai jerih payah mereka. Seniman di Lamongan pun mencoba memberi apresiasi kepada penjual nasi boran ini dengan membuatkan tarian jenis baru.

 

 

 

2 dari 3 halaman

Keindahan Tari Boran

20160428- Karnaval Hari Tari Dunia di Surakarta- Boy Harjanto
Peserta mengenakan busana eksentrik saat mengikuti karnaval pembukaan Hari Tari Dunia di kampus ISI Surakarta, Kamis (28/4). Sejumlah penari akan berpartisipasi menari selama 24 jam. (Liputan6.com/Boy Harjanto)

Tari Boran mengandalkan kekompakan antar penari. Tujuannya, untuk membentuk sebuah formasi yang apik sehingga menciptakan nilai seni tinggi. Tarian ini sangat indah berkat kekompakan penarinya, sehingga nampak formasi tarian yang elok.

Dari sisi gerakan, Tari Boran cenderung sederhana, tidak banyak gerakan yang rumit dan mengandalkan kecepatan seperti Tari Saman. Ini hanya menunjukkan aktivitas penjual nasi yang sederhana, menyiapkan makanan hingga menjualnya ke pelanggan. Namun, di balik itu semua, terkandung nilai seni dan filosifi tinggi.  

Ritme tarian ini kadang cepat tetapi juga kadang melambat, disesuaikan dengan alur cerita yang ditampilkan. Tujuannya agar pesan yang terkandung dalam tarian tersebut dapat dipahami dengan mudah oleh penonton.

Tarian ini juga mengandalkan unsur musik yang kental, pada setiap gerakan tariannya, selalu diiringi oleh alunan musik gamelan tradisional Jawa Timur. Musik dalam tarian ini juga berfungsi sebagai penyelaras gerakan, agar terllihat semakin dimanis dan kompak.

Untuk busananya, para penari mengenakan pakaian tradisional, yaitu baju kemben berlengan panjang. Sementara bagian bawah menggunakan celana panjang seperti kebaya atau kain batik khas Lamongan. Kemudian mengenakan penutup kepala sekaligus bakul yang diletakan di atas kepala. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓