BMKG Juanda: Surabaya Berpeluang Hujan Disertai Petir pada Sore Hari

Oleh Agustina Melani pada 03 Mar 2020, 11:41 WIB
Diperbarui 03 Mar 2020, 11:41 WIB
20160308-Ilustrasi Hujan-iStockphoto

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda memprediksi Surabaya, Jawa Timur, akan mengalami hujan hingga sore hari pada Selasa (3/3/2020).

Mengutip Instagram @infobmkgjuanda, Surabaya akan mengalami hujan disertai petir pada pukul 16.00 WIB. Sedangkan pada pukul 13.00, Surabaya alami hujan lokal. Surabaya pada malam hari masing-masing pukul 19.00 dan 22.00 WIB, akan alami cerah berawan. Suhu berkisar 25-33 derajat Celsius dengan kecepatan angin 30 derajat Celsius. Kelembapan udara 6-95 persen.

Pada siang ini, sejumlah wilayah di Surabaya alami hujan lokal dengan suhu udara 33 derajat Celsius. Kelembapan udara 65 persen dengan arah kecepatan angin 30 km per jam dari arah barat. Kecuali di Pakal akan berawan dengan suhu udara 33 derajat Celsius. Kelembapan udara 65 persen.

BMKG Juanda juga merilis peringatan dini tiga harian untuk wilayah Jawa Timur. Pada 3 Maret 2020, waspadai hujan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang pada siang hingga sore antara lain di Surabaya, Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto, Magetan, Trenggalek, Tulungagung, Kabupaten Blitar, Kota Blitar, Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo dan Situbondo. Sedangkan pada malam hari di Probolinggo.

2 dari 3 halaman

BMKG: Puncak Musim Hujan hingga Maret

20160308-Ilustrasi Hujan-iStockphoto
Ilustrasi Hujan (iStockphoto)

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan cuaca ekstrem di Indonesia akan berlangsung hingga Maret 2020.

"Kalau menurut prediksi BMKG untuk wilayah Indonesia terjadinya cuaca ekstrem tidak serempak, silih berganti. Rata-rata puncak musim hujan Februari-Maret, khusus DIY dan Jateng berlangsung pada Januari-Februari," kata Kepala BMKG Dwikora Karnawati di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa 11 Februari 2020.

Selanjutnya, ujar dia, di kisaran April-Mei sudah memasuki musim kemarau, transisinya adalah pancaroba.

"Untuk ancaman bencananya beda lagi, bukan longsor atau banjir tetapi angin puting beliung. Imbauan kami agar ini bisa diwaspadai oleh seluruh pihak," kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas 1 Semarang Tuban Wiyoso mengatakan lebih awalnya cuaca ekstrem yang menjangkau Jawa Tengah dibandingkan wilayah lain karena cuaca di Jawa lebih didominasi oleh pengaruh angin monsun.

"Ini terjadi pada kurun waktu Desember-Februari, puncaknya Januari-Februari. Angin monsun sendiri merupakan angin yang bertiup dari Asia ke wilayah Indonesia. Seperti angin darat, yaitu angin laut tetapi skala musiman, ini dipengaruhi oleh posisi matahari," kata dia seperti dikutip dari Antara.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓