Jarang Diketahui, Ini Makam Sunan Sendang Duwur di Lamongan

Oleh Liputan Enam pada 21 Feb 2020, 04:01 WIB
Diperbarui 21 Feb 2020, 04:01 WIB
Ilustrasi – Makam tua. (Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Jakarta - Selain Gresik, Lamongan juga merupakan daerah yang mempunyai tempat wisata religi. Di Lamongan, Jawa Timur terdapat makam salah satu Walisongo, yaitu Sunan Drajat.

Ternyata, di Lamongan tak hanya ada makam Sunan Drajat. Terdapat salah satu sunan juga yang dimakamkan di sini, yaitu Sunan Sendang Duwur.

Mengutip laman web lamongankab.go.id, Sunan Sendang Duwur memiliki nama asli Raden Nur Rahmad. Ia hidup semasa dengan Sunan Drajat. Sunan Sendang Duwur wafat pada 1535 masehi, sedangkan Sunan Drajat wafat pada 1522 masehi.

Makam Sunan Sendang Duwur ini berada di Desa Sendang Duwur, Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Jika dari Wisata Bahari Lamongan (WBL), jaraknya sekitar empat kilometer.

Makam Sunan Sendang Duwur ini mempunyai bentuk yang lebih minimalis serta artistik dibandingkan dengan makam Sunan Drajat. Ketika hendak memasuki area pemakaman, terdapat gapura yang membentuk tugu bentar. Kemudian memasuki lebih dalam terdapat gapura paduraksa yang berhiaskan ukiran kayu jati dan terdapat dua buah batu hitam menyerupai kepala kala yang kental akan nuansa Hindu.

Letak Makam Sunan Sendang Duwur berada di area belakang, sehingga mengharuskan pengunjung untuk melewati gerbang kayu lagi.

Di sebelah makam, ada masjid besar yang berdiri kokoh dan dibangun pada 1531 masehi. Sunan Sendang Duwur pun berperan dalam pembangunannya.

Berdasarkan cerita, Sunan Sendang Duwur memindahkan sendiri masjid tersebut hanya dalam waktu satu malam dari Mantingan, Jepara, Jawa Tengah.

Namun, ada juga sumber yang menyebutkan, masjid ini diprakasai oleh Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur. Sebagian bangunan dari masjid ini sudah direkonstruksi karena sudah tua, tapi kontruksi aslinya tersimpan di dalam area makam.

 

2 dari 3 halaman

Sumur Giling

Selain makam dan masjid, di area ini dapat ditemukan sebuah sumur giling yang mempunyai ketinggian sekitar 35 meter. Dinamakan Sumur Giling karena cara kerja untuk menimba air adalah menarik kumparan tali yang diputar seperti gilingan.

Kemudian terdapat sebuah sumur kecil “paidon” yang mempunyai lebar tak sampai satu meter. Berdasarkan cerita beredar, sumur tersebut merupakan tempat untuk meludahnya Sunan Sendang Duwur karena dalam bahasa Jawa ludah disebut dengan idu, maka tempat meludah disebut paidon.

Ada yang menyebutkan, sumber air yang ada di sumur tak pernah habis. Warga setempat pun mengatakan air tidak pernah habis karena selalu diisi. Namun, banyak orang yang percaya air dari sumur tersebut mendatangkan banyak manfaat seperti membuat awet muda dan dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.

 

(Shafa Tasha Fadhila - Mahasiswa PNJ)

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓