VIDEO: Ulat Graya Serang Lahan Jagung di Brondong Lamongan

Oleh Agustina Melani pada 30 Jan 2020, 00:30 WIB
Diperbarui 30 Jan 2020, 00:30 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Akibat serangan hama ulat graya, ratusan hektar tanaman jagung yang masih berusia satu bulan di Lamongan, Jawa Timur, terancam gagal panen.

Meski petani sudah tiga kali melakukan semprotan massal, hingga menghabiskan dana Rp 1 miliar, tapi upaya tersebut belum membuahkan hasil.

Kondisi makin parah dengan serangan hama tikus yang jika dibiarkan petani terancam gagal panen, dan merugi miliaran rupiah. Ulat graya ini, ternyata menyerang sejak tanaman jagung masih berumur 12 hari.Salah satu lahan tanaman jagung yang mendapatkan serangan terparah terjadi di Desa Sendang Rejo, Kecamatan Brondong, Lamongan.

Saat ini tanaman jagung masih berusia satu bulan.  Lantaran, ulat graya tidak hanya menghabiskan daun, namun juga merusak batang tanaman jagung. Pembasmian hama ulat graya sudah yang ketiga kalinya dilakukan oleh petani Lamongan, namun belum membuahkan hasil.

Akibat serangan ulat graya, petani di 10 desa, Kecamatan Brondong, terancam gagal panen. Bahkan jika dibiarkan bisa merugi mencapai puluhan miliar rupiah.

"Upaya-upaya pengendalian sudah dilakukan oleh petani sudah sejak awal, karena memang sejak usia 12 hari jagung, itu sudah ada penetasan ulat baru," kata Khamim, Kepala UPT Dinas Pertanian Brondong.

Agar tidak semakin merugi, petugas dinas terkait menyarankan, selain rutin menyemprot, petani juga dianjurkan menanam pohon penangkal yang bisa membunuh maupun membasmi penyebaran telur ulat graya yang sangat cepat.

Petani dibantu petugas Dinas Pertanian kabupaten, dan provinsi, serta petugas kepolisian Polsek Brondong Lamongan melakukan pembasmian dengan menyemprotkan obat pestisida. Meski sudah tiga kali dilakukan penyemprotan, tapi belum membuahkan hasil. Para petani mengaku rugi, apalagi biaya penyemprotan menghabiskan dana Rp. 1 miliar lebih.

Kondisi serangan hama ulat graya juga diperparah oleh serangan hama tikus, membuat petani semakin resah. Agar tidak semakin merugi, petugas dinas terkait menyarankan selain rutin menyemprot obat pestisida, petani juga dianjurkan menanam tanaman penangkal yang bisa membunuh maupun membasmi penyebaran telur ulat graya yang sangat cepat. Demikian diberitakan pada Liputan6, 27 Januari 2020.

Balai Besar Peramalam Organisme Penganggu Tumbuhan (BBPOT) Jatisari memverifikasi luas serangan ulat grayak di Jawa Timur. Tim BBPOT melakukan bimbingan teknis dan gerakan pengendalian ke lokasi serangan ulat grayak Spodoptera frugiperda (fall army worm) di Kabupaten Tuban dan Lamongan.

Tim mendapatkan kalau lokasi serangan ulat grayak di Kabupaten Tuban, Jawa Timur mencapai 683 hektar. Sementara itu, di Kabupaten Lamongan dari luas tanam 3.700 hektar, sedangkan luas serangam hama ulat grayak di Desa Brondong seluas 156 hektar (ha).

“Keadaan serangan periode 1-15 Januari 2020,” ujar Kepala BBPOPT Jatisar, Enie Tauruslina, seperti dikutip dari keterangan tertulis.